The Symphony No. 5 in C minor

Gagang pintu bergerak-gerak. Grek, grek, grek.

Suara berisik dari balik pintu kamar mandi masih tak terdengar olehnya. Tenggelam oleh suara yang ditimbulkan oleh kucuran air hangat dari shower.

Grek, grek, grek. Duk, duk, duk!

Kembali gagang pintu dari aluminium itu bergerak-gerak. Kali ini diikuti dengan sedikit gedoran.

Ritual mandi pagi dengan air hangat tidak pernah ia lewatkan. Sedari subuh menyiapkan sarapan di dapur, menyiapkan pakaian untuk suami dan anak semata wayangnya, menemani mereka sarapan dan melepas anaknya berangkat ke sekolah , dan suaminya ke kantor. Kini saatnya melepas penat, mempunyai waktu untuk diri sendiri dengan berendam di bathtub.

Grek, grek, grek. Grek, grek, grek. Duk, duk, duk!

Gagang pintu kembali bergerak naik-turun. Gedoran pintu semakin keras. Tiba-tiba terdengar suara musik dari balik pintu kamar mandinya. Alunan The Symphony No. 5 milik Beethoven.

Makin lama terdengar semakin keras.

Tak lama kemudian ia mulai sadar. “Sayang? Kamu pulang lebih cepat?” sahutnya sambil memutar kran di pinggir bathtub ke arah kiri. Namun air masih tetap saja mengucur dengan deras. Tidak berefek apapun. Malahan suhu airnya semakin terasa naik.

“Mami…,” terdengar sahutan suara anak kecil dari balik pintu.

“Sayang, kok sudah pulang?”

“Mami…”

“Sayang, ibu gak denger kamu ngomong apa. Tolong kecilkan suara musiknya, please..”

“Mami…”

Grek, grek, grek. Duk, duk, duk! Grek, grek, grek

Gagang pintu kembali bergerak-gerak cepat tanpa ritme. Gedoran pintunya lebih keras dari sebelumnya.

Ia kemudian merasa ada yang tidak beres dengan kran airnya setelah memutarnya kenanan-kekiri berulang kali air tetap saja tak mau berhenti mengucur. Ia mengambil handuk di sampingnya. Dengan perlahan mencoba keluar dari bak yang penuh dengan air itu. Sekarang seluruh ruangan dipenuhi uap yang ditimbulkan oleh panasnya air yang keluar dari shower.

“Mami…”

“Sayang, sebentar! Mami mau ngeringin rambut dulu nih..”

Satup terdengar alunan Symphony No. 5 milik Beethoven di balik pintu kamar mandi.

“Mami…”

“Sayang, tunggu sebentar. Ibu gak tahu kalo kamu pulang lebih cepat dari biasanya.”

Duk, duk, duk!, duk. Grek, grek, grek!

“Mami… mami… mami…,” Teriakannya semakin keras.

“Sayang, sabar ibu hampir selesai. Sebentar lagi ibu keluar.”

Duk, duk, duk! Grek, grek, grek

“Mami!… mami!… mami!..”

Sayang, kamu jangan berteriak seperti itu. Ibu jadi takut nih.

Mami? Seketika itulah ia tersadar. Perasaan takut mulai menyebar ke seluruh tubuhnya yang hanya dibalut sepotong handuk warna putih. Buah hatinya tidak pernah memanggilnya ‘mami’, ia selalu memanggil dengan sebutan ‘ibu’. Bukan mami.

Symphony No. 5 milik Beethoven masih terdengar di balik pintu kamar mandi.

Cermin di kamar mandinya mengembun terkena uap. Ia tidak berani mengelapnya. Secara reflek ia menolehkan kepalanya ke belakang. Berharap tidak ada seseorang di balik punggungnya. Lalu, cepat-cepat ia membuka pintu kamar mandinya. Tangannya bergetar, membuatnya sedikit kesulitan membuka pintu. Kakinya terasa kelu. Ia mencoba memfokuskan pikirannya. Ia harus keluar dari kamar mandi itu dengan segera.

Klek.

Akhirnya, ia berhasil membuka pintu kamar mandinya.

“Siapa kamu?” Suaranya bergetar.

Ia beranjak pelan keluar dari kamar mandi. Membuka laci di bawah televisi. merogohkan tangannya, dan dengan cepat meraih gunting di antara tumpukan peralatan jahitnya. Sisa air yang menetes dari tubuhnya membasahi lantai kamar.

“Mami…Mami…,” suara itu kembali terdengar. Kali ini seperti menjauh, semakin sayup terdengar di luar kamar.

“Siapa kamu?” ia mengejar suara itu hingga ke luar dari kamar. “Keluar kalo kamu berani?” ia memberanikan dirinya. keberanian itu muncul setelah teringat penyataan, bahwa satu-satunya cara melawan ketakutan adalah dengan menghadapinya. Kali ini ia ingin membuktikan teori itu.

Symphony No. 5 milik Beethoven masih terdengar. Kali ini entah dari mana sumbernya suara musik itu.

“Mami…Mami…”

Ia memutar tubuhnya dengan cepat. Kakinya membentuk posisi kuda-kuda. Tangan kanannya menggenggam gunting semakin erat. Namun, suara musik gubahan Beethoven itu seperti hinggap ke dalam telinganya. Masuk semakin dalam. Semakin membuat pening kepalanya.

“Nyonya? Apa yang sedang Nyonya lakukan?” Tiba-tiba muncul seorang perempuan muda dari balik pintu dapur.

Ia masih bergeming. Matanya masih menyelidik di setiap sudut ruangan di rumahnya.

“Nyonya? Ini saya, nyonya.”

“Nduk?”

“Iya, nyah.”

“Nduk, kita harus pergi dari rumah ini. Segera!”

“Nyah, Ada apa, nyah? Kita baru saja pindah beberapa hari yang lalu, Nyah.”

“Kamu dengar musik?”

“Musik? Musik apa, nyah?”

“Musik klasik. Beethoven. Symphony Number five.”

Matanya masih berkeliling. Menyapu semua ruangan. Rambut hitamnya masih basah. Tubuhnya mematung di tengah-tengah ruangan. Tangannya kaku memegang gunting.

***

“Jadi bagaimana, dok? Apa yang ada di dalam kepala istri saya?”

Dokter berjubah putih itu menarik nafas, lalu melepaskan kacamata tebalnya. Mengusap keningnya yang penuh keringat. Matanya membelalak, seperti baru saja melihat hantu. Selama beberapa detik bergeming.

“Apa yang ada di dalam kepala istri saya, dok?” ia mengulang pertanyaannya. Memohon agar dokter segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“Musik klasik,” tiba-tiba dari mulut dokter itu keluar kata-kata.

“Apa, dok?”

“Beethoven!”

“Maksudnya, dok?”

“Di dalam kepalanya ada Symphony Number five in C minor.”

TAMAT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s