Mengapa Harus Menulis dan Menerbitkan Buku?

Mengapa kita menulis buku?

Sejak jaman nenek moyang, tidak pernah ada yang memberikan wangsit atau pewahyuan bahwa semua orang sebaiknya harus menulis buku, minimal satu buku selama hidupnya. Tidak ada. Juga, tidak ada yang akan memberikan denda kepada kita jika tidak menulis sebuah buku pun selama kita hidup.

lalu mengapa tiba-tiba saya ingin menulis buku tentang hal ini? Apa untungnya menulis buku bagi kita? Apa untungnya bagi keluarga kita? Atau jika lebih besar lagi, apa untungnya bagi bangsa Indonesia?

Akan saya jelaskan. Pertama kali kita harus samakan persepsi dengan arti kata untung. Jika keuntungan bagi Anda adalah berupa uang. Jawabannya bisa iya dan bisa tidak. Karena menulis sebuah buku mungkin saja tidak bisa mendapatkan uang banyak dan cepat. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa jika buku kita laris manis di pasaran, kita akan dengan segera menjadi miliarder dan menjadi selebritis yang terkenal seantero jagat raya. Layaknya J.K Rowling, penulis kisah Harry Potter itu.

Apabila arti keuntungan bagi Anda tidak hanya sekedar uang, maka saya bisa menjawab dan menjelaskan banyak hal mengenai keuntungan menulis sebuah buku.

Saya tidak suka menjanjikan hal-hal yang terlalu berlebihan, maka saya akan menjelaskan keuntungan yang realistis dan pasti bisa dirasakan oleh penulis sebuah buku.

Saya akan memulai menjelaskannya dengan sebuah cerita mengenai buku yang sudah saya tulis.

Buku pertama yang saya tulis adalah buku kumpulan cerita pendek yang ditulis keroyokan. Buku tersebut adalah kumpulan postingan notes di Facebook dan uniknya buku itu menggunakan bahasa suroboyoan, bahasa yang saya gunakan di kampung halaman. Ketika itu adalah tahun-tahun awal saya merantau di jakarta. Merasakan sedikit culture shock di ibukota, saya rindu bahasa suroboyoan. Maka saya postinglah kisah sehari-hari yang saya alami saat merantau dengan bahasa suroboyoan. Hasilnya? Banyak teman-teman Facebook saya menanggapi dengan antusias.

Bahkan saya berkenalan dengan teman-teman lain dari Surabaya yang kebetulan merantau. Dan terkumpul 8 penulis yang juga perantau di 5 negara, berada di 6 kota, dan bersepakat membukukan tulisan-tulisan tersebut menjadi sebuah buku yang unik. Oh ya, supaya bisa dinikmati oleh lebih banyak orang maka kami juga menterjemahkan tulisan berbahasa Suroboyoan tersebut menjadi tulisan berbahasa Indonesia, jadi buku itu bilingual. Dua bahasa. Bahasa Suroboyo dan Bahasa Indonesia.

Tahukah bagaimana perasaan saya ketika memegang cetakan buku pertama tersebut? Rasanya luar biasa! Sungguh. Sampai-sampai saya membawanya tidur selama beberapa hari. Sebagai orang awam yang suka membaca buku, saya merasa gembira bercampur bangga ketika mendapati tulisan sendiri tercetak di lembar-lembar halaman. Sejak saat itu saya ingin sekali membagikan perasaan sukacita tersebut kepada banyak orang.

Judul buku saya yang pertama itu adalah ‘Merantau + Whatever’ dengan tagline: “Curhat Colongan: 8 penulis. 2 bahasa. 5 negara. 6 kota. 70 kisah. 2 cover. 1 buku.” Panjang ya? Buku tersebut kami jual hanya melalui online, dan kami terbitkan secara mandiri (self-publishing). Kami bahagia, setidaknya selama beberapa bulan tersebut kami menikmati sensasi mempunyai buku sendiri. Disamping bahagia karena berkarya dengan proyek tersebut akhirnya kami mendapatkan teman-teman baru, sampai sekarang pun kami masih saling sapa di Facebook. Dengan menerbitkan buku, kita mendapatkan teman dan relasi baru. Sungguh menyenangkan, bukan?

Buku saya yang kedua, adalah berjudul ‘In the Eye of the Storm’. Buku tersebut saya tulis setelah dua tahun saya mendirikan perusahaan online selfpublishing nulisbuku.com. Mengapa saya menulis buku itu? Begini. Yang pertama, saya benar-benar ingin menulis sebuah buku sendiri, tidak kolaborasi seperti sebelumnya. Keinginan tersebut sudah lama terpendam. Di nulisbuku.com, setiap kali saya menjadi ‘provokator’ bagi teman-teman supaya segera menulis dan menerbitkannya menjadi buku padahal saat itu saya belum mempunyai buku sendiri. Sebenarnya saya malu. Awal tahun 2013, saya berjanji dengan diri sendiri bahwa proyek menulis buku harus segera dimulai. Itu alasan pertama, saya sudah ingin sekali menerbitkan buku sendiri.

Alasan yang kedua, menurut saya alasan ini lebih melankolis. Ketika itu hampir memasuki tahun kelima saya merantau di ibukota Jakarta, dan sudah dikarunia dua orang anak; yang pertama bernama Arne, 5 tahun dan yang kedua, Ezee, 10 bulan. Saya membayangkan ketika anak-anak sudah besar nanti, saya ingin mereka mengetahui sejarah orangtua mereka merantau ke jakarta. Saya ingin mereka mengetahui dengan detail latar belakang dan segala pergumulan kedua orangtuanya ketika memutuskan untuk merantau. Saya ingin mereka mempunyai gambaran yang jelas mengenai hal tersebut. Alasan yang sangat personal. Dan, alasan itulah yang memotivasi untuk segera menyelesaikan tulisan tersebut dan menerbitkannya secara mandiri.

Akhirnya saya pun menuliskan kisah tersebut selama 11 hari. Hingga selesai. Setelah menuliskan kata terakhir dalam buku tersebut, tahukah Anda bagaimana rasanya? Luar biasa! Saya tidak berusaha melebih-lebihkan tentang hal ini, tetapi saya benar-benar merasakan kegembiraan yang sama ketika berhasil menulis buku yang pertama. Bahkan, kali ini kegembiraan dan kelegaan itu lebih besar karena saya berhasil mengalahkan diri sendiri. Mengapa saya berkata berhasil mengalahkan diri sendiri? Iya, banyak hal yang ingin saya lakukan biasanya terhalang oleh ketidakmauan diri sendiri, oleh kemalasan diri sendiri, bukan karena ketidakmampuan kita.

Setelah buku kedua saya terbit banyak sekali respon yang saya terima melalui email. Feedback yang saya terima lebih dari yang saya berani bayangkan. Beberapa orang yang belum saya kenal memberikan tanggapan dan berterima kasih karena kisah yang saya tulis sudah membuat mereka lebih bersyukur akan hidup yang mereka miliki. Bagi saya, respon mereka itu lebih dari cukup. Saya sungguh senang dan bersyukur dapat memberikan kontribusi kecil untuk kehidupan ini. Buku tersebut kini sudah bisa didapatkan di nulisbuku.com.

Salah satu penulis besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” juga ia berkata, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Semoga kutipan tersebut mengingatkan kita untuk segera menulis dan menerbitkannya menjadi buku.

Saya mempunyai satu saran yang manjur untuk memulai menulis: Mulailah menulis mengenai segala sesuatu yang Anda sukai dan Anda ketahui dan alami. Hal ini manjur bagi saya, dan berharap manjur juga untuk Anda.

Mari berkarya!

Iklan

20 thoughts on “Mengapa Harus Menulis dan Menerbitkan Buku?

  1. Bener pak. Saya saja saat tulisan saya dibaca oleh teman-teman ataupun orang lain, itu senengnya udah luar biasa, apalagi bisa nerbitkan buku. Woow! Doakan saya supaya bisa nerbitkan buku juga hehehe

      • terima kasih pak 🙂
        oh ya, barangkali bapak bersedia followback blog saya, jadi setiap kali saya posting akan merasa senang sekali bisa dibaca dan diberi kritik dan saran oleh bapak 🙂

  2. tulisan ni seperti cubitan untuk saya segera menulis buku yang sudah saya inginkan sejak lama tapi belum kesampaian juga…thx untuk tulisannya 🙂

  3. Bener sekali pak. Ada perasaan bangga dan terharu saat melihat tulisan kita dicetak di lembar-lembar buku. Itu juga saya rasakan saat cerpen saya bisa terbit dalam buku antologo. Yah, walaupun itu bukan buka saya melainkan buku rame-rame, tapi tetap saja ada perasaan bahagia di sana.
    Apalagi kalau buku sendiri yang terbit ya, entahlah bagaimana rasanya.
    Semoga kelak saya bisa punya buku sendiri juga…
    Nice post, pak 🙂

  4. sangat memotivasi, karena saya sendiri sedang ingin kembali menulis, tiga kali saya ikut dalam proyek keroyokan bahkan pernah juga ikut proyek nulisbuku (SUPS) dan ingin sekali menulis buku dan hanya nama saya yang tertulis sebagai penulisnya 😀
    Benar sekali, tulislah apa yang kita sukai dan alami. Terima Kasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s