Ritual Pagi

Seperti pagi-pagi sebelumnya. Ia selalu bangun tepat sebelum mentari semburatkan sinarnya. Dengan bergegas menuju kamar mandi. Ritualnya di kamar mandi tidak boleh diganggu siapa pun. Ibu suka kesal dengan hal ini. Bukankah mandi pagi bisa dilakukan dengan cepat? Bagi ayah ritual ini tidak bisa dipercepat. Mandi pagi adalah salah satu keberuntungan yang hanya bisa dirasakan oleh manusia setiap hari. Harus dinikmati.

Setelah selesai menyisir rambutnya, ia menuju ke meja makan. Dua kerat pisang goreng hangat dan segelas teh manis kesukaannya sudah tersedia. Siap untuk dilahap. Untuk ritual di meja makan, ibu satu-satunya ahli masak yang dipercaya olehnya. Pisang goreng dan teh buatannya tidak ada yang bisa mengalahkan.

“Ibu, berangkat yah. Harus buru-buru. Takut terlambat.”

Ibu hanya bisa menggeleng-nggeleng kepalanya. Bertahun-tahun paginya diisi dengan perasaan haru melihat tingkahnya. Meski kadang juga sedih. Namun, ia beruntung bisa menghabiskan waktu dan menjadi tua bersama lelaki itu.

Ia menuntun sedikit motornya menuju halaman depan. Kemudian mengengkol tuas untuk menyalakannya. Dengan tiga kali engkolan, motorpun sudah menyala. Ia mengegas-ngegas beberapa kali untuk memanasi mesinya. Ritual yang sama setiap kali menggunakan motor di pagi hari.

“Ayo, lekaslah naik. Pegangan yang erat. Ayah tidak ingin kamu terlambat. Jika terlambat kamu tidak bisa bermain dengan teman-temanmu sebelum bel masuk sekolah berbunyi. Jika itu terjadi kamu sudah kehilangan kesempatan besar.”

Ia menjalankan motornya pelan-pelan. Ia menyapa beberapa tetangga yang sedang menyapu halaman pagi itu. Senyumnya selalu mengembang tulus. Hampir semua orang yang ditemui pagi itu membalas dengan senyuman dan sapaan ramah. Baginya ritual sapa-menyapa adalah satu kenikmatan pagi yang sudah jarang dinikmati orang orang-orang kota. Kasihan sekali orang-orang di kota. Mereka sudah kehilangan sentuhan-sentuhan manusia. Mereka sudah mati rasa, pikirnya.

Suara motornya yang lembut mengisi  sepanjang jalan gang itu. Hingga tiba di jalan yang lebih lebar. Jalanan yang sudah lama rusak. Genangan air hujan membuat aspal-aspal ini tak lagi mulus.

“Pegangannya jangan kendor. Jalanannya rusak.” Ia memperlambat motornya. Sesekali mengerem saat melewati genangan yang lebih lebar.

“Pe-Er-nya sudah dikerjakan, kan kemarin? Pekerjaan Rumah itu diberikan oleh guru supaya kita disiplin. Mengulang pelajaran yang diberikan hari itu. Mengulang itu penting. Bahkan saat kamu dewasa nanti, kamu harus ingat tentang hal ini. Ayah saja sampai hari ini selalu mengulang baca buku-buku yang ayah punya. Dan, kamu tahu? Setiap kali novel-novel itu ayah baca ulang, selalu saja ada hal-hal baru yang ayah dapat. Padahal ayah pikir, ayah sudah membacanya berkali-kali. Sudah hafal semua. Mengerti yang ayah maksud, kan?”

Sepanjang perjalanan ia selalu bercerita tentang hal-hal yang menarik menurutnya. Meski ia tidak sadar cerita yang ia ceritakan adalah cerita yang selalu diceritakan setiap pagi. Setiap kali mengantar ke sekolah.

“Kamu sekarang masih enak. Berangkat ke sekolah diantar naik motor. Jaman ayah muda dulu, saat kakekmu belum bisa membelikan sepeda, ayah selalu berjalan kaki sejauh 2 Kilo. Lucunya, ayah selalu menikmati saat-saat itu. Berjalan pagi membuat badan ayah tidak pernah sakit. Tubuh kita itu diciptakan untuk bergerak. Lah kok orang-orang sekarang malah malas gerak. Makanya banyak penyakit aneh-aneh, kan? Bukan hanya salah penyakitnya sebenarnya, menurut ayah lebih banyak karena manusia tidak menjaga tubuhnya. Tidak pernah olahraga, trus makannya sembarangan. Manusia sekarang itu menggali kubur dengan sendok makannya.”

Ia menginjak rem. Memberhentikan motornya tepat di samping gerbang sekolah. Satpam sekolah menganggukkan kepalanya dan menyapanya ramah. Ia membalas dengan anggukan dan senyuman. Manusia memang hebat. Bahkan, mereka menciptakan senyuman sebagai bahasa universal untuk menyapa jarak jauh.

“Sudah, kamu turun sekarang. Ingat pesan ayah, belajar yang rajin, namun jangan lupa bermain sepuas-puasnya. Cari teman yang banyak di sekolah. Pelajaran terpenting saat sekolah adalah ketika bermain-main dengan teman-temanmu.”

Sementara itu, ketika Ibu sedang mengambil koran pagi yang diletakkan oleh tukang koran di bawah pintu. Telepon rumah berdering.

“Selamat pagi, ibu.” Terdengar suara lelaki dewasa di seberang sana.

“Selamat pagi, nak. Bagaimana honeymoon-nya?”

“Senang bu, hari ini hari terakhir kami di Bali. Besok langsung menuju Jakarta. Karena sudah mulai masuk kerja lagi.”

“Syukurlah, nak.”

“Jam segini ayah masih belum pulang, ya?”

“Belum. Mungkin sebentar lagi ayahmu pulang. Sudah kamu tidak perlu khawatirkan ayahmu. Dia sudah tahu apa yang ia lakukan.”

“Tapi, bu. Aku sudah besar sekarang. Sekarang bahkan sudah menikah.”

“Ayahmu itu sayang kamu, nak.”

Mentari pagi selalu tersenyum setiap kali melihat pengulangan-pengulangan yang dilakukan manusia setiap hari. Bukan pengulangannya yang ia sedihkan. Yang membuatnya sedih hanya satu, ketika manusia tidak pernah menikmati apa mereka lakukan setiap harinya.

Setiap pagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s