Seseorang Yang Kupanggil Nenek

The difference between truth and fiction is fiction has to make sense.

Sejujurnya saya sedang mengalami kesulitan menulis sebuah novel. Kesulitan untuk menuliskan sebuah kisah yang menurut saya harus ditulis. Kisah yang harus diketahui oleh anak-cucu kelak. Kisah ini sudah terpendam bertahun-tahun. Namun tetap saja saya belum menulis satu katapun untuk memulainya. Bukan karena saya tidak mengatahui bagaimana memulainya, saya bahkan sudah tahu bagian awal dan bagaimana mengakhirinya nanti. Yang membuat saya kesulitan adalah saya takut kisah ini terlihat tidak masuk akal untuk sebuah kisah nyata.

Pertama kali mendengarnya dari keluarga, membuat saya tidak bisa mengusir kisah ini dari dalam kepala begitu saja. Kisahnya membuat saya melihat dunia dengan cara yang sama sekali berbeda. Lebih daripada semuanya itu, kisah ini memberikan saya gambaran yang jernih mengenai arti kata kesetiaan.

Ini kisah mengenai seseorang yang sejak kecil saya panggil mbah, atau nenek dalam bahasa Indonesia. Namun setelah beliau meninggal dunia, kemudian saya mengetahui satu fakta yang mengejutkan. Ternyata beliau bukanlah nenek saya seperti yang selama ini saya anggap. Sedikit membingungkan, namun ada yang lebih membingungkan lagi bagi saya, bahwa ternyata nenek saya tersebut seorang pembantu rumah tangga dari keluarga kakek-nenek saya yang sebenarnya di Solo. Sebuah pertanyaan muncul, pertanyaan yang membuat saya berhasrat untuk menulis tentang siapa sebenarnya nenek saya ini.

Bagi kami ia bukan seorang pembantu rumah tangga biasa, ia seorang yang sangat dihormati di keluarga besar kami. Ia adalah seseorang yang berani melepaskan segala keinginannya untuk menyelamatkan sebuah keluarga yang ditinggalkan oleh sang pemilik karena kedua suami-istri, yang juga majikannya—atau kakek dan nenek saya yang sebenarnya— tersebut meninggal dunia di usia yang masih muda, dan meninggalkan 5 orang anak yang masih kecil. Tiga anak perempuan dan dua orang laki-laki. Anak yang keempat adalah ayah saya.

Setiap kali mendengar kisah pengorbanan yang telah dilakukan oleh ‘nenek’, saya selalu menggeleng-nggelengkan kepala. Bagaimana mungkin ada seseorang yang ingin melepaskan segala kenikmatan di dunia demi menyelamatkan sebuah keluarga yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengan dirinya. Betapa ia sanggup dengan rela untuk melepaskan kebebasan yang dimiliki demi mengikatkan diri kepada satu keluarga miskin di kota Solo. Bagi saya ia tidak hanya sudah menyelamatkan satu keluarga, bahkan satu generasi.

Ia melakukan perbuatan yang selama ini hanya bisa ditemui dalam tokoh fiksi, beliau adalah seorang pelayan yang telah mengabdi sejak umur 9 tahun hingga akhir hayatnya, seorang pemimpin keluarga, seorang sahabat, seseorang yang menolak cinta dari pria yang memberinya kesempatan untuk mempunyai rumah tangga sendiri demi untuk tetap bersama dengan keluarga kami, seorang yang selalu membuat kami bangga karena pernah diasuhnya. Seseorang yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah namun wawasan dan kebijaksanaannya membuatnya dihormati. Seseorang yang mengambil jalan kebahagiannya sendiri, jalan yang kini jarang dilalui oleh para wanita di jaman modern dan materialis ini.

Hingga akhir hayatnya tidak ada seorang pun yang tahu kapan tepatnya ia dilahirkan. ia tidak pernah berulang tahun. Ia tidak pernah memintanya. Ketika usia menggerogoti kesehatannya —di umur yang kami perkirakan sekitar 89 hingga 92 tahun, hanya satu permohonannya kepada Tuhan yang sempat kami dengar dalam doanya. Ketika ia terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang, ia mengucap lirih dalam bahasa Jawa, “Gusti, mbok kulo dipun pundhut.”— Tuhan, segeralah ambil (nyawa) saya ini. Doa singkat yang membuat mulut kami yang mendengar menjadi terkunci dan berusaha keras untuk tidak meneteskan air mata. Ia telah menjadi malaikat penolong yang dikirim Tuhan bagi keluarga kami ketika melewati badai besar yang memporak-porandakan sebuah keluarga. Wanita ini bernama sederhana. Hanya satu kata saja. Salinem. Nama khas orang jawa.

Hingga hari ini, saya masih kesulitan menuliskan kisahnya menjadi sebuah novel. Saya kesulitan menuliskannya tanpa terlihat melebih-lebihkan. Saya takut kisahnya terlihat seperti drama yang terlalu klise. Ketakutan terbesar adalah ketika kisah ini akan tampak tidak masuk akal. Walaupun suatu realita jika dituliskan seringkali terlihat tidak masuk akal. Prinsip sebuah sebuah kisah fiksi yang baik adalah kisahnya harus dapat diterima di akal. Menurut saya kisah ini sendiri sudah sulit diterima di akal saya.

Kemudian, sedikit keberanian terselip di dalam diri saya, ketika menyadari bahwa kisah Salinem ini adalah nyata, bukan fiksi. Saya kemudian sadar bahwa sudah sejak ribuan tahun yang lalu sebuah kisah nyata seringkali dianggap sebagai mitos atau fiksi oleh manusia. Karena kebenaran itu seringkali terlihat tidak masuk di akal manusia yang berotak cerdas. Untuk mempercayai sebuah kebenaran dibutuhkan sebuah lompatan iman, yang disebabkan keterbatasan volume otak manusia.

Semoga saya bisa menyelesaikan kisah Salinem ini hingga kalimat terakhir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s