Semesta Mendukung

Sore itu segerombolan awan kelabu bergerak perlahan menutupi matahari. Gedung-gedung berdiri kokoh. Berhimpitan. Menjulang tinggi, saling berlomba siapa yang fotonya akan dipilih menjadi citra yang tercetak di kartu pos. Gedung paling tinggi mempunyai tinggi seratus lima puluh lantai. Bangunan terbaru. Seminggu yang lalu baru saja diresmikan oleh walikota. Menjadi ikon baru kota itu.

 

“Kamu yakin akan melakukannya?”

“Kamu sudah mengatakan itu berkali-kali.”

“Aku hanya ingin meyakinkanmu.”

“Aku sudah memikirkannya sejak pertama kali aku menceritakannya kepadamu.”

“Aku tahu. Aku hanya ingin.. Aku tidak tahu harus ngomong apa lagi.”

“Lakukan saja tugasmu.”

“Kamu tidak berpikir panjang.”

 

Ia sudah memantapkan hatinya. Mengatur nafasnya. Memfokuskan pikirannya.

“Aku tidak bisa. Tidak bisa.”

“Kamu mengganggu konsentrasiku. Lakukan saja tugasmu.”

“Aku tak bisa. “

“Kita sudah membahasnya berkali-kali.”

“Belum dua minggu.”

“Ini bukan masalah waktu. Kamu harus mempercayaiku. Ini pasti berhasil. Aku menghirup bau kemenangan sudah mendekat. Angin sudah mengenaliku. Mereka memanggil-manggil namaku.”

“Kamu bodoh.”

“Kepandaian tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa keberanian. Lakukan saja.”

Matanya terpejam sejenak. Dibukanya perlahan. Menarik napas. Menghembuskan kembali. Pelan-pelan. Mengatur ritme napas sama pentingnya dengan mengatasi keberanian.

“Semua akan baik-baik saja. Seperti yang selalu aku katakan kepadamu.”

“Kamu hanya mencari sensasi saja.”

“Kamu tak akan mengerti. Aku bukan seperti mereka. Aku tidak kekurangan suatu apapun. Semua memperhatikanku dengan baik. Cepat lakukan saja yang aku perintahkan.”

“Aku masih tidak mengerti jalan pikiranmu.” Seuruh tubuhnya bergetar. Kegamangan menyelimutinya, “Baiklah. Jika memang itu keinginanmu. Bersiaplah.”

“Sisakan makan malam untukku nanti.”

Dengan sekali tarikan napas ia melakukan tugasnya.

 

Sesosok bersayap mulai meluncur dengan cepat dari gedung paling tinggi. Sayapnya mengepak-ngepak. Namun, gravitas bumi lebih besar dari kekuatan kepakan sayapnya. Semakin lama kecepatan turunnya semakin cepat.

 

Setelah beberapa detik. Separuh gedung telah dilewatinya. Kecepatannya semakin tinggi. Jauh lebih tinggi dari yang pernah dibayangkannya.

Aku masih teringat semua hal yang pernah kudengar sebelumnya. Mengenai keberanian. Mengenai keyakinan. Mengenai keberhasilan. Aku menghafalnya di luar kepala. Aku meyakininya setiap pagi.

Mempercayai semua yang pernah mereka katakan. Bahwa semesta mempunyai hak pilih untuk mendukung siapa saja yang mempunyai keberanian.

Hari ini aku sedang melakukannya. 

 

Ia masih mengepak-ngepakkan sayapnya. Sayapnya sepertinya tak mempan lagi menahan derasnya kekuatan angin. Daya sebesar ini tak pernah dia rasakan sebelumnya.

Jika ini berhasil aku akan mengatakan hal yang sebenarnya kepada mereka. Mereka hanya pandai berteori. Tak pernah benar-benar melakukannya. Kepandaian berbicara hanya menghasilkan sanjungan. Tidak lebih.

Sosok itu meluncur semakin cepat dengan kecepatan semakin tinggi. Melesat melalui dua pertiga tinggi gedung. Artinya, dari seratus lima puluh lantai, tersisa lima puluh lantai lagi.

Apakah aku sudah berpamitan tadi? Untuk apa? Itu hanya menandakan tidak adanya keyakinan saja. Dari awal aku sudah yakin. Ini akan berhasil.

Seharusnya mereka memang mengajarkan keberanian dengan tindakan. Tindakan berteriak lebih keras daripada kata-kata.

 

Seratus meter.

Tujuhpuluh meter.

Tigapuluh enam meter.

 

Semoga adikku tidak lupa menyisakan makan malam untukku. Meski aku berulang-ulang mengatakannya dia sering terlupa. Aku tidak menyalahkannya. Teman-temannya kadang memang berlebihan mengejeknya. Hal itu mengganggu kepercayaan dirinya. Kemampuan berkonsentrasi lemah. Meski begitu dia adalah adikku yang paling mengerti aku. Aku beruntung memilikinya.

 

Duapuluh meter.

Limabelas meter.

Sepuluh meter.

 

Sebentar lagi aku akan menembus kecepatan paling tinggi. Tidak pernah ada yang merasakan sebelumnya. Aku masih percaya ini akan berhasil. Ini hanya masalah keyakinan. Keberhasilanmu hanyalah sebesar apa yang kamu percayai.

 

Tujuh meter.

Lima meter.

Tiga meter.

 

Tunggu dulu. Bagaimana jika ini tidak berhasil? Apa maksudmu? Keyakinanku salah? Bagaimana jika keyakinanku salah?

 

Duakomatujuhpuluhlima meter.

 

Aku tidak pernah memikirkannya.

 

Sebuah mobil sedan berwarna biru melaju dengan kecepatan lambat melewati halaman depan gedung tertinggi itu.

“Lihatlah ke atas, nak. Kamu bahkan tidak bisa melihat puncaknya jika berada di dalam mobil.”

 

Prakkk!

 

“Apa itu, pa?”

“Entahlah, aku hanya melihatnya sekelebat. Seperti seekor anak burung yang baru lahir. Belum mempunyai bulu. Mungkin terlepas dari induknya,” Ia menyalakan wiper di kaca depan mobilnya. “Untung saja tidak sampai mengotori mobil kita. Sudah terjatuh di jalan.”

 

Langit pelan-pelan berubah menjadi semburat kemerah-merahan. Suara klakson bersahut-sahutan. Jalanan semakin padat. Di jam pulang kerja seperti ini, setiap orang berebut ingin segera pulang ke rumah. Berharap bisa tiba di rumah sebelum makan malam di meja makan berubah menjadi dingin. Dan yang terpenting, kembali bisa melihat senyuman orang-orang yang mereka cintai di rumah.

 

6 thoughts on “Semesta Mendukung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s