Behind the Scene: In the Eye of the Storm

Hari ini, Minggu 24 Februari 2013. Akhirnya, aku berhasil menuntaskan salah satu Pe-eR yang telah lama aku inginkan untuk segera selesai, yaitu menerbitkan buku sendiri (Berjudul: In the of the Storm), secara mandiri, artinya, aku mengerjakan sendiri semuanya, mulai dari mencari ide, menyusun draft awal, mencari data, membuat desain sampul, sampai mengurus nomor ISBN. Kecuali untuk editing, dibantu oleh sahabatku, Nina, karena aku yakin dia lebih teliti daripada aku.

Bagiku ini momen penting, sebuah jalan yang tidak pernah aku lalui sebelumnya, juga, setidaknya jika bertemu dengan penulis profesional aku bisa mempromosikan bukuku sendiri dengan tidak minder 🙂

Beberapa teman yang mengetahui bahwa aku sedang menulis sebuah buku, datang kepadaku dan membawa beberapa pertanyaan, antara lain: bagaimana caranya supaya bisa menulis? Bagaimana bisa menyelesaikannya? Bagaimana cara memulainya? Sampai dengan pertanyaan yang lebih teknis, seperti: Apakah saat menulis novel terlebih dahulu membuat plot? Bagaimana menjaga supaya pembaca tidak bosan saat membaca tulisan kita? Atau, bagaimana mencari tema yang baik? Bagaimana membuat dialog dalam sebuah cerita? dan berbagai pertanyaan lainnya.

Sekarang, aku tidak akan memberikan tips menulis, karena aku merasa masih jauh dari kata bagus untuk ukuran seorang penulis, aku hanya akan menceritakan bagaimana caraku menulis buku pertamaku yang berjudul “In the Eye of the Storm”, jika dalam sebuah film, tulisanku kali ini bisa disebut sebagai behind the scene-nya, proses dibalik pembuatan sebuah karya. Mari kita mulai! Semoga bermanfaat 🙂

Diawali dengan mencari tema. Aku merasa tricky dalam hal ini, karena dengan sengaja mencari tema yang paling mudah, tema yang dekat dengan hidupku, tema yang benar-benar tidak memerlukan waktu untuk riset yang banyak, tema yang tidak membutuhkan data-data yang sulit, maka, sebagai penulis pemula aku pilih tema tentang kisah hidupku sendiri. Cukup tricky, kan? 🙂

Menulis dengan mengangkat kisah hidup sendiri (untuk kasusku, sebut saja buku mini-autobiografi) keunggulannya adalah dengan mudah dipastikan kisah tersebut akan otentik, orisinil dan pasti unik (Karena saya yakin setiap manusia diciptakan dengan unik), namun tidak berarti tidak ada tantangannya, tantangan terbesar adalah pembaca akan mudah bosan. Mengapa bosan? Karena isi keseluruhannya akan membicarakan tentang kita saja. Kita sebagai lakon utamanya, tidak ada yang lain.

Saya setuju dengan kutipan ini, “Tidak ada yang lebih membosankan daripada mereka yang selalu membicarakan dirinya sendiri.” Membaca buku adalah seperti mendengarkan si penulis berbicara, dan semua orang pasti betah berkomunikasi dengan orang baru yang menyenangkan. Bagaimana menjadi orang baru yang menyenangkan? Jujur, sku tidak tahu, yang aku bisa pastikan adalah orang baru tersebut pasti tidak terlalu banyak berbicara tentang dirinya sendiri, bukan? Penekanannya ada di kata ‘terlalu banyak.’ Begitu juga sebaliknya, seseorang yang baru kita kenal akan terasa menyenangkan jika ia bisa berkomunikasi dengan baik dengan kita. Bagaimana caranya supaya bisa berkomunikasi dengan baik dengan pembaca dalam sebuah buku? Itulah tantangan terbesarnya, ada yang bilang itu dibutuhkan latihan terus-menerus dan pengalaman yang banyak. Aku sendiri juga tidak yakin apakah buku yang telah aku tulis tersebut tidak membuat bosan pembaca, namun, jika ada yang bosan, please, aku memohon supaya buku tersebut disumbangkan untuk mereka yang kekurangan bacaan, please, hehehe.

Setelah mengetahui tema yang akan aku tulis, langkah berikutnya adalah pergi ke toko buku dan membeli buku novel sebanyak-banyaknya (baca: secukupnya uang di kantong). Ok, aku mengaku bahwa selama ini jarang sekali membaca buku novel fiksi. Bertahun-tahun aku hanya membeli dan membaca buku non fiksi dengan kategori bisnis atau buku rohani. Novel yang ku beli hanyalah Laskar Pelangi dan yang terakhir beli bukunya Ika Natassa, Antologi Rasa, naksir desain sampulnya juga sih pada saat itu, hehe. Apakah habis dibaca semua? Belum, hanya sebagian saja. Bukan karena isinya kurang bagus, namun memang karena aku tidak suka membaca novel.

Namun, untuk kepentingan menulis buku mini-autobiografi ini, akhirnya aku membeli beberapa novel untuk dipelajari struktur dan cara penulisannya. Aku membeli dua bukunya mas Iwas Setyawan, berjudul ‘Ibuk’ dan ‘9 summers 10 autumns’, kemudian aku membeli ‘the Help’ yang versi berbahasa Inggris, lalu dua bukunya Paulo Coelho: ‘the alchemist’ dan ‘Winner Stand Alone’, aku membeli juga‘Cantik itu Luka’ karya Eka Kurniawan, aku membeli bukunya Lan Fang, ‘Sonata Musim Kelima’, aku beli‘Bumi Manusia’-nya Pramoedya Ananta Toer, serta buku ‘Empress Orchid’  novel indah yang bersettingsejarah China, dan untuk kategori buku biografi, aku membeli buku biografi ‘Eintein’, karya Walter Isaacson, yang juga menulis buku biografinya Steve Jobs, salah satu tokoh yang dihormati di era bisnis modern, dan beberapa buku lainnya.

Apakah aku baca sampai habis semua buku tersebut? Tentu saja tidak, hehehe :). Seperti yang telah aku katakan, bahwa aku hanya ingin mempelajari karya-karya hebat tersebut. Aku hanya meyakini bahwa buku yang baik akan memberikan banyak pelajaran lebih banyak daripada seharian menonton televisi.

Dan, ternyata memang benar, dalam perjalanan sebelas hari menulis novelku, buku-buku yang telah aku beli tersebut tidak pernah gagal untuk memberikan banyak inspirasi, setidaknya, mereka tidak pernah gagal membangkitkan gairah menulis disaat-saat dilanda kemalasan.

Masih ada beberapa hal behind the scene yang akan aku ceritakan lagi, namun supaya tidak terlalu panjang dan membosankan aku akhiri sampai di sini dahulu saja 🙂

Sambil menunggu lanjutannya, kamu boleh memberikan komentar tentang apa yang kamu lakukan saat menulis sebuah buku menurut versimu sendiri. Silakan ditulis komentarnya di bawah ini, Monggo…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s