Ribuan Puisi Untuk Mentari

Lampu mulai menyala. Satu meja kayu ukuran besar berwarna coklat berada di tengah-tengah ruangan. Dua kursi besi beralaskan spon hitam. Di salah satu dindingnya terdapat sebuah kaca satu arah berukuran cukup besar. Jika dilihat dari sisi dalam hanya terlihat seperti sebuah cermin besar.

Tidak lama, terbukalah pintu besi di ruangan itu. Dua pria berseragam mengantarkan satu orang pemuda berambut ikal, memakai kaos biru langit bertuliskan ‘Where Are You?’. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa tulisan di kaos ini adalah sebuah pesan tersembunyi untuk Mentari, kekasihnya.

“Kamu duduk di sini,” kata salah seorang pria berseragam polisi yang sudah terlihat memutih rambutnya sambil melepaskan borgol di kedua tangan pemuda berambut ikal itu. Kemudian ia memberikan tanda dengan jempolnya sambil mengangguk ke arah cermin besar di hadapannya.

“Sebentar lagi komandan kami akan langsung menginterogasimu. Sebaiknya kamu mulai membuka mulutmu jika semuanya ingin berjalan lancar,” katanya dengan nada sedikit mengancam. Tubuhnya sedikit lebih tambun dibanding rekannya. “Oh iya,” Buru-buru ia menambahkan. “Ingat, kamu hanya mempunyai waktu tujuh menit untuk melakukan percakapan yang akan ditayangkan di televisi bersama komandan. Kamu tahu? Sebenarnya kami tidak ingin melakukannya. Namun, seluruh masyarakat sudah membuat petisi untuk ini. Akhirnya kami memutuskan untuk berkompromi. Kami hanya bisa memberi mereka tujuh menit!” Ia mulai tidak bisa menyembunyikan kemarahannya.

“Disiarkan secara langsung di seluruh stasiun televisi nasional. Bahkan mereka juga mendesak TVRI untuk menyiarkannya secara langsung. Kami semakin tidak suka dengan media sosial. Mainan anak kecil yang tidak mempunyai pekerjaan!” Pria itu mengatur napasnya. Mencoba mengendalikan dirinya. Namun mukanya terlanjur memerah. “Satu saja pesanku. Jangan membuat kami malu di depan kamera. Kamu pasti tidak ingin mendengar bagaimana akibatnya jika kamu melanggar ini.”

Pintu besi berwarna gelap itu kembali terbuka. Tampak seorang pria berpakaian lengkap masuk ke dalam ruangan. Tubuhnya tidak bisa dikatakan tinggi. Perutnya menyembul seperti wanita yang sedang hamil tua. Tatapan matanya tajam. Hanya kumis hitamnya yang membuatnya ia tidak bisa ditertawakan sembarangan. Kedua polisi itu langsung menegapkan tubuhnya dan memberi hormat. Tampaknya, orang inilah yang mereka sebut dengan komandan.

“Kalian berdua silakan keluar.” Perintahnya tenang.

“Siap, komandan!” Jawab mereka serempak.

Ia melangkahkan kakinya mendekati meja. Menarik kursi kemudian duduk berhadap-hadapan dengan anak muda itu. Ia mengatur napasnya. Kemudian memberi isyarat dengan menganggukkan kepalanya kepada kamerawan yang dari tadi sudah bersiap yang berada di sebuah ruangan, di balik kaca satu arah di depannya. Isyarat yang menandakan detik pertama untuk siaran secara langsung yang sudah ditunggu-tunggu oleh jutaan orang boleh dimulai.

Detik pertama tayangan langsung dimulai. Lampu merah di atas lensa kamera mulai berkedip.

—Kamu tahu apa yang kamu lakukan, bukan?

—Saya tahu. Saya sudah merencanakannya sejak lama.

—Tiga tahun kami berusaha menangkapmu. Berkali-kali kami menjebakmu supaya tertangkap.

—Kalian terlalu lamban dan tidak pernah membaca buku.

—Apa maksudmu?

—Maksud saya sudah jelas. Saya membaca buku lebih banyak dari kalian. Atau mungkin saja kalian banyak juga membaca buku namun tidak pernah memahami pelajaran yang sebenarnya. Itu sebabnya semua langkah kalian sudah kuno. Mudah ditebak.

—Saya tidak suka mendengarnya. Anak muda jaman sekarang kebanyakan terlalu arogan.

—Kami hanya mengatakan sebuah kenyataan. Jaman sudah berubah. Memang tidak banyak yang menyadarinya.

—Apa motifmu? Mengapa setelah tiga tahun kamu tiba-tiba muncul di kantor kami dan menyerahkan diri?—

—Misi saya sudah selesai. Saya menghentikannya. Meskipun tujuan belum tercapai.

—Kamu beroperasi sendirian?—

—Saya melakukan semuanya sendiri.—

—Kamu sekarang sudah terkenal. Semua orang memuja-mujamu. Terutama para wanita. Apakah tujuanmu sudah berhasil? Sudah puas hingga kamu menyerahkan diri? Atau modalmu sudah habis?

Si Komandan polisi mulai mencecarnya dengan pertanyaan bertubi-tubi, sesekali ia melihat jam tangan di pergelangannya.

—Sebaiknya kamu menjawab semuanya dengan cepat. Waktu kita tidak banyak.

— Saya sudah mengatakannya sebelumnya. Saya menghentikannya. Meski tujuan saya belum berhasil. Saya menyerah. Dan, perlu Anda ingat, saya tidak membutuhkan ketenaran. Bukan itu tujuan yang sebenarnya. Anda tahu, untuk membeli ribuan pensil lagi modalku masih cukup.

—Lalu apa tujuanmu.

Ia mulai tak sabar. Suara gerak jarum jam di pergelangannya terdengar lebih keras.

—Saya sudah menyerahkan kepada kalian. Sebaiknya Anda membaca buku yang saya tulis itu. Semua catatan harian ketika saya melakukan aksi tersebut sudah saya tulis lengkap di dalam buku itu.

Pintu besi kembali terbuka. Salah satu pria berseragam tadi kembali masuk sambil membawa sebuah buku tebal. Lalu menyerahkan kepada sang komandan. Begegas ia berbalik dan keluar ruangan. Menutup pintu pelan-pelan.

—Apakah buku ini? Buku berjudul tiga puluh enam ribu seratus tujuh puluh depalan puisi untuk Men-ta-ri?

Seketika itu ia tertawa lebar.

—Jadi kamu melakukan semuanya hanya untuk ini?

Pertanyaan itu mempunyai tipe untuk tidak dijawab. Karena bernada merendahkan lawan bicara. Pria muda berambut ikal itu bergeming. Matanya terlihat kelelahan karena kantuk. Dia tahu benar apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak. Dia memilih tetap diam.

— Jadi aksimu tersebut tidak berhubungan dengan pemilu tahun depan?

—Tidak ada motif politik tersembunyi yang selama ini dicurigai oleh sebagian besar pengamat di televisi?

Kembali komandan polisi itu meledakkan tertawanya. Ada perasaan lega keluar dari ekspresi wajahnya. Selama tiga tahun masa pencarian ini nama baiknya dipertaruhkan hanya karena aksi anak muda itu.

—Satu lagi, Jadi kamu juga bukan salah satu agen dari pihak luar yang selama ini juga dituduhkan kepadamu karena telah mengotori kota ini?

Anak muda itu tetap tidak membuka mulutnya. Kali ini ia hanya menggelengkan kepalanya pelan. Napasnya masih teratur. Tidak ada tanda-tanda ketakutan sedikit pun.

Kembali terdengar suara tawa kelegaan yang keluar dari mulut sang komandan polisi itu. Kali ini dia sedikit lepas kendali. Tertawanya sulit dihentikan hingga terbatuk-batuk.

Tujuh menit berlalu. Waktu tayangan langsung yang disaksikan oleh jutaan orang itu sudah berakhir.

Kedua pria berseragam tadi kembali masuk. Membawa segelas air mineral untuk sang komandan. Kemudian keduanya kembali memborgol kedua tangan anak muda itu. Dan membawanya keluar ruangan.

Sementara itu.

Di luar gedung kepolisian sudah berkumpul semua awak media yang sedang meliput langsung peristiwa penting pagi itu. Mereka ingin sekali mengorek informasi secara cepat dan aktual.

“Permisa,” Seorang gadis cantik dengan wajah sumringah berbicara di depan kamera dengan sapaan khasnya. “Baru saja kita menyaksikan siaran langsung proses penginterogasian dari pujangga kita yang selama ini membuat seluruh masyarakat penasaran. Perlu digarisbawahi bahwa kita masih belum bisa mengetahui nama sebenarnya si pujangga. Mungkin karena ketebatasan waktu yang hanya diberikan selama tujuh menit. Namun, kita sudah saksikan sendiri bahwa wajah pujangga kita itu ternyata masih muda dan lumayan tampan juga,” Ia mengatakan demikian disertai dengan pipinya yang merona merah. Ia berusaha mengendalikan dirinya di depan kamera. Ini siaran langsung. Tidak boleh ada kejadian memalukan.

“Seperti kita ke ketahui bersama bahwa selama tiga tahun terakhir. Kota Jakarta dibikin gempar dengan hadirnya puluhan ribu puisi yang tertulis di seluruh dinding pada setiap ruas jalan di kota Jakarta. Namun anehnya, masyarakat tidak merasa marah dengan adanya tulisan-tulisan di tembok-tembok tersebut. Semua masyarakat bahkan ingin berterima kasih kepada si pujangga muda kita karena dengan hadirnya puisi-puisi tersebut seakan-akan memberikan oase bagi jiwa para warga kota yang selama ini kering karena disuguhi berita-berita politik yang membuat gerah dan mengubah jiwa kita menjadi kehausan.”

Moncong kamera berubah. Menuju tembok-tembok penuh coretan di sekitar gedung kepolisian.

“Sebanyak tiga puluh enam ribu seratus tujuh puluh depalan puisi yang telah tercipta selama tiga tahun, dan telah menyulap seluruh ruas jalan di jakarta menjadi obyek wisata bagi seluruh wisatawan,” suara presenter cantik itu melanjutkan reportasenya. “Entah sudah berapa kali lipat kenaikan pendapatan pemerintah kota karena kejadian ini. Seluruh masyarakat menyambut aksi ini dengan sukacita. Bahkan seluruh puisi-puisi ini telah dikutip dan dicetak di berbagai macam cindera mata. Mulai dari topi, kaos, sampul buku, stiker, gantungan kunci. Hampir semua bentuk cindera mata diperbolehkan mengutip puisi-puisi ini tanpa harus membayar sepeser pun royalti hak cipta kepada si pujangga. Pendapatan seluruh UKM naik berkali-kali lipat selama tiga tahun terakhir hanya karena penjualan cinderamata dari puisi-puisi ini.”

Kembali kamera menyorotkan moncongnya kepada gadis cantik salah satu presenter televisi swasta.

“Baru saja kami menerima informasi terbaru, bahwa sekarang ini di bundaran Hotel Indonesia, sedang terjadi unjuk rasa besar-besaran menuntut pembebasan tanpa syarat bagi si pujangga muda. Dilihat dari jumlahnya, unjuk rasa ini merupakan yang terbesar selama sepuluh tahun terakhir di jakarta.”

Di sebuah rumah yang tampak asri karena dikelilingi oleh sebidang taman yang cukup besar. Letaknya jauh dari keramian kota Jakarta yang sedang digegerkan oleh berita menyerahnya sang pujangga.

Rumah itu dipenuhi beberapa bunga yang tumbuh mekar. Beberapa sangkar burung menggantung di atap. Terjejer dengan rapi. Burung-burung itu mengeluarkan suara-suara kicauan pagi dengan merdunya. Di sudut salah satu kamarnya, tampak seorang gadis cantik, berambut hitam sebahu sedang bermalas-malasan, seolah tidak terusik sama sekali dengan berita yang sedang ramai dibicarakan banyak orang pagi itu. Ia melanjutkan membaca novel favoritnya.

Sudah tiga tahun ia mencoba menata kehidupannya. Berusaha menghadapi hari-harinya dengan lebih tegar. Ia telah belajar mengambil keputusan besar yang selama ini tampak sulit dibuat. Toh, akhirnya ia mampu melakukannya. Benar kata orang, “It always seems impossible until it is done.” Ia bangga telah menyelesaikannya. Ia bangga terhadap dirinya sendiri. Ia telah mengambil keputusan untuk putus hubungan dengan kekasihnya karena alasan yang tidak ia inginkan sebenarnya. Ia hanya ingin melihat kedua orang tuanya bahagia.

“Surprise!” Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Semua keluarga dan sahabat-sahabatnya muncul satu-persatu. “Selamat ulang tahun, Mentari! Semoga semakin dewasa dan cepat mendapat jodoh!” Sahabat-sahabatnya mulai usil. Mereka menggodanya sambil melirik kedua orangtua Mentari. Kedua orang tuanya pun tersenyum bahagia.

Mentari Sempat terkejut. Namun, ia akhirnya sadar bahwa hari ini ia berulang tahun. Ia tersenyum bahagia. Hampir lupa jika hari ini ia berulang tahun. Ia pun bersyukur masih mempunyai keluarga dan sahabat-sahabat yang selalu ada bersamanya.

Hingga siang menjelang hari itu, Mentari masih tidak menyadari bahwa tiga puluh enam ribu seratus tujuh puluh depalan puisi yang telah tercipta selama tiga tahun, yang tersebar di tembok-tembok kota Jakarta adalah puisi untuknya. Puisi yang diciptakan oleh seorang pujangga yang telah diinterogasi kepolisian pagi itu. Pujangga yang pernah menjadi kekasihnya. Tiga tahun lalu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s