Yang Aku Tanyakan Saat Kamu Bertanya Cinta

“Adakah yang aku lewatkan?”

“Tentang apa?”

“Tentang menjadi dewasa.”

“Kita menjadi dewasa karena dipaksa oleh waktu.”

“Aku tidak menginginkan itu.”

“Sejak dulu kamu memang terlalu banyak keinginan.”

Sepasang kursi dan sebuah meja bundar dari kayu yang tidak terlalu besar. Aku menarik salah satu kursi penuh ukiran lalu duduk di hadapannya. Dari balik jendela, jika melongok sedikit saja akan terlihat hamparan hijau yang luas. Lahan-lahan yang baru saja ditanami padi.. Dari kejauhan tampak gunung-gunung berjejer. 

 “Ini tehmu. Roti?”

“Pagi ini aku ingin minum teh saja. Lalu, apa maksudmu tidak menginginkannya?”

“Menjadi dewasa? Aku tidak ingin menjadi dewasa karena didorong oleh waktu.”

“Semua orang mengalami hal yang sama.”

“Tidak. Aku tidak. Pada awalnya iya. Namun, sebelum aku menikahimu lima puluh tahun yang lalu, aku sudah memutuskan untuk menjadi dewasa.”

“Aku tidak melihat perbedaannya?”

“Menjadi dewasa tidak seperti membuat mie instan.”

“Analogimu terlalu berlebihan.”

“Aku hanya mencoba memberi gambaran yang jelas.”

Aku melihat matanya. Masih berbinar sama seperti pertama kali kita bertemu. Bagiku semuanya masih sama. Tidak ada yang bisa melunturkan pesonanya. Bahkan waktu pun tidak mampu mengurangi binar sinar matanya.

“Kamu ingin mengatakan sesuatu?”

“Tidak.”

“Bibirmu sepertinya ingin bergerak namun kamu berusaha menahannya.”

“Kamu memang cenayang.” 

“Sejak bersamamu keahlianku bertambah.”

Ia menyunggingkan bibirnya ke atas. Merapikan sehelai rambutnya yang jatuh menutupi matanya. “Aku pernah kecewa padamu.”

“Kamu pikir aku tak pernah kecewa denganmu?”

“Mengapa kamu sanggup bertahan?”

“Itu pertanyaan bagus. Mengapa aku sanggup bertahan?”

“Tidak ada pilihan lain?”

“Aku tinggal memilih siapa saja yang aku mau.”

“Arogan. Aku tidak suka.”

“Justru karena kamu tidak suka itulah yang membuatku bertahan denganmu.”

“Kamu memang membingungkan. Pertanyaanku belum dijawab.”

“Karena kamu satu-satunya wanita yang membenciku,” aku menatap matanya dengan lembut. Kamu? Mengapa kamu bertahan?”

Ia terdiam. Pandangannya beralih ke jendela. Tangannya memain-mainkan sendok teh. Sesekali menaikkan alisnya. 

“Aku menunggu jawabanmu.”

Matanya berkaca-kaca. Ia menyesap tehnya. Pandangannya berubah ke arahku. Bergeming.

“Kopi?”

“Tidak. Terima kasih.”

 

8 thoughts on “Yang Aku Tanyakan Saat Kamu Bertanya Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s