Behind the Scene: In the Eye of the Storm (2)

Meski aku membeli banyak buku yang digunakan sebagai referensi, aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menjadi orang lain dalam berkarya, aku berusaha untuk tidak meniru gaya menulis dari penulis lain, meski hal ini butuh proses. Menurutku, proses menemukan jadi diri sendiri adalah proses yang harus dilakukan secara terus-menerus, sampai kapan pun. Hal itu lah yang akan menyebabkan karya kita nanti berproses, proses menemukan diri sendiri ini lah yang akan membuat karya kita semakin lama terlihat semakin dewasa.

Aku yakin bahwa beberapa saat lagi, dalam hitungan bulan, ketika membaca ulang buku pertamaku ini pasti aku akan tertawa geli, mungkin aku akan tertawa karena caraku menulis yang aneh, atau bahkan mungkin aku akan menganggap karya perdanaku ini sangat tidak sastra, atau malah tidak layak dibaca. Dan, saat itu lah aku akan tersenyum bahwa kemampuanku menulis telah berproses. Seni adalah sebuah petualangan pencarian jati diri yang tidak akan pernah tiba di tujuan akhir. Selalu dinamis dan berproses.

Penyanyi favoritku, Sting, pernah ditanya tentang bagaimana cara ia menciptakan lagu-lagunya yang hampir semuanya menjadi hits itu, dan ia menjawab, bahwa pertama kali yang dilakukan saat ingin menuliskan lagu adalah dengan menentukan ide cerita atau tema, dan langkah keduanya, yang menurutnya paling penting adalah menentukan struktur lagu tersebut, dia berkata bahwa dengan struktur yang baik akan sangat menolongnya melanjutkan ke langkah berikutnya, yaitu menuliskan liriknya. Bagi saya, yang dikatakan oleh Sting ini membantuku untuk menulis. Ia tidak memulainya dengan pikiran kosong saat pertama kali menulis lagu tetapi sudah mempunyai tema dan plot sebelumnya, pemahaman seperti ini membuatku lebih mudah menyelesaikan tulisan sampai akhir karena sudah ada alur dan tujuan cerita. Hal ini menjawab pertanyaan mengapa banyak yang mulai menulis namun terhenti di tengah jalan karena ‘tersesat’, ibarat sebuat perjalanan, karena tidak mempunyai rute dan tujuan akhir yang jelas.

Setelah mempunyai ide tema, plot dan referensi buku yang cukup, maka aku segera mulai menulis. Ketika menulis, hal yang membantuku mendapatkan mood yang baik adalah dengan memilih dan mendengarkan lagu yang sesuai dengan bagian cerita yang sedang kutulis, karena aku berharap ketika pembaca membaca bagian tersebut akan mempunyai perasaan yang sama seperti ketika aku menuliskannya. Contohnya, ketika aku menulis bab 2 kisahku, aku juga ikut menangis tersedu, membayangkan tokoh yang sedang aku tulis kisahnya, meskipun tokoh tersebut adalah diriku sendiri.

Yang terakhir adalah setiap bab yang selesai aku tulis, segera aku posting di Facebook notes atau posting di blog. Hal ini membantuku mengetahui respon langsung dari pembaca, dan selain itu setiap komentar yang ditulis pasti dapat menjadi pembangkit semangat yang manjur untuk segera melanjutkan tulisan lagi hingga akhir.

Sekarang aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk sahabat-sahabat sudah membaca kisahku, yang telah membantuku melalui perjalanan ini, dan respon mereka yang berwujud jempol ‘LIKE’, komentar dan juga testimoni yang telah dikirimkan melalui email pribadiku. Tanpa dukungan dari kalian aku mungkin tidak akan pernah menyelesaikan perjalanan ini. Terima kasih dan God bless you!

Jangan berhenti berkarya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s