Keberanian untuk Melayani Tanpa Terlihat

Seandainya pada suatu hari kita terpilih mendapatkan sebuah kesempatan berhadiah terbang ke Eropa, apakah kita akan senang? Tentu saja! Lalu, bagaimana jika tujuannya adalah suatu lokasi yang sangat menantang? Lokasi yang semua orang menginginkan untuk pergi ke tempat itu? Tentu kita akan sangat senang sekali. Merasa bangga pastinya. Dan, bagaimana jika tempat itu adalah suatu tempat yang belum pernah seorang manusia pun yang mengunjungi sebelumnya, bagaimana perasaanmu? Bangga, terharu, pokoknya luar biasa rasa bersyukurnya. Aku juga akan merasakan hal yang sama.

Aku sudah bisa membayangkan betapa merasa terhormatnya seandainya hal itu terjadi. Pastinya! Aku akan mengambil banyak foto untuk kemudian bisa diposting di Facebook, dan akan memposting status di Facebook dan Twitter setiap menit perjalanan menuju tempat yang luar biasa itu. Aku ingin seluruh dunia mengetahui betapa beruntungnya diriku mendapatkan kesempatan itu.

Namun, bagaimana jika ada satu syarat lagi untuk mendapatkan hadiah tersebut. Yang mungkin syarat tersebut akan sedikit mengecewakan — meski tidak memberatkan. Coba pikirkan dengan baik. Bagaimana jika salah satu syarat itu adalah tidak boleh keluar dari pesawat terbang ketika sudah tiba di tujuan. Benar, perjalanan itu akan tetap dilakukan, namun ketika tiba di tempat tujuan, kita tidak boleh keluar dari pesawat. Hanya boleh memandangi keindahan pemandangan tempat itu hanya dari lubang jendela pesawat. Bagaimana perasaan kita? Kecewa? Oh, tentu saja! Sebagai manusia normal hal itu pasti sangat mengecewakan.

Oh, ya, ada satu lagi fakta yang harus diketahui juga, bagaimana jika yang memenangkan hadiah itu sebenarnya bukan hanya diri kita seorang. Namun, ada dua orang lagi yang mendapatkan kesempatan melakukan perjalanan yang sama. Dan… bedanya, mereka boleh keluar dari pesawat. Mereka boleh menikmati pemandangan di lokasi itu, mereka boleh mengambil foto-foto diri sebagai bukti mereka pernah menginjakkan kaki di situ. Dan, tentu saja, dengan bukti foto tersebut maka seluruh media akan menempatkan foto kedua orang tersebut ke dalam sampul depan majalah-majalah terkenal di seluruh dunia. Kedua nama orang tersebut akan menjadi berita utama di seluruh dunia. Kedua orang itu akan menjadi terkenal! Sedangkan aku? Aku tidak terlihat di foto. Bahkan, mungkin dunia akan lupa mencantumkan namaku. Meskipun kenyataannya aku juga ikut dalam penerbangan itu.

Apakah aku tetap menerima hadiah itu? Terbang ke seuatu tempat yang tidak pernah dilakukan oleh manusia, tetapi hanya menikmatinya di dalam jendela pesawat? Mungkin aku butuh waktu untuk memikirkannya kembali. Mungkin sebuah penolakan adalah jawaban terbaik. Karena aku tahu, membutuhkan keberanian lebih untuk menerima konsekuensinya.

Pada tanggal 20 Juli 1969, tiga orang manusia telah kembali dengan selamat setelah menempuh perjalanan panjang dalam sebuah petualangan yang tidak pernah dilakukan oleh manusia sebelumnya. Mereka sangat ‘beruntung’ mendapatkan kesempatan menempuh perjalanan luar biasa itu, perjalanan pulang-pergi ke bulan dengan selamat. Diantara ketiganya, hanya dua orang saja yang boleh membuka pintu pesawat, melangkahkan kakinya keluar dan menginjakkan kakinya ke bulan. Sementara itu, hanya ada satu orang yang tetap tinggal di pesawat, ia tidak pernah menginjakkan kakinya di bulan, tidak memiliki jejak kaki yang konon tidak akan terhapus (selama 10 juta tahun yang akan datang!) dan tidak memiliki foto yang sedang berpose menancapkan bendera di bulan. Tentu saja.

Kedua astronot yang pertama kali menginjak ke bulan itu bernama Neil Alden Armstrong, siapa yang tidak mengenal namanya? Sejak Sekolah Dasar namanya menjadi salah satu hafalan wajib setiap murid — mungkin untuk anak-anak di seluruh dunia; Astonot kedua bernama Edwin Eugene ‘Buzz’ Aldrin, Jr, namanya juga termasuk yang selalu disebut ketika foto manusia pertama yang mendarat di bulan terpampang di media cetak. Bahkan, nama panggilannya ‘Buzz’ menginspirasi Pixar menamakan Buzz Lightyear, salah satu karakter terkenal dalam seri Toy Story.

Bagaimana dengan Michael Collins, astronot ketiga yang jarang kita dengar namanya itu?

Ia berangkat bersama kedua rekannya, namun Apollo 11 pesawat yang mengantarkan ketiga astronot tersebut didesain dengan memiliki 3 bagian: Modul pertama disebut Command Module, bagian ini adalah bagian paling penting, yang dipiloti oleh Michael Collins, dan satu-satunya bagian pesawat yang akan mengantarkan ketiganya kembali ke bumi; Modul kedua disebut Service Module, bagian ini yang menyimpan bahan bakar penggerak, tenaga listrik, oksigen dan air; Modul ketiga disebut Lunar Module, bagian inilah yang mendarat di bulan. Bagian ini hanya dirancang dengan kapasitas untuk dua astronot saja. Oleh karena itu, ada tiga astronot yang pergi ke bulan, satu astronot melayang di orbit bulan dengan menggunakan Command Module, sementara dua lainnya turun dan bereksperimen ke bulan menggunakan Lunar Module. Untuk misi pertama ke bulan ini, pria yang tinggal di orbit bulan bernama Michael Collins.

Michael Collins tidak pernah mendarat di bulan. Hanya mengitari orbit bulan saja. Sementara kedua rekannya menyelesaikan misinya, menginjakkan kakinya selama dua setengah jam untuk mengeksplorasi bulan, menancapkan bendera Amerika dengan susah payah karena kerasnya tanah di bulan, dan juga membawa 21,5 Kg materi-materi dari sana ke bumi untuk penelitian.

Pada hari itu diperkirakan sebanyak 450 juta pasang mata dari seluruh dunia menyaksikan dan memperhatikan peristiwa penting itu. Bahkan, kepolisian Italia melaporkan bahwa pada saat peristiwa itu berlangsung tidak ada satu pun kejadian kriminal di negara itu. Hari itu menjadi The most-Crime Free of the Year di Italia. Dua orang yang tampak di televisi menjadi pahlawan bagi banyak orang. Membuat bangga seluruh umat manusia.

Sementara itu, Michael Collins dalam setiap putarannya mengililingi bulan ia mengalami putus kontak radio selama 48 menit dengan pusat komandonya di bumi, ia yang saat itu masih berumur 38 tahun berada 384.400 km jauhnya dari bumi, sedang menjalankan tugasnya tanpa terlihat di dalam layar kaca yang sedang menyiarkan secara langsung, ia hanya dapat menikmati pemandangan permukaan bulan yang berwarna abu-abu dan gelapnya luar angkasa tanpa batas melalui jendela pesawatnya. Sendirian.

Aku teringat seorang bijak pernah mengatakan bahwa seorang pahlawan sejati bukan yang dengan heroik mengalahkan musuh, namun mereka adalah orang-orang yang melayani orang lain dengan heroik. Tanpa terlihat.

Malam ini Michael Collins mengajarkanku sebuah arti sebuah keberanian untuk melayani tanpa terlihat.

— untuk Michael Collins (31 oktober 1930)

464px-Michael_collins

Jakarta, 15 Agustus 2013, jam 23:35 WIB

3 thoughts on “Keberanian untuk Melayani Tanpa Terlihat

  1. “seorang pahlawan sejati bukan yang dengan heroik mengalahkan musuh, namun mereka adalah orang-orang yang melayani orang lain dengan heroik. Tanpa terlihat.”

    setuju banget dengan kata-kata bijak diatas, kalau dikaikan dengan jaman sekarang, banyak orang yang justru ingin mendapatkan pengakuan ketika melakukan suatu kegiatan yang dinilai positif. Inginnya semua orang di dunia tahu dengan mempublish semua kegiatannya. Tapi masih ada banyak juga orang-orang yang melakukan kegiatan positf yang tak diketahui oleh publik contohnya seperti guru-guru yang mengajar di desa terpencil, para dokter yang rela ditempatkan di kota-kota kecil yang mungkin di peta saja tidak tertulis nama kota itu. Juga para misionaris yang mengabarkan injil ke negara-negara yang rawan konflik. Salut buat mereka yang melakukan pelayanannya tanpa terlihat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s