Tidak Berjudul

“Kegilaan apa yang pernah kamu lakukan?”

“Aku tidak pernah gila.”

“Kamu keliru. Setiap orang pernah melakukan kegilaan. Meski tanpa ia sadari.”

“Aku tidak mengerti yang kamu maksud. Oh, tunggu sebentar. Aku pernah dengan sengaja tidak belajar ketika menjelang ujian matematika. Apakah seperti itu?”

“Nah, itu yang aku maksud! Lalu, mengapa kamu melakukannya?”

“Bukan hanya aku saja. Kami berlima! Karena kami menghormati gurunya.”

“Apa maksudmu?”

“Kami sungguh ingin menghormati guru itu. Dia adalah guru yang paling aku sukai. Ketelatenannya mengajari kami, anak-anak paling nakal di sekolah, membuat kami hormat kepadanya. Setiap kali ia mengajar, kami berlima selalu memperhatikan dengan baik. Kemudian, pada suatu hari kami membuat kesepakatan bahwa diantara kami berlima tidak boleh belajar menjelang ujian matematika.” 

“Itu gila! Apa taruhannya?”

“Taruhannya, kami harus mendapatkan nilai sempurna. Seratus!”

“Lalu?”

“Saat kertas hasil ujian dibagikan, kami berlima benar-benar mendapatkan nilai seratus! Tentu saja seluruh kelas heran. Ada yang menuduh kami bersekongkol!”

“Hahahaha… aku tidak bisa membayangkan wajah teman-temanmu sekelas.”

“Ya, mereka semua kaget. Tetapi, sejak kejadian itu aku belajar, bahwa anggapan bagi banyak orang, anak-anak nakal tidak berhak mendapatkan sesuatu yang baik.”

“Iya, aku mengerti.”

“Dan, dunia seperti itulah yang sedang kita hidupi. Bersabarlah, kawan.”

“Kesabaran memang tidak berbatas. Ternyata.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s