Imagine

Aku membayangkan John Lennon. Ketika menulis lagu Imagine yang fenomenal itu ia sedang dalam keadaan mabuk anggur. Setelah beberapa hari sebelumnya ia merasa sangat marah. Marah terhadap apa yang ia sebut agama, marah terhadap negara, politik, dan kepada segala materi di dunia ini. Kenyataan yang tidak sama seperti yang ia imajinasikan.

Pada tengah malam di tahun 1971, ia pulang dari sebuah bar bersama kekasihnya Yoko Ono. Mereka kemudian berjalan sedikit sempoyongan, melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya. Membuka pintu dengan tidak sabar, setelah beberapa saat kebingungan mencari anak kunci di dalam tas Ono. Setelah melepaskan mantelnya, keduanya duduk di sofa. John mulai menyalakan televisi. Tayangan pertama yang muncul adalah seorang pria yang dengan penuh semangat berkotbah, “jangan pernah melupakan ritual ibadahmu!” kata pria di dalam televisi. Ia segera memindahkan saluran lainnya. Muncul sebuah acara berita, “Akibat dari peperangan ini, telah tewas sejumlah…,” cepat-cepat ia memindahkan saluran berikutnya. Sebuah tayangan demo para buruh muncul. Ia menggantinya lagi. “Jika saya terpilih pada tahun ini,….” Ia buru-buru menggantinya. “Belilah sekarang juga! Diskon separuh harga! Alat ini dapat membantu Anda..” John kemudian mematikan televisi.

Ia mulai kesal dengan dirinya sendiri. Mungkin dirinya sendiri tidak mengerti apa yang sedang ingin dilakukannya. “Tidak ada yang baru!” Ia mulai melantur. Beranjak dari sofa, membuka lemari es dan menutupnya kembali. “Benar-benar tidak ada yang baru! Sungguh membosankan!” Ia melanjutkan lanturannya. Sementara Yoko Ono, dengan mata memerah hanya menatapnya dari tadi tanpa beranjak. Belum berganti posisi duduknya sejak awal rebah di sofa.

John kemudian duduk di depan baby-grand pianonya yang berwarna putih.

“Ono, aku akan mempunyai sebuah lagu untukmu,” dengan suara seperti orang yang sedang mengigau.

“Apakah itu lagu cinta?”

“Suatu hari nanti, lagu-lagu cinta takkan laku dijual. Membosankan.” Ujar John, sembari memainkan intro sebuah lagu barunya.

Imagine there’s no heaven

It’s easy if you try

No hell below us

Above us only sky

Imagine all the people

Living for today…

Imagine there’s no countries

It isn’t hard to do

Nothing to kill or die for

And no religion too

Imagine all the people

Living life in peace…

You may say I’m a dreamer

But I’m not the only one

I hope someday you’ll join us

And the world will be as one

Imagine no possessions

I wonder if you can

No need for greed or hunger

A brotherhood of man

Imagine all the people

Sharing all the world…

You may say I’m a dreamer

But I’m not the only one

I hope someday you’ll join us

And the world will live as one..

John Lennon menyelesaikan lagunya.

Sebelum ia bertanya pendapat kekasihnya tentang lagunya itu, Ono sudah langsung menceletuk,

“John, aku pikir kamu sedang mabuk,” ujar Ono sambil beranjak menuju kamarnya dengan sedikit terhuyung.

“Iya. Memang.”

— Bandung, 17 Agustus 2013, 23:28 WIB
Iklan

6 thoughts on “Imagine

  1. hebat juga john lennon, mabuknya aja bisa bikin lagu bagus. apalagi pas sadar. tapi kasian dia, anggapan ttg agama bisa jadi salah, karena sampe saat ini masih banyak yg menumpahkan darah atas nama agama. dan anggapan itu benar bila tidak berbicara agama islam. sekarang banyak yg berani membunuh atas nama tuhan, agama, rakyat. gitu sajak mustofa bisri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s