(Mungkin) Yesus Lupa: Sekali Lagi Tentang Cinta

Mungkin Yesus lupa—jika tidak bisa dibilang salah—ketika ia berkata, “Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi.” Hey, tunggu. Tidakkah Ia lupa bahwa tidak ada yang baru dari pernyataan tersebut? Tidakkan ia lupa bahwa sekitar 1.400 tahun jauh sebelum Ia lahir, Musa telah menuliskan perintah ini? Perintah yang sama yang dapat kita lihat di dalam kitab Imamat? Apakah Ia lupa bahwa perintah untuk mengasihi sesama adalah perintah yang sangat dikenal oleh bangsa Yahudi sebelum Ia datang ke dunia? Apakah Ia lupa? Mungkinkah kali ini Ia salah?

Era yang kita hidupi ini, adalah era yang tidak pernah ada sebelumnya. kakek-buyut kita tidak pernah mengalami segala kemudahan yang kita alami di saat ini, terutama di sisi teknologi dan informasi. Informasi yang tersedia begitu masal dan mudah sekali diakses. Dengan hanya beberapa ketukan di papan tombol ponsel dan dalam waktu sepersekian detik kita dapat mendapatkan informasi yang kita butuhkan di internet. Asal, kita tidak malas mencari, menggunakan kata kunci yang tepat dan melakukan cek-ricek kembali informasi tersebut, dijamin puas akan hasilnya.

Benarkah semua informasi yang sudah kita dapatkan dengan cermat tersebut selalu benar? Saya tidak yakin. Ingat, beberapa waktu lalu ketika Indonesia memasuki masa-masa penting, yaitu saat masa kampanye pemilihan presiden, kita dengan mudah dibenturkan oleh oknum yang tidak ingin Indonesia hidup damai. Hanya dengan beberapa jurus akrobat kata dalam sebuah tulisan sudah mengakibatkan salah tafsir yang akibatnya membelokkan fakta, dan merugikan orang lain.

Kembali ke perkataan Yesus yang (mungkin) salah tadi, jika saya hanya menyebutkan sebagian saja dari keseluruhan pernyataannya maka saya mungkin sudah berhasil membuat beberapa orang setuju dengan pendapat saya bahwa Yesus (akhirnya pernah) lupa—jika tidak bisa dibilang salah.

Mari kita lihat kembali kejadian ketika Ia memberikan pernyataan tersebut.

Malam itu Yesus sedang makan bersama sebelum hari raya Paskah, tiba-tiba Yesus berdiri, menanggalkan jubahNya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh dan menyeka kaki murid-muridNya satu-persatu! Muridnya terbengong-bengong melihat kejadian dramatis itu. Bagaimana tidak terbengong, bagi mereka Yesus adalah seorang Guru dan Tuhan! Bagi mereka Yesus adalah Tuhan si empunya segala kuasa di Sorga dan di bumi, namun kini mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri Ia rela membungkuk-bungkuk layaknya seorang petani yang menanam benih di sawah, ia membasuh kaki mereka semua di malam yang dingin itu! Sungguh membuat mereka kehilangan nalar. Belum hilang keterkejutan mereka, Yesus kemudian beberapa kali memberikan pernyataan-pernyataan yang memang baru mereka dengar malam itu, bahkan tentang hal-hal yang belum mereka pahami mengenai pertanda bahwa Ia akan meminum cawan terpahit selama hidupnya. Meski hanya Ia sendiri yang mengetahui bahwa saatnya telah tiba dan Ia harus segera kembali kepada BapaNya meninggalkan murid-muridnya. Namun ada satu pernyataanNya yang aneh malam itu, Yesus berkata, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi.” Sebelum mereka protes dan mengerutkan alis sebab itu bukanlah perintah yang baru bagi mereka karena ribuan tahun sebelumnya Musa, nabi dan pemimpin mereka sudah menuliskannya, Ia melanjutkan, “Kasihilah sama seperti Aku yang telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Inilah perintah baru itu! Inilah perbedaannya.

Mengasihi seperti Yesus itu maknanya lebih dalam dari sekedar saling mengasihi. Kasih Yesus kepada kita bukan kasih hubungan timbal-balik yang saling menguntungkan, sama-sama senang, sama-sama menang. Kasih Yesus tidak seperti itu. Kasih Yesus kepada murid-muridnya, dan kepada manusia itu kasih yang menyiksaNya. Kasih yang menuntut pengorbanan habis-habisan. Kasih yang menuntut untuk selalu memberi lebih besar dari keinginanNya sendiri. Paulo Coelho bahkan dengan jenius menggambarkannya seperti ini, “Even God has a hell: his love of mankind.” Bayangkan, kasihNya kepada manusia membuatNya seperti di dalam neraka! Ketika saya merenungkan ini, saya tidak bisa berhenti heran, membayangkan betapi cintaNya sungguh besar kepada manusia. Betapa perintahNya yang satu ini seringkali tidak dipahami dengan baik dan terlupakan. Mungkin karena tampak tak logis, tak manusiawi.

Sebelum Yesus mengatakan perintah ini, tidak pernah ada perintah untuk mencintai sesama dengan sangat spesifik seperti yang Yesus katakan ini. Perintah inilah yang mendefinisikan arti sebenarnya cinta sejati. Perintah inilah yang memberi perbedaan bagi kehidupan mereka yang mengenalNya. Perintah yang seringkali membuat pengikutNya tampak naif, dan bodoh bagi mereka yang melihatnya, bagi dunia. Perintah untuk mencintai tanpa syarat. Titik.

10422038_10152991643576211_3321151281867541096_n

—Jakarta, 10 Februari 2015. @3:38 AM.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s