Saya Harus Menulis Buku tentang Apa?

Saya tidak menyangka jika buku yang saya tulis 2 tahun yang lalu masih memberikan banyak respon yang positif setelah 3 hari yang lalu saya bagikan dan dapat dibaca secara gratis di Storial.co. Bahkan ada beberapa pesan di inbox yang datang dari orang-orang yang belum saya kenal, mereka mengatakan bahwa kisah saya ada kemiripan dengan yang sedang atau pernah mereka alami. Kisah tersebut memberikan semangat bagi mereka yang membacanya. Buku saya tersebut berjudul ‘In the Eye of the Storm’, yang mengisahkan mengapa saya harus merantau di Jakarta.

Sekarang, saya sedang berencana menulis sebuah buku lagi–target saya 1 tahun, menulis 1 buku. Saya membutuhkan usulan dari teman-teman semua, jika saya harus menulis buku, buku tentang apakah yang harus saya tulis? Saya ingin buku baru saya ini dapat memberikan dampak positif bagi lebih bantak orang.

Saya mohon bantuan ide dari teman-teman semua.

Silakan tulis usulan ide tersebut di kolom komentar di bawah ini.

Ada hadiah menarik menanti bagi yang memberikan ide yang terpilih.

Ditunggu idenya.😉

Ide Hebat

Pagi ini aku terbangun dengan sebuah ide. Seperti sebelum-sebelumnya, setiap kali ada ide baru yang terlintas di kepalaku, langsung kutuliskan di ponsel. Kemudian memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan dengan ide tersebut. Biasanya, layaknya sebuah masakan. Ide awal adalah bahan mentah yang masih perlu diolah. Hingga membutuhkan waktu tertentu hingga masakan itu matang.

Sejenak kuberpikir bahwa akhir-akhir ini ada kebiasaan baru yang membuatku ‘sedikit’ produktif menulis. Aku mulai terbiasa menulis melalui ponsel. Praktis, tidak perlu duduk di depan meja komputerku. Aku hanya perlu membuka aplikasi menulis seperti Google Keep, lalu mulai menulis. Terutama untuk catatan-catatan penting dalam perjalanan hidupku. Meski tidak banyak yang aku ‘publish’ di media sosial. Kamu tahu, kan? Untuk menulis sesuatu itu butuh keberanian. Tetapi untuk membagikannya ke publik melalui media sosial itu butuh keberanian tujuh kali lipat, menurutku. Kenapa tujuh kali lipat? Karena aku suka angka tujuh, tidak ilmiah memang. Tapi siapa yang peduli?

Balik lagi ke ide yang membuatku merasa antusias sekarang. Menurutku, sebuah ide baru tidak melulu ide yang benar-benar baru. There’s nothing new under the sun, kan? Tidak ada ide yang benar-benar baru. Seringkali malahan itu adalah ide lama, yang sudah banyak orang melakukannya. Tetapi jika ‘dimasak’ dengan ide-ide lainnya, diberikan bumbu-bumbu lain secukupnya, dimasak dengan api yang tepat, maka, voila! Jadilah ide yang menarik untuk dilakukan. Setidaknya doable. Itu faktor terakhir yang penting dalam sebuah ide, bahwa ide tersebut dapat dikerjakan. Karena banyak sekali ide yang hebat yang tidak dapat dikerjakan karena terlalu rumit.

Tahu gak hal apa yang paling menyedihkan yang dilakukan terhadap sebuah ide? Ini: Ide hebat yang tidak pernah dikerjakan. Hanya terhetak di sebuah sudut ruang impian kita. Lama tak tersentuh, akhirnya berdebu, berkarat dan akhirnya terlupakan. Setiap orang pasti pernah memilikinya. Sebuah ide yang tidak pernah kita kerjakan hanya karena kita kurang gigih, dan takut gagal. Adakah yang lebih menyedihkan dari itu? Tidak ada.

Hidup hanya sekali. Kerjakan idemu sesegera mungkin. Mungkin itu adalah impianmu. Impian terbesarmu. Dan mungkin saja itu adalah rencana Tuhan yang telah disiapkan sejak lama untukmu. Untuk itulah kita diciptakan, untuk mengerjakan rencanaNya di dalam diri kita, yang telah lama menunggu untuk diwujudkan. Punyailah keberanian itu.

Prolog. Too Much Love Will Kill You. #NulisRandom2015

“Akan ada suatu masa di mana semua orang sudah muak dengan kemacetan kota, kebisingan suara kendaraan bermotor dan jeritan klakson-klakson yang tak tahu sopan satun itu. Ketika kemacetan sudah berada di titik nadir, maka pemerintah akan memberlakukan pelarangan,” ia berhenti sejenak. Sambil mengamati beberapa pasang mata yang terlihat mengantuk, yang tertuju padanya di kelas pagi itu. Dengan sekali tarikan napas, kemudian melanjutkan, “Bukan hanya pembatasan tetapi pelarangan,” tegasnya sekali lagi. “”Pelarangan penggunaan transportasi di beberapa area tertentu, terutama di jantung kota. Dan di sanalah orang-orang akan membiasakan diri dengan berjalan kaki, dan banyak orang akan mulai belajar menggunakan sepeda. Para pengusaha akan banyak membuka cafe-cafe di sepanjang jalan itu.” Ia menyelesaikan lanturannya dengan nada menggantung kemudian mengganggukkan kepalanya untuk memberi tanda bahwa penjelasannya sudah selesai.

Seisi penghuni kelas pagi itu hanya tertegun. Termasuk dosen kelas bisnis pagi itu.

“Banyu, karena pagi ini adalah kelas bisnis, dan bukan kelas mengarang bebas, jadi apa kesimpulan dari penjelasanmu tadi?”

“Setelah kelas ini selesai, saya akan langsung memulai bisnis saya yang pertama, bu” katanya mantap, dia tidak ingin terlihat bodoh di hadapan gadis berambut pendek yang yang duduk di depan bangkunya, gadis yang selama ini menjadi tokoh utama cerita dalam imajinasinya.

“Bisnis apa itu?”

“Saya akan membuka bisnis kursus belajar naik sepeda, untuk anak-anak maupun orang dewasa.”

Sontak saja seisi kelas terdengar gaduh. Kebanyakan dari mereka mencemooh ide yang terlihat dangkal itu.

Namun tidak dengan gadis berambut pendek yang yang duduk di depan bangkunya. Senyumnya mencerminkan kekaguman yang terpendam. Bagi Banyu itu adalah sebuah pertanda.

Mereka yang sejak kecil dididik untuk selalu menaati peraturan, maka ketika peraturannya adalah tidak ada peraturan, mereka pasti akan bingung, serasa tidak mempunyai pegangan. Mereka lupa mempunyai kaki dan otak untuk berdiri dan berpikir. Mereka lupa bahwa kemewahan menjadi manusia adalah berimajinasi dan berkarya seni. Mesin bisa berpikir, namun manusia berimajinasi.

Kreativitas adalah mengenai keberanian melanggar aturan dan kebijaksanaan adalah mengetahui perbedaan antara yang boleh dilanggar dan tidak boleh.

View on Path

Persiapan #NulisRandom2015. Karena Menulis itu Tidak Mudah

Pekerjaan menulis seringkali disepelekan, karena banyak yang menyepelekan itulah yang menyebabkan banyak yang merasa tidak perlu melakukan persiapan. Toh jika gagal tidak akan sampai mempertaruhkan nyawa layaknya mendaki gunung Semeru, begitu mereka pikir.

Mendaki gunung seperti Semeru, gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut, tentulah butuh persiapan matang, bukan seperti yang telah digambarkan oleh film 5cm. Jika gagal merencakan dengan matang, nyawalah risikonya.

Meski tidak berisiko kehilangan nyawa namun mengikuti #NulisRandom2015, menulis setiap hari secara rutin selama satu bulan sebaiknya membutuhkan persiapan. Napas yang panjang adalah salah satu kebutuhan yang harus dipersiapkan. Siapkan buku-buku yang menarik untuk dibaca, baik buku fiksi maupun non-fiksi, kumpulkan film-film yang belum pernah kita tonton sebelumnya, benda-benda tersebut pasti akan menolongmu di tengah-tengah kebuntuan ide menulis. Jangan pernah percaya kepada perasaan, ia tidak bisa diandalkan. Selalu berubah-ubah. Sudah saatnya kita berlatih menjadi dewasa, orang dewasa mengerti betul bahwa perasaan dan logika harus dikendalikan sedemikian rupa supaya kita dapat mengambil keputusan dengan baik dan bijak, dan tidak menyesal dikemudian hari.

Tantangan #NulisRandom2015 bagiku adalah tantangan yang kedua yang pernah ku ikuti. Dan harus diakui bukan hal yang mudah untuk menyelesaikannya. Saya sudah membayangkan di tengah-tengah perjalanan nanti kita akan mengalami kejenuhan, mengalami buntu ide, merasa konyol dengan tulisan kita sendiri. Ingat ya, Aku sudah memperingatkan ini sebelumnya. tetapi jika kita nanti mengalami hal tersebut, ingatlah bahwa kita sedang tidak sendirian. Ada banyak rekan lain yang sedang melakukan hal yang sama. Yakinkan bahwa kita harus menyelesaikan tantangan ini. Jika kamu butuh dorongan semangat dari seorang teman, silakan mention saja saya di Twitter @byotenega. Setidaknya saya akan membalas, memberikan dorongan disertai tepukan di punggung, walau tentu saja secara virtual.

Kemarin, aku senang sekali ketika tantangan ini diumumkan begitu banyak teman yang antusias menyatakan kesediaannya untuk ikut bergabung. Namun, aku juga sudah mempersiapkan diri dan hati jika pada tanggal 30 Juni nanti hanya menemui segelintir saja yang berhasil menyelesaikan ‘pertandingan’ dengan baik, aku tetap akan berusaha memahami kesulitan mereka yang menyerah di tengah-tengah perjalanan. Toh setidaknya mereka sudah mempunyai niat meski hanya di awal saja. Agaknya dalil “Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” itu benar adanya.🙂

Sebelum memulai #NulisRandom2015, aku ingin mengatakan satu fakta lagi yang harus diketahui, bahwa menulis itu tidak mudah. Kok? Benar, karena jika menulis itu mudah pasti sudah banyak orang yang akan menjadi penulis. Meski hampir semua orang yang pernah mengenyam bangku sekolah itu bisa membaca dan menulis, namun hanya sedikit yang dikatakan bisa menjadi seorang penulis. Lalu mengapa menulis itu tidak mudah? Karena menulis itu berpikir. Berpikir itu, selain harus niat juga membutuhkan kemahiran, meski sebenarnya semua orang bisa mempelajarinya. Toh tidak banyak orang yang tahu tentang fakta itu. Mungkin penghalang terbesar kita ini hanyalah kemalasan. Sayangnya, kemalasan itu tidak ada obatnya.

Tahukah kamu segala pekerjaan yang menuntut kemampuan berpikir itu akan dibayar lebih mahal daripada pekerjaan yang hanya mengandalkan kemampuan otot, semakin mahir kemampuan seseorang untuk berpikir maka akan semakin dihargai. Oh iya, aku lupa. Teori ini mungkin tidak berlaku di Indonesia.

Selamat menulis. Selamat berpikir.
Jangan lupa bersenang-senang!

Facebook Page Saya Baru. Untuk Apa?

Saat pertama kali om Nukman Luthfie menganjurkan untuk membuat Facebook Page untuk pribadi, dalam hati saya tertawa, “Buat apa? Toh saya ini bukan merek, bukan brand penting, dan saya juga tidak ingin sok-sok-an dan gak ngoyo untuk melakukan pencitraan. Namun, 3 tahun setelah hari itu, tepatnya hari ini saya mulai menyadari bahwa mempunyai Facebook Page itu penting, meski kita bukan produk jualan—atau setidaknya memang tidak berniat untuk menjual produk. Kenapa?
Saya ingin akun Facebook personal ini benar-benar untuk teman-teman yang saya ingin ajak ngobrol, yang bisa akrab ngobrolnya seperti saat ‘njagong’ bareng di warung nasi, tempat di mana saya bisa ngobrol tentang kekhawatian saya, tentang kegalauan saya menjadi seorang suami juga ayah bagi kedua anak laki-laki saya tanpa harus jaim, saya ingin Facebook personal akun saya ini menjadi rumah pribadi. Saya tidak kuatir digunjingkan karena di rumah saya selalu diterima apa adanya.
Bagaimana dengan Facebook Page (Bukan akun Facebook personal) saya ini https://www.facebook.com/BrilliantYotenega ?
fungsinya adalah seperti website pribadi saya, segala hal yang berkaitan dengan bisnis, pandangan politik, hasil-hasil karya saya dan lainnya, yang tidak berhubungan dengan kegiatan personal saya akan ada di FB Page. Maka, tidak akan ada foto saya yang sedang memakai kutangan dan celana pendek sambil nggendong anak saya yang akan diposting di FB Page. Karena sebagai website pribadi, maka saya harus sedikit pencitraan lah ya atau istilah kerennya tujuan FB Page saya ini untuk personal branding. Jika FB personal saya adalah rumah, maka FB Page saya ini adalah kantor.
Jadi, Anda ingin berkunjung ke rumah saya atau ke kantor baru saya yang ini: https://www.facebook.com/BrilliantYotenega?
Jika di rumah, saya bisa saja tidak mengijinkan Anda masuk, namun jika berkunjung ke kantor saya, sudah pasti Anda akan selalu diterima dengan baik. Kecuali Anda selalu mengundang saya untuk bermain game online seperti ‘Candy Crush’ dan teman-temannya, sudah pasti saya akan menolaknya. Tetapi jangan sekali-kali mengundang saya untuk nonton film yang bagus, saya akan segera melompat dari kuri dan bergegas menyusul ke bioskop, apalagi jika gratisan.🙂