Rest in the Present and Look Forward with Hope

Kemarin saya menulis di status Facebook begini, “Pencuri kebahagiaan kita hari ini adalah penyesalan masa lalu dan kekhawatiran masa depan”. Yang pertama, ketika menulis itu pikiran saya langsung teringat pada suatu waktu ketika saya mendapat undangan dari sebuah perusahaan untuk mengikuti seminar di Bangkok beberapa tahun yang lalu.

Jika tidak salah ingat kami mempunyai waktu 3 hari di Bangkok, menginap di hotel berbintang di pusat kota dan naik pesawat sekelas Singapore Airlines. Tapi tahukah kamu? Selama perjalanan berkelas tersebut saya sama sekali tidak bisa menikmatinya dan sekarang pun tidak bisa menyebutkan hal-hal bagus yang terjadi ketika itu. Kenapa? Karena pada masa-masa itu pikiran saya terfokus pada bisnis yang sedang tidak berjalan dengan baik, dan terutama tentang masa depan sayang yang tampak gelap gulita.

Setelah beberapa tahun barulah saya menyadari kekeliruan—jika tidak bisa disebut kebodohan—yang telah saya lakukan. Seringkali saya, dan kita semua, melakukan hal yang sama. Kita kehilangan kesempatan untuk menikmati hal-hal baik yang terjadi hari ini karena pikiran kita tidak sedang berada di ‘saat ini’, kita gagal mengendalikan pikiran kita untuk tidak mengkhawatirkan di ‘masa esok’. Akibatnya kita tidak pernah merasa bahagia. Kapan pun itu. Karena pikiran kita selalu ada di ‘masa esok’ yang kita tidak pernah tahu apa jadinya.

Karena masa depan yang penuh misteri inilah yang mungkin mendorong beberapa orang untuk melakukan hal-hal yang dapat ‘mengintip’ masa depan. Dengan bertanya kepada orang-orang ‘pintar’ atau orang yang mempunyai kemampuan ‘membaca masa depan’ dengan kartu-kartu apalah itu namanya. Untuk melihat masa depan, katanya. Dengan harapan kekhawatiran mereka sedikit berkurang.

Herannya, selama ini saya belum pernah mendengar mereka yang pernah ‘mengintip’ masa depan itu berkurang kekhawatirannya, yang ada malah mereka semakin kencanduan ‘mengintip’ masa depan. Karena ingin mendapatkan petunjuk yang lebih lengkap, lagi, lagi dan lagi. Nah, sekarang kita tahu mengapa orang-orang yang pintar ‘mengintip masa depan’ itu mendapatkan penghasilannya. 🙂

Yang kedua, pencuri kebahagiaan hari ini yang juga sering kita temui adalah penyesalan masa lalu. Pagi ini adalah hari yang absurd bagi saya. Pada saat hampir bersamaan saya memberikan ucapan selamat kepada salah seorang sahabat yang mendapatkan gelar doktornya dan memberikan selamat kepada seorang sahabat yang akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari studi doktornya yang sudah bertahun-tahun belum diselesaikan. Terlepas dari hasil yang berbeda itu saya tetap menaruh hormat kepada kedua sahabat saya yang telah melalui ujian tersebut.

Kemudian saya melihat diri saya di depan cermin.

“Kamu, sekolahnya kapan?” pertanyaan itu muncul dari sosok yang ada di dalam cermin kepada saya.

“Aku dulu pernah kuliah sarjana, tapi tidak sampai selesai. Lalu kamu mau apa?”

“Gak nyesel?”

“Pernah sih nyesel, tapi sekarang sudah enggak,” jawabku percaya diri.

“Serius? atau hanya usaha mencari pembenaran?”

“Serius. Tahu gak? Karena aku gak pernah lulus inilah yang membuatku harus belajar setiap saat. Karena bagi beberapa orang, mendapatkan ijasah adalah alasan supaya tidak lagi belajar. Sedangkan aku? Karena tidak pernah punya ijasah, jadi tidak punya alasan untuk berhenti belajar, kan?”

“Ah gombal, lu!”

Saya tertawa nyengir. Saya sudah membiasakan diri untuk tidak mengingat-ingat semua hal yang telah terjadi di hari kemarin. Karena saya tahu hal itu akan merampas kebahagiaan saya hari ini.

Semua hal negatif itu memerlukan lebih banyak ruang di dalam pikiran kita, akibatnya manusia lebih teringat peristiwa-peristiwa negatif daripada yang positif. Sebuah contoh kecilnya adalah, kita lebih ingat peristiwa ketika kita kehilangan handphone seharga 2 juta Rupiah, daripada peristiwa ketika mendapatkan uang 2 juta Rupiah. Padahal kita mendapatkan gaji 2 juta Rupiah setiap bulannya, namun hal itu seperti terabaikan. Kita lebih menyesali kelalaian kita saat kehilangan handphone tersebut, dan selalu kita ingat terus-menerus.

Kebenaran lain yang saya pelajari hari ini adalah, bahwa Tuhan tidak pernah terkejut dengan apa yang sudah, sedang, dan akan kita lakukan di hidup ini. Karena dia Maha mengetahui segalanya, bahkan sebelum dunia ini direncanakan. Hebatnya lagi, Dia tidak pernah memerintahkan kita untuk selalu melihat kebelakang, dan menyuruh kita mengalami kesedihan yang mendalam. Karena Dia mengerti dan peduli semua hal yang kita hadapi, and He saved us. It’s time to move forward.

Sangat mudah menemukan pahlawan-pahlawan iman yang pernah gagal dalam hidupnya, dan rencanaNya dalam hidup mereka tetap berjalan sempurna. RencanaNya tidak pernah gagal hanya karena kebodohan kita di masa lalu. Rest in the present and look forward with hope. Nothing in your past can thwart God’s plan.

Seperti Paulus pernah menuliskannya dengan indah, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s