Tersesat di Planet Hijau

Sore hari yang cerah itu dikejutkan dengan getaran yang semakin lama semakin keras, tiba-tiba nampaklah sebuah benda yang sangat besar berbentuk seperti sebuah piringan raksasa. Kemunculan menimbulkan kegaduhan yang sangat keras. Seluruh kota dapat merasakan getaran yang ditimbulkan dari gemuruh suaranya. Seperti sedang didera gempa bumi yang dahsyat. Semakin lama benda itu semakin tampak wujud keseluruhannya. Membuat siapa saja yang melihatnya akan lupa mengatupkan mulutnya hingga meneteskan liurnya.

Tidak ada bedanya dengan Solikhin, penjual kerak telor yang sedang bersiap untuk pulang ke rumah. Setelah seharian menjajakan dagangannya ia sudah tak sabar bertemu dengan anak-anak dan istri(-istri)nya. Namun, niatnya untuk pulang lebih cepat terhenti seketika. Apalagi ketika ia melihat semua peristiwa yang baru saja terjadi tepat di atas kepalanya.

Semua orang berlarian tunggang langgang. Solikhin ingin mengikutinya, namun ia seperti tidak mempunyai daya sama sekali. Kakinya lunglai. Hanya bisa berdiri mematung di posisinya semula. Kepalanya mendongak ke atas. Matanya tak bisa berkedip sedetikpun. Sebuah celah bundar yang berada tepat di tengah-tengah dari benda berbentuk piring terbang yang melayang di atas kepalanya tiba-tiba terbuka.

Seiring dengan terbukanya celah bundar itu, keluarlah seberkas cahaya yang di tengah-tengahnya tampak dua makhluk yang sekilas mirip dengan sosok manusia. Mata Solikhin semakin terbelalak. Ingatannya mengantarkan kepada suatu cerita tentang makhluk-makhluk dari luar angkasa yang pernah ia tonton melalui film di layar kaca. Bahwa akan ada suatu hari bumi akan diserbu oleh makhluk-makhluk asing dari luar angkasa. Pelanggan-pelanggannya sering menyebut makhluk itu dengan sebutan alien.

Keringat dingin mulai mengucur deras. Selangkangannya mulai terasa basah oleh cairan hangat yang keluar dari saluran kencingnya. Ia tidak bisa menahan perasaan campur aduknya. Ia juga merasa marah, ia merasa dikhianati oleh seluruh makhluk di bumi yang berlari menyembunyikan diri. Kini ia sendirian menghadapi kenyataan sore itu. Bahkan untuk berdoa pun ia lupa bagaimana kata-kata yang seharusnya dicuapkannya.

Dua sosok makhluk itu sudah menginjakkan kakinya ke bumi. Jaraknya hanya tiga meter dari Solikhin berdiri. Ketika berkas sinar putih yang menyilaukannya hilang. Ia kaget setengah mati. Di hadapannya telah berdiri dua wanita cantik berambut hitam panjang, terurai melambai-lambai mengikuti angin. Wajah keduanya sama persis, layaknya seperti lahir kembar identik. Bola matanya hitam dengan tatapan yang tajam. Keduanya berpakaian ketat, dengan baju atasan tak berlengan dan celana pendek warna hitam, tampak sexy. Yang membedakan keduanya hanya benda yang digenggamnya. Wanita yang berdiri di sebelah kirinya menggenggam sebuah panah besar dengan anak panah siap meluncur, wanita sebelah kanannya menggenggam dengan kedua tangganya sebuah pedang panjang berkilau. Keduanya dalam posisi siap untuk menyerang.

Solikhin tidak pernah dalam posisi ini. Bahkan dalam mimpi terliarnya pun ia tidak pernah terjepit oleh dua wanita cantik selama hidupnya. Ia memfokuskan pikirannya. Kesadarannya mulai pulih. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Kapan lagi bisa betemu dengan wanita cantik dan sexy. Dua orang sekaligus!

“Lam Lekom, Mpok Klara?”

“Klara?” kedua wanita itu menjawab secara bersamaan dengan suara berefek seperti robot.

“Lahhh, eneng. Itu si Mpok Klara Krop. Nyang aye tonton di tipi.”

“Lara Croft?” jawab mereka berdua.

“Iye, maksud ane nyang itu,” sahut Solikhin. Kali ini jantungnya sudah mulai terkontrol. Ia merapikan sarungnya yang dari tadi melorot.

“Bukan! Lara Croft hanya ada di film. Itu tidak nyata!” Kali ini mereka sedikit membentak.

“I…ii.. iiye, neng,” Solikhin mulai ketakutan.

“Kamu Tom Cruise ya?” Gertak kedua wanita itu padanya.

“E..ee..eh.,” bibirnya sulit dikendalikan lagi. “Saya..saya Solikhin. Bukan Tom Cruise.”

“Bohong! Ini Amerika kan?” gelegar suara kedua wanita itu semakin menyudutkan.

“Bu…bu..bukan. Ini daerah Condet, kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.”

“Condet?” serempak keduanya keheranan dan saling berpandangan. “Jadi ini bukan Los Angeles, California?”

“Bukan, neng. Ini Condet. Kalo amerika sono nohh! Jauhhh!” Solikhin mulai memberanikan dirinya. “Ini Indonesia!”

“Indonesia?” Kedua sosok itu keheranan.

“Kamu bukan Tom Cruise?”

“Bukan. Aye Solikhin, tetangganye wak haji Ali, noh!” jawabnya sekali lagi.

“Kamu bukan pegikut Scientology, ciptaan L. Ron Hubbard?”

“Bukan, neng. Bukan. Aye kagak tahu nyang namanye sintomolonogi itu siape”

“Jadi kita tersesat lagi? Untuk yang ketiga ratus enam puluh kalinya kita tersesat lagi di planet hijau ini?”

Dua sosok itu saling berpandang-pandangan, wajahnya menampakkan kekesalan. Keangkerannya wajahnya mulai luntur. Senjatanya mulai diturunkan.

“Kalian tuh tahu dari mana alamat aye?”

“Petunjuk dari peta di fitur iPhone,” Jawabnya bersamaan. “Adakah aplikasi yang lebih baik?”

“Ohhh.. pantesssan salah mulu, neng!” Tegas Solikhin. “Makenye, aye bilangin nih. Kalo mau cari alamat itu pake google maps! Pasti sip dahh! Kagak ada lagi tuh nyang namenye salah alamat lagi ribuan kali!”

“Iye, maapin aye ye, bang,” jawabnya serempak.

“Loh, kok logatnya ngikutin aye?”

Sebelum terdengar jawaban dari kedua sosok cantik itu, seketika sinar terang berwarna putih kembali menyilaukan mata Solikhin. Kedua sosok wanita itu terangkat ke atas dengan cepat. Menuju celah kecil dari benda berbentuk piring terbang yang dari tadi mengambang di atas bumi. Kemudian benda raksasa itu dengan cepat melesat menghilang secepat kilat tanpa kegaduhan, seperti orang yang menahan malu.

Solikhin langsung sujud syukur. Ia bersyukur telah melewati suatu peristiwa terbesar dalam hidupnya. Sarungnya melorot pun tidak ia hiraukan kali ini.

Namun, ada yang tidak disadari oleh Solikhin. Ribuan pasang mata yang dari awal mmengamati dari jauh sebuah kejadian langka antara dirinya dan dua sosok berwujud wanita cantik bercakap-cakap. Setelah mengetahui bahwa benda raksasa berwujud piring terbang itu meninggalkan bumi, banyak orang mengelu-elukan Solikhin. Mereka menganggapnya sebagai pahlawan abad ini.

Kemanapun Solikhin pergi pasti akan diikuti atau dikuntit oleh para wartawan, istilah kerennya dibayang-bayangi Paparazzi.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, Solikhin sudah tidak lagi menjadi penjual kerak telor. Ia kini adalah seorang penulis best seller. Dua bukunya yang paling terkenal telah terjual puluhan juta kopi dan diterjemahkan ke dalam 40 bahasa itu berjudul: ‘7 Cara Ampuh Menumbuhkan Keberanian Yang Mengubah Hidup Anda’ dan, buku yang satunya yang tidak kalah larisnya, berjudul: ‘Alien is So Real!’

TAMAT.

Iklan

2 thoughts on “Tersesat di Planet Hijau

  1. Awalnya serius banget! :)) Ujung-ujungnya bikin senyum. Jangan-jangan ini terinspirasi film-film Hollywood (soal piring terbangnya) dan sinetron-sinetron di teve (tokoh Solikhin dan logat Betawinye). :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s