Bertobat dan Mulai Membaca Buku Fiksi

Aku akan mengaku ‘dosa’. Jadi aku mohon jangan diketawain baca postingan ini.

Beberapa waktu lalu seorang sahabat heran mengapa sekarang aku banyak beli buku novel. Langsung saja dengan cepat aku menjawab kalo aku sudah ‘bertobat’. Sahabatku langsung tertawa.

Ini cerita sebelumnya.

Ketika masih sekolah aku beranggapan bahwa buku-buku novel itu bukunya anak cewek. Naif memang. Tapi keadaan tidak mendukung. Kegiatan anak-anak cowok di masa itu kalo gak nge-band, naik gunung, ya main basket. Diluar semua itu kurang jantang. Hehehe. Aku pilih ngeband. Lebih tertarik menonton MTV daripada membaca buku.

Semasa kuliah, aku mulai menyukai membaca buku-buku psikologi, pengembangan diri, rohani dan buku filsafat. Biasanya buku pinjaman dari teman atau perpus. Di masa itu juga mulai menyukai cerita-cerita inspiratif ala buku Chicken Soup. Hampir semua serinya aku pernah membaca.

Ketika mulai berbisnis, dan bisa membeli buku sendiri, aku mulai menyukai buku-buku bisnis dan marketing, buku-buku kepemimpinan, serta buku rohani. Terutama buku-buku bisnis dan kepemimpinan, aku hampir selalu membelinya. Aku bahkan mempunyai semua buku yang ditulis oleh John C. Maxwell! Meski tidak dibaca semua tentu saja. Cukup lama aku mengalami periode ini. Lebih dari sepuluh tahun!

Jadi, Jika di-review ulang, ini pengakuan dosanya: selama lebih dari lima belas tahun aku jarang, atau bahkan tidak pernah membaca novel fiksi. Buku-buku yang menemaniku hampir semuanya jenisnya non-fiksi. (Sekarang baru sadar, ternyata dulu aku sangat membosankan. Ternyata)

Dua tahun belakangan ini aku akhirnya ‘bertobat’. Aku mulai membaca buku-buku novel fiksi. Salah satu novel yang berkesan yang telah kubaca hingga halaman terakhir adalah ‘Veronika Decides to Die,’ novel karangan Paulo Coelho. Novel ini sempat membuatku berpikir untuk bunuh diri. Keren, kan?🙂

Terima kasih untuk teman-temanku yang sudah meracuni untuk membaca novel fiksi. Karena ketika membaca buku fiksi aku bisa belajar berempati dengan orang lain, bahkan aku bisa belajar kepemimpinan dari sana juga!

Setelah membeli dan membaca banyak buku novel fiksi, sekarang aku mulai tertarik juga untuk belajar menulis fiksi. Dan, Bermimpi suatu hari bisa mempunyai novel fiksi sendiri. Semoga.

Bagaimana dengan kalian? Sejak kapan membaca novel fiksi? Novel apa yang paling berkesan? Silakan dibagikan kisahnya..

4 thoughts on “Bertobat dan Mulai Membaca Buku Fiksi

  1. The Adventure Of Tom Sawyer-nya Mark Twain

    Hehehe…. buku fiksi pertama saya….
    dari kelas 2 SD mungkin ya?

    Nggak tahulah. Pokoknya itu buku yang meracuni saya sampai gila baca….hahaha….

    Selamat bertobat yah…😀
    *salaman*

  2. Saya suka membaca novel fiksi sejak tahun 2004, buku novel pertama saya yang saya beli Eiffel I’m Love-nya Rachmania Arunita. Sejak itu saya suka membeli dan mengoleksi buku dari penulis Agnes Jessica, Esti Kinasih, Dewi Lestari, Ika Natassa. Senangnya lagi kakak sepupu saya dan adik saya juga hobi baca novel jadi bertambahlah bahan bacaan saya.

    Buku novel yang membuat saya terkesan adalah Perahu Kertasnya Dewi Lestari, bahasa yang digunakan dalam novel ini berbeda banget dengan tulisan-tulisan Dee sebelumnya yang terkesan “berat”. Di novel ini bahasanya remaja banget, mudah dimengerti dan membuat saya bisa menebak akhir ceritanya. Tapi bukan Dewi Lestari namanya kalo gak bisa membuat emosi pembacanya teraduk-aduk rasanya seperti naik roller coaster, emosi saya bisa berubah-ubah dari yang ketawa, nangis, senyum. Akhir ceritanya pun membuat saya ga nyesel untuk membaca buku ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s