Tunggu Aku di Jakarta

Kita berdua sudah tahu bahwa sore itu adalah sore terakhir yang bisa kita lalui bersama. Dan aku makin membenci waktu. Berharap sore itu bisa mengelabuinya. Sekali saja.

“Apakah kamu akan merindukanku?”

“Tentu saja.”

“Meski…”

“Meski kita jauh.”

“Kamu tetap menunggu?”

“Selalu.”

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?”

“Kamu tidak harus mempercayaiku. Kamu hanya perlu menungguku.”

“Sampai kapan?”

“Aku tidak tahu.”

Tidak tahu. Dengan mudahnya kamu mengatakan itu. Aku ingin sekali untuk tidak mempercayaimu. Meski aku tahu tidak bisa melakukannya. Aku adalah seseorang yang selalu saja mempercayai apa yang kamu katakan. Ya, aku memang bodoh. Seluruh dunia juga sudah tahu itu.

Kereta besi itu mulai bergerak perlahan. Pandangan mata kita tidak pernah lepas. Aku hanya berharap kamu tidak tersenyum di detik-detik terakhir ini. Karena pasti aku akan sulit untuk melupakan setelahnya. Dan,… Ah, sial! Kamu tersenyum juga. Kamu benar-benar mengerti kelemahanku. Sial!

Sementara kereta terus bergerak. Semakin lama semakin cepat. Aku berlari di samping kereta. Tidak ingin kehilangan senyumanmu hingga kereta menghilang dalam pandangan. Sudah kepalang tanggung melihat senyumanmu.

Sambil berlari aku melihat air matamu mengalir di pipimu. Namun aku masih tidak yakin benar, karena kamu melakukannya sambil tersenyum. Dimana ada seseorang yang sedang menangis sambil tersenyum, pikirku. Aku pun berusaha mendekati kaca jendela kereta sambil berlari lebih cepat, menyesuaikan dengan kecepatan kereta. Aku ingin melihatnya lebih dekat. Sialnya lagi, kaca kereta itu sedikit buram. Sehingga aku masih tidak yakin apakah kamu benar-benar menangis saat itu.

Kereta semakin meningkatkan kecepatannya. Aku mulai kepayahan mengikutinya. Sebenarnya aku masih tidak ingin kehilangan senyumanmu. Namun, selanjutnya aku tidak bisa mengingatnya lagi. Tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap. Dan, ketika terbangun, aku sudah berada di atas ranjang di sebuah ruangan penuh lampu dan dikelilingi oleh beberapa orang berjubah hijau dan memakai masker. Aku pun menyangka ini sebuah rumah sakit. Yang pasti di seluruh tubuhku terasa nyeri dan perih semuanya. Kaki dan tanganku tidak bisa digerakkan. Tetapi, masa bodoh dengan apa yang terjadi dengan diriku, pikirku.

Aku mulai mengingat-ingat lagi, detik-detik terakhir melepasmu pergi sore tadi. Aku teringat kamu masih melepaskan senyuman. Senyuman yang selalu membuatku mati kutu. Namun kali ini disertai dengan gelengan kepala kepadaku, ketika kereta semakin melaju dengan cepat. Dan, rasa penasaranku terjawab sudah ketika aku pun melihatmu menyeka pipimu dengan sapu tangan. Bisa aku pastikan kamu sedang mengeluarkan air mata. Kamu menangis sore itu. Aku sedikit lega. Yang masih membuatku tidak yakin adalah apakah kamu menangis karena aku atau karena sebab lain.

Aku tidak tahu.

Note: Dengarkan aku bernyanyi lagu ‘Tunggu Aku di Jakarta.’ Ini link lagunya:

4 thoughts on “Tunggu Aku di Jakarta

  1. wah ini salah satu lagu Sheila On 7 yang paling saya suka πŸ™‚

    Dan tulisan ini membuatku terinspirasi untuk ide tulisan menulis random hari ini, idenya sih sudah lama terpikirkan tapi belum sempat dituliskan, kalo udah selesai saya bagikan link blog saya ya mas ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s