Sepakbola, Cinta dan Obsesi

Saya adalah pecandu (nonton) bola di layar televisi atau pun nonton langsung di stadion, namun sekarang saya tidak lagi menjadi pecandu, sekarang saya hanya menikmati permainan sepak bola. Apa bedanya? Banyak bedanya, akan saya jelaskan satu-persatu.

Sejak kecil saya sudah akrab dengan yang namanya sepak bola, hampir setiap sore selalu bertanding sepak bola di kampung atau pun di lapangan sepak bola yang lokasinya dekat dengan rumah saya tinggal di Surabaya.

Perkenalan saya dengan sepak bola sudah pasti disebabkan oleh papa saya yang juga doyan nonton sepak bola, saya masih ingat ketika diajak nonton pertandingan Niac Mitra melawan Pelita Jaya Jakarta di stadion Gelora 10 Nopember Tambaksari Surabaya. Penonton membludak, hingga kami, saya dan papa tidak kebagian tempat duduk karena datang terlambat, terpaksa kami menyaksikan pertandingan sambil berdiri hingga pertandingan usai.

Jika masih ada yang ingat nama Niac Mitra, itu artinya Anda termasuk angkatan jadul, hehehe. Niac Mitra adalah cikal bakal dari klub favorit saya: Mitra Surabaya. Ketika itu, Surabaya memiliki dua klub besar yang berada di dua liga sepak bola yang berbeda, Persebaya di Perserikatan (Amatir) dan Niac Mitra di Galatama (Liga Sepak Bola Utama). Karena pengaruh cerita dari papa, saya lebih memilih mencintai Niac Mitra atau penggantinya: Mitra Surabaya, daripada Persebaya. Salah satu alasannya adalah dari segi permainan, klub-klub yang bermain di Galatama jauh lebih menarik dan atraktif untuk ditonton.

Dua aktivitas yang tidak boleh saya lewatkan adalah menyaksikan siaran langsung pertandingan sepak bola di televisi dan menyaksikan langsung di stadion Tambaksari jika Mitra Surabaya bertanding, hal ini juga dipermudah dengan jarak stadion Tambaksari dengan rumah saya relatif dekat, saya biasanya hanya jalan kaki selama 15 menit saja untuk tiba di stadion.

Dari masa Sekolah Dasar hingga memasuki masa kuliah saya jarang sekali absen untuk hadir di stadion menyaksikan idola-idola saya bertanding. Jika sekali saja saya absen, hati saya bisa remuk, patah hati dan tidak bisa sembuh selama satu minggu. Bahkan jika jam kuliah bentrok dengan jadwal pertandingan, saya lebih memilih untuk bolos kuliah hanya untuk menyaksikan tim favorit saya bertanding di lapangan.

Bagaimana dengan siaran langsung pertandingan sepak bola di televisi? Saya juga tidak akan ketinggalan menyaksikannya, bahkan pernah ada satu masa saya mempunyai buku catatan lengkap pertandingan-pertandingan liga Itali seri A, saya mencatat beberapa statistik pertandingan, seperti berapa kali lemparan ke dalam dilakukan, berapa banyak posisi offside yang terjadi, berapa kali handsball, berapa kali tendangan pojok, dan tentu saja catatan tentang jumlah skor dan pencetak gol pada suatu pertandingan. Saya mencatat sedetail mungkin tanpa tahu kegunaan dari angka-angka di buku tersebut nantinya. Saya hanya berpikir hal itu menarik untuk dilakukan saja.

25 Juni 1988 adalah hari yang tidak pernah saya lupakan, saat itu kami sekeluarga sedang berlibur ke Solo, saya menyaksikan salah satu pertandingan terbaik yang pernah ada, antara tim nasional Belanda melawan Uni Soviet. Pertandingan tersebut mengantarkan Belanda sebagai juara piala Eropa dengan skor 2-0. Satu gol diciptakan oleh Ruud Gullit dengan sundulan kepala yang terkenal itu dan satu gol lagi diciptakan oleh Marco Van Basten dengan gol indah yang melegenda pada menit ke-54. Sebuah tendangan volley first time, dari sudut sempit yang sekarang menjadi ikon dari Piala Eropa 1988.

Pertandingan itu membuat saya jatuh cinta dengan sepak bola dan tim Orange, Belanda, tidak hanya itu, pertandingan tersebut membuat saya juga jatuh cinta kepada trio Belanda, Ruud Gullit, Marco Van Basten dan Frank Rijkaard, yang kemudian mengantarkan saya mencintai AC Milan, salah satu klub besar yang bermain di Liga Italia Seri A. Begitu manisnya kenangan kala itu, hingga saat itu saya masih ingat dengan jelas bahwa saya sampai menghabiskan satu toples besar berisi kripik emping melinjo untuk menemani menyaksikan pertandingan final tersebut, dan setoples emping itu saya makan sendirian!

Sejak hari itu saya resmi menjadi pencandu bola. Saya menonton hampir semua siaran langsung pertandingan sepak bola, mulai dari liga Seri A, piala dunia juga pertandingan-pertandingan dimana timnas Indonesia bertanding, jarang sekali saya melewatkannya.

Saya bersorak dan menangis seiring dengan bergulirnya bola, hidup saya tidak pernah jauh dari sepak bola. Saya mempunyai bendera Mitra Surabaya yang tidak pernah lupa saya bawa jika menyaksikannya di stadion, saya memiliki ikat kepala, dan tidak lupa kostum kebanggaan berwarna hijau-hijau yang selalu saya pakai.

Namun, kefanatikan saya terhadap sepak bola berubah pertama kali ketika ada seseorang yang bertanya kepada saya dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Ega, apakah kamu mencintai sepak bola?” Seseorang itu adalah guru yang saya hormati.
Langsung saya menjawab dengan tegas, “Tentu saja! Lihat, saya sudah mengorbankan banyak hal untuk membuktikan cintaku kepada sepak bola, bahkan saya sanggup menyebutkan hampir semua pemain yang bertanding di liga Seri A dan semua pemain nasional Indonesia, saya menonton semua pertandingan Mitra Surabaya di Tambaksari.”
“Iya, aku tahu tentang hal itu.” jawabnya dengan tenang, lalu menambahkan “namun, cinta sejati itu bukan seperti itu”
“Hah? Apa maksudnya?”
“Cinta sejati tidak dilakukan dengan membabi buta, jika kamu mencintai sepakbola, kamu tidak akan terobsesi dengannya.”
Seketika itu juga suasananya menjadi hening beberapa saat. Saya juga tidak mengatakan sepatah kata pun, bukan karena saya sudah mengerti apa yang ia maksudkan, namun karena saya benar-benar tidak bisa memahami maksud pernyataannya.

Sejak saat itu, setiap kali saya menyaksikan pertandingan sepak bola di mana pun, pernyataan itu selalu membayang-bayangi dan kembali membuat saya merenungkannya. Selalu.

Beberapa tahun kemudian, Sedikit demi sedikit saya mulai mengerti apa artinya mencintai tanpa terobsesi. Saya tidak akan menjelaskan secara ilmiah perbedaan dari mencintai dan terobsesi karena saya ingin pertanyaan yang sama ini dapat menjadi renungan dan sebuah perjalanan untuk menemukan jawabannya, dan saya yakin jawaban yang akan ditemukan oleh masing-masing orang akan berbeda.

Yang jelas, yang saya rasakan sekarang adalah, sampai saat ini saya masih menyukai sepakbola dengan segala pernak-pernik yang menyertainya, tentu saja. Namun kini saya tidak pernah menyesal dan marah-marah lagi jika tidak bisa menyaksikan satu pertandingan penting yang disiarkan di televisi-untuk pertandingan final Piala Dunia sekali pun, saya tidak merasa berhutang jika tidak menyaksikan detik-detik terjadinya sebuah gol penentu kemenangan dari klub kebanggaan saya, dan yang paling melegakan adalah, bahkan saya juga tidak merasa sedih atau kecewa jika tim favorit saya pada akhirnya tidak membawa gelar juara di akhir kompetisi, serta, kini saya sanggup memberikan ucapan selamat dengan tulus kepada tim rival yang memenangkannya.

Lebih daripada semuanya adalah kini saya sanggup menikmati permainan sepakbola lebih daripada yang pernah saya lakukan sebelumnya. Saya mencintai sepakbola dengan perasaan bahagia.

jakarta, 5 Maret 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s