Dua Pertanyaan dan Arti Kesabaran

Saya pernah membaca tentang sebuah pernyataan bahwa Seseorang dapat dinilai dari pertanyaan yang diajukannya. Saya setuju, namun sepertinya harus menambahkan satu hal lagi yaitu seseorang akan dianggap bijak apabila mengajukan pertanyaan yang tepat di waktu yang tepat.

Suatu hari, sepulang dari sebuah acara di luar kota, saya tiba di bandara Soekarno-Hatta tepat di jam 12 siang. Saat itu Jakarta cuacanya panas, sehingga membuat gerah. Kepala saya terasa pusing, mungkin karena waktunya makan siang, namun saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan supaya dapat segera sampai di rumah.

Setiba di daerah Slipi, taxi yang saya tumpangi mulai berjalan merambat karena jalanan semakin padat dengan berbagai macam jenis kendaraan, saya mulai sadar bahwa di jam makan siang jalanan di jakarta hampir selalu macet. Mobil melaju pelan sebelum akhirnya benar-benar berhenti. Kemacetan di Jakarta mungkin tidak ada obatnya, pikir saya.

Lebih dari 3 jam taxi yang saya tumpangi berada di tengah kemacetan. Meski kepala saya semakin pening, saya berusaha untuk menenangkan diri, saya ingin sekali segera tiba di rumah, membayangkan bisa makan siang dengan lahap, minum bergelas-gelas air putih yang dingin kemudian mandi dan istirahat di rumah dengan nyaman. Saya berusaha menghayati arti kesabaran menurut definisinya, “Kesabaran adalah kemauan seseorang untuk menahan penderitaan, karena itu kesabaran tidak berbatas,” saya tarik nafas, lalu mengeluarkannya pelan-pelan, begitu seterusnya.

Di tengah kemacetan, tiba-tiba supir taxi yang dari tadi terlihat gelisah mengeluarkan suaranya, “Pak, saya boleh bertanya tidak?”

“Oh, iya boleh, silakan,” jawab saya ringan. Saya sudah biasa bercakap-cakap dengan para supir taxi di kota ini.

“Saya ada dua pertanyaan, pak,” lanjutnya.

“Ok, tidak apa-apa.”

“Yang pertama, kemana perginya sebuah lidah api di sebuah lilin yang ditiup ketika padam? dan yang kedua, kemanakah perginya roh orang-orang yang sudah meninggal?” ia bertanya dengan raut muka sangat serius.

Saya tahu ia tidak sedang bercanda, namun, dua pertanyaan itu membuat kepala saya rasanya ingin meledak di tengah 3 jam kemacetan Jakarta hari itu. Dan jika ada pilihan untuk bertanding tinju dengan pak supirnya, mungkin saya memilih untuk bertanding tinju saja daripada menjawab pertanyaannya.

Siang itu, saya benar-benar belajar apa artinya kesabaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s