Aku Pasti Datang

Langit mulai gelap. Semburat merah terakhir masih tersisa sedikit goresan saja. Satu bintang terang mulai tampak. Sisa genangan air hujan sore tadi bertebaran di sudut-sudut taman. Aku berjalan menuju sebuah kursi di tengah taman itu. Kursi panjang berwarna kayu dan berangka besi berukir. Klasik. Seandainya bisa mendengar, ia adalah kursi yang paling aku buru di dunia ini. Akan aku tangkap dengan paksa jika ia mulai meronta.

Entah sudah berapa pasangan muda-mudi yang melewatiku. Mereka berpelukan sambil berjalan tanpa sedikitpun memperhatikanku duduk.

“Aku yakin kau tak datang.”

“Aku pasti datang.”

“Sebelumnya aku juga anggap begitu. Kau selalu menepati janjimu selama ini. Namun sejak kejadian malam itu, aku jadi ragu.”

“Kala itu aku sudah bilang aku tak bisa. Kau memaksaku.”

“Tapi, kau sudah mengatakan iya”

“Aku ingin. Tapi aku tak bisa. Kau membuatku tidak bisa mengatakan tidak.”

“Karena kamu ingin?”

“Iya. Karena aku ingin. Kamu jangan memaksaku lagi. Aku pasti datang.”

Penggalan percakapan telepon yang selalu aku ingat. Aku mempersiapkan diri menghadapi apa saja yang mungkin terjadi malam ini. 

Angin malam mulai menusuk. Aku merapatkan kedua lenganku di dada. Menggerak-gerakkan kakiku. Degup jantungku seperti terdengar lebih keras. Berkali-kali kulihat jarum jam di pergelangan. 

Aku tidak meragukanmu. Tidak pernah. 

Aku hanya benci taman ini. Aku merasa lampu-lampu dan kursi-kursi yang tersebar di sudut taman ini mulai membicarakanku. Bertahun-tahun mereka mengetahui semua gerak-gerikku, mendengar semua obrolan kita. Aku tidak suka. Karena itu aku tidak pernah menatap mereka lama. Mereka membuatku merasa bodoh. Aku gigit bibirku. Kembali aku melihat jarum jam. Keringat dinginku sepertinya mulai menyerbu. Curang. Mereka selalu datang ketika aku merasa sudah kalah.

Dari jauh kulihat sebuah sosok yang kupikir pasti dirimu. Berjalan pelan, dengan rambut terurai panjang. Jantungku mulai berdebar. Senyumku merekah. Dari kejauhan aku sudah bisa membayangkan senyummu. Untuk urusan imajinasi, aku yakin aku yang terbaik di dunia.

Semakin sosok itu mendekat. Bibirku sedikit demi sedikit mulai berubah mendatar, tak lagi naik. Itu bukan kamu. Hanya mirip dari kejauhan. Dia hanya seorang gadis yang melewatiku. Hanya saja dia tidak berjalan berpasangan. Entah sudah berapa kali aku salah mengira orang. Mungkin mataku dan imajinasiku harus sering dilatih supaya sinkron. Ini menyebalkan.

Aku lihat jarum jam. Sudah menjelang tengah malam. Udara dingin mulai menusuk. Aku rasa lampu-lampu dan kursi-kursi taman tak bisa menahan tawanya lagi. Mereka sebenarnya tidak pernah diciptakan untuk menggunjingkan orang sepertiku.

Hanya saja aku yang bebal. 

Mungkin mereka mulai sebal.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s