I Love You

Kadang-kadang aku merasa menjadi gila. Terutama ketika banyak gagasan-gagasan yang tiba-tiba menjamur di dalam kepala. Entah bagaimana jadinya jika tidak kutuliskan. Meskipun tidak sedikit yang merupakan gagasan bodoh. Seperti lari-lari keliling senayan di siang bolong. Atau, gagasan bikin arisan di dalam bus transjakarta. Aku terlalu menghayati kebodohan. Mungkin.

Pengen sekali menjadi diam. Tanpa harus memikirkan sesuatu, atau tanpa harus terinspirasi oleh sesuatu ketika sedang menikmati suatu momen. Setiap kali mendengarkan sebuah lagu, aku selalu bisa membayangkan bagaimana video klip lagu itu menurut imajinasiku. Tidak ada batasan, lagu barat, Indonesia, dangdut, jazz atau bahkan lagu daerah. Aku bisa mengimajinasikan bagaimana video klip lagu itu menurut versiku.

Siang hari kemarin, usai melakukan sebuah meeting dengan klien. Aku segera pulang ke kantor, eh, rumah. Ya kantorku adalah rumahku. Rumahku juga adalah kantorku. Begitulah. Panasnya Jakarta kembali menyengat ketika aku sedang mencari ojek untuk mengantarku pulang. Tanpa tawar-menawar, aku langsung saja mengiyakan ongkos yang ditawarkan. Belum lama aku duduk di atas jok motor ojek itu telepon genggamku berdering. Keluar tulisan yang menandakan kalo ada panggilan dari ‘Rumah”. Segera aku jawab,

“Halo”

“Papa, nanti les musiknya Arne diantar sama siapa?”

Tanpa basa-basi, tanpa kata halo, suara anak kecil di seberang sana langsung nyerocos. Aku mengenali suara itu, suara anak lelakiku, Arne. Tumben dia menelepon. Karena berkantor di rumah, aku jarang sekali telpon-menelpon dengan Arne.

“Arne, nanti papa yang akan antar les musik, ini papa sedang dalam perjala….”

“I love you”

Tuuutt…tutt….tutt….

Telepon langsung ditutup. Aku melongo. Begitulah anak kecil. Ketika sudah mendapatkan jawaban yang dia ingin, dia akan mengira pembicaraan sudah selesai. Tidak seperti orang-orang dewasa yang gemar berbasa-basi dan berhai-hai yang kadang memang gak diperlukan. Aku hanya bisa nyengir.

Setelah kaget beberapa detik. Aku langsung ingat kembali, hey, coba perhatikan kata terakhirnya, “I Love You,”

Mendengar suaranya mengucapkan kata itu membuatku menimbulkan rasa yang tak biasa. Ya ini memang agak lebay. Tapi sebentar, aku akan ceritakan kejadian berikutnya. Telepon siang itu membawaku ke dalam ‘video klip’ yang lain. Sebuah ide cerita yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Bagaimana jika ada seorang ayah yang berada nun jauh di sana mendengarkan suara anaknya, dan mengatakan I love you? Bagaimana jika ada seorang ayah yang sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu dengan anaknya dan akhirnya bisa mendengarkan ia berkata I love you? Bagaimana jika kesempatan untuk menelepon memang sangat singkat, bukankah mengakhiri pembicaraan ditelepon dengan mengatakan I Love you adalah penutupan yang paling berkesan mendalam?

Siang itu aku mendapatkan ide sebuah kisah untuk sebuah novel yang akan kutulis.

Setibanya di rumah, aku memeluk Arne seperti biasa, dan berkata I love you too. Sambil mengecup empuk pipinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s