Gitar, Ayah Kaya dan Ayah Miskin

Sore itu, jalanan lengang. Di punggungku menggantung sebuah gitar yang terbungkus kardus berwarna coklat sambil memacu kencang motorku. Ini adalah gitar pertamku yang kubeli. Aku merasa menggendong harta karun. Kurasakan benar terpaan angin yang menyapu wajahku seiring lajunya motorku. Aku menikmatinya.

Sebelumnya, di mall penuh dengan manusia, mengambil uang di ATM-pun antrinya seperti antri sembako. Dan, ketika semua orang menenteng kardus yang berisi TV terbaru, aku malah dengan bangga membeli gitar. Gitar akustik bermerk Yamaha tanpa vernish, aku pilih diantara banyak pilihan karena type ini yang paling murah. “Ini bagus mas, untuk pemula,” kata penjaga tokonya. Sial. Bagaimana dia tahu aku masih pemula dalam hal ‘gitar-menggitar’. Mungkin karena tampang. Entahlah, yang pasti aku langsung membelinya karena sesuai budget. Lunas.

Kuhentikan motorku di pertigaan Kemang, menunggu lampu berwarna hijau yang sudah dinanti beberapa mobil 36 detik yang lalu. Sebuah Kopaja 605A merambat pelan layaknya seekor gajah tua, bermuatan penuh dengan manusia bergelantungan, berjalan berlawanan arah denganku. Aku melihat pengamen bertopi lusuh, memakai kaos penuh peluh. Ia sedang bernyanyi dengan semangat meski mungkin sedang puasa. Mulutnya tidak pernah diam sembari memetik gitarnya, yang entah bermerk apa. Penuh dengan stiker berwarna-warni dengan bermacam bentuknya.

Dalam beberapa detik menunggu, aku teringat sebuah buku yang pernah memberi nasihat mengenai ayah kaya dan ayah miskin. Di dalam buku itu, ayah kaya menasehati, jika ingin membeli sesuatu barang sebaiknya tidak menggunakan uang sendiri. Maksudnya, kita sebaiknya hanya boleh membelanjakan sejumlah uang sebesar pendapatan yang sanggup kita hasilkan. Jika dihubungkan secara gamblang, bahwa dengan membeli dan mempunyai gitar ini aku harus dapat menghasilkan sejumlah uang yang sama dengan gitar yang kumiliki. Nasehat yang bijak. Sebenarnya.

Namun, aku berpikir si ayah kaya melupakan satu hal, ada banyak hal di dunia ini yang tidak harus kembali atau didapatkan kembali. Misalnya kebahagiaan saat memberi, atau kebahagiaan para pengamen ketika bernyanyi, memberikan suaranya. Banyak orang beranggapan bahwa pengamen hanya memberikan suaranya untuk mendapatkan uang. Aku tidak setuju. Aku yakin ada banyak sekali pengamen yang bertebaran di bus, kereta, Kopaja hanya karena mereka ingin bernyanyi. Tidak hanya untuk mendapatkan uang. Aku bisa tahu saat melihat sendiri bagaimana cara mereka bernyanyi. Dengan sepenuh hati, dengan teknik bernyanyi yang sangat bagus. Meskipun ia tahu tidak semua orang memberinya uang recehnya. Ia tetap memberikan kemampuannya sebaik-baiknya karena ia tahu dengan bernyanyi ia merasakan kebahagiaan. Dengan bernyanyi ia merasakan hidup.

Lampu hijau yang kutunggu sudah menyala. Aku menancapkan gas, melajukan motorku dengan segera. Matahari sore yang bersinar lembut membuatku membayangkan ayahku. Ia bukan seperti si ayah kaya dalam buku. Jika menurut buku itu, ayahku termasuk dalam golongan si ayah miskin. Ia tidak pernah belajar mendapatkan uang seperti dalam teori. Ia tidak pernah memberikan nasihat bagaimana cara mendapatkan uang yang banyak. Namun, kamu tahu? Ayahku selalu mengajarkanku bagaimana mencari kebahagiaan dan memberikannya kepada sebanyak mungkin orang. Ayaku seorang seniman sejati. Ia seorang pelukis, juga penulis moody, dan juga seorang pianis otodidak. Seniman dengan 3 orang fans yang fanatik; ibuku, adik dan aku. Seniman yang selalu berusaha keras membuat seisi rumah tertawa dengan humor-humor jayusnya yang diulang-ulang, persis Srimulat.

Sore itu aku merasa beruntung mempunyai ayah miskin. Ia memberikan nasihat yang jarang diberikan oleh ayah kaya. Kini aku tahu bagaimana cara menjadi bahagia hanya dengan modal sebuah gitar.

Setibanya di rumah, aku buka kardus coklat yang membungkus gitar pertamaku. Aku langsung belajar beberapa lagu melalui youtube. Aku bernyanyi sekencang-kencangnya, layaknya seorang penyanyi kelas dunia.

Bahagia.

 

Pernah kita sama sama susah

Terperangkap didingin malam

Terjerumus dalam lubang jalanan

Digilas kaki sang waktu yang sombong

Terjerat mimpi yang indah lelap

Pernah kita sama-sama rasakan

Panasnya mentari hanguskan hati

Sampai saat kita nyaris tak percaya

Bahwa roda nasib memang berputar

Sahabat masing ingatkah kau

Reff:

Sementara hari terus berganti

Engkau pergi dengan dendam membara di hati

Cukup lama aku jalan sendiri

Tanpa teman yang sanggup mengerti

Hingga saat kita jumpa hari ini

Tajamnya matamu tikam jiwaku

Kau tampar bangkitkan aku sobat

“Belum Ada Judul” ~ Iwan Fals

2 thoughts on “Gitar, Ayah Kaya dan Ayah Miskin

  1. Paling senang kalau lagi di kopaja atau metromini ketemu pengamen yang nyanyinya sepenuh hati. Rasanya kecewa banget kalau mereka cuma nyanyi satu dua lagu. Hihi… *penumpang egois.
    Salam kenal Mas… Suka dengan tulisan dan blog nya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s