Sudah?

Pertandingan memasuki masa perpanjangan waktu. Kedudukan masih sama kuat, kosong-kosong. Kedua tim bertanding seperti esok tak akan ada hari lagi. Kesebelas pemain dari masing-masing tim berkonsentrasi penuh. Mereka tidak ingin melewatkan sedetik pun arah bola putih bergerak.

Puluhan ribu penonton yang berada di tribun tidak henti-hentinya memberikan nyanyian dan sorakan. Berbagai ukuran bendera berwarna merah dan putih melambai-lambai di sekeliling stadion. Belajar dari sejarah, semua orang percaya bahwa keajaiban sering terjadi dalam detik-detik menjelang berakhirnya pertandingan. Barangsiapa yang melakukan kesalahan sekecil apa pun akan berakibat fatal, dan menderita kekalahan.

Ketegangan menyelimuti siapa saja yang mengikuti pertandingan penting malam itu.
Tiba-tiba ketegangan itu pecah. Dikejutkan dengan bola muntah dari tim lawan bergulir dengan cepat ke arah Edo, penyerang tengah andalan yang selama babak penyisihan belum sekali pun menyetak gol ke gawang lawan. Dengan secepat kilat, Edo membalikkan badannya. Ia berdiri sendirian tanpa kawalan. Sekuat tenaga ia menggiring bola. Sebagai penyerang tengah yang dikenal dengan kecepatan berlarinya ia tidak membutuhkan waktu lama untuk menyentuh garis penalti.

Beberapa hari ini Edo diserang oleh media karena kemandulannya menyetak gol. Hal itu menyebabkan tidak lagi dipercayai oleh pelatih untuk menjadi pemain utama dalam beberapa pertandingan terakhir. Pengharapan masyarakat kepadanya mulai turun. Bagi Edo, ia sudah melakukan yang terbaik untuk dirinya. Ia beranggapan bahwa keberuntungan sedang pergi menjauh darinya entah kapan akan kembali.

Edo memfokuskan pikirannya ke arah bola yang sedang ia giring. Lima meter di hadapannya berdiri seorang kiper lawan. Kiper itu bernama Bedjo. Dalam bahasa Indonesia, bedjo artinya beruntung. Nama Bedjo diambil dari bahasa Jawa. Sesuai namanya, Bedjo selalu mendapatkan keberuntungannya. Terutama dalam pertandingan-pertandingan penting. Ia selalu dapat mematahkan bola-bola yang seharusnya masuk ke gawangnya. Banyak pemain, terutama penyerang tengah, frustasi karena kelihaian dan -tentu saja- keberuntungan yang dimilikinya.

Ribuan pasang mata tertuju kepada dua orang pemain yang sedang berhadap-hadapan di dalam kotak penalti. Tersisa tiga puluh detik pertandingan berakhir. Jika kedudukan tidak berubah, maka akan dilanjutkan dengan adu penalti.
“Jangan sampai kita adu penalti dengan mereka,” pesan pelatih di kamar ganti pemain tadi sebelum pertandingan di mulai. “Selama ada Bejo di bawah mistar gawang, jangan mencoba mengadu keberuntungan dengannya melalui adu penalti. Pokoknya jangan. Bedjo hanya bisa dilawan dengan kecerdikan. Karena itu tetap gunakan otakmu meski sedang kelelahan,” katanya sambil menepuk pundak Edo.

Fokus. Fokus. Fokus.
Edo melihat celah di antara kaki Bedjo yang berdiri dihadapannya. Ia harus mengambil keputusan dengan cepat. Menarik napas terakhir sebelum melakukan tendangan pamungkas.
Dan,…

“Tidak, Tidak. Aku tak sanggup melakukannya.”
Edo terbangun dengan peluh membasahi seluruh tubuhnya yang terbalut piyama.
“Kali ini kamu sudah menendangnya?” kata Irma, istri Edo yang berbaring di sebelahnya.
“Belum. Aku tidak sanggup.”
“Kamu tidak akan pernah mengetahui kejutannya jika tidak mempunyai keberanian.”
“Apakah manusia setua kita masih memerlukan impian?”
“Impian adalah bagian terbaik dari kehidupan. Aku harap kamu menendangnya dan mengetahui apa yang selanjutnya terjadi.”
“Seandainya setiap malam aku mempunyai impian yang lainnya.”
“Kita tak pernah tahu. Kembalilah tidur.”
Irma menarik selimut dan memeluk Edo dengan lembut hingga tertidur, itu kebiasaan yang selalu mereka lakukan sejak pertama kali mereka menikah lima puluh tahun yang lalu.

“Apakah aku sudah membuatmu bangga menjadi suamimu?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s