In the Eye of the Storm (Part 10)

Bulan pertama bekerja di Jakarta adalah masa-masa emas bagi saya. Sejak saat itu, saya sangat mengerti benar betapa bersyukurnya seseorang yang mempunyai pekerjaan, terutama bagi seorang pria yang sudah menjadi kepala keluarga yang sudah lama berusaha menginginkan mempunyai pekerjaan di jakarta, seperti saya. Setiap pagi saya tidak pernah terlambat datang ke kantor, bahkan saya mengerjakan semua tugas saya melebihi yang diharapkan oleh atasan.

Bos saya berada di Bali, tidak sekantor dengan kami di Jakarta, jadi setiap kali berkomunikasi dengan beliau hanya melalui chatting di Yahoo Messenger, maka ketika beliau berkunjung ke Jakarta, beliau mengatakan ingin segera bertemu dengan saya. Saya pun bertanya-tanya.

“Kamu yang bernama Brilliant?”

“Iya, pak, panggilan saya Ega” Saat itu jam kantor sudah usai, semua teman-teman saya satu ruangan sudah pulang ketika si bos tiba-tiba datang menghampiri di meja tempat saya bekerja.

“Kamu tidak pantas dapat gaji segitu” dia berkata sambil menepuk pundak saya.

Sontak saya kaget mendengar kata-katanya, masih tidak tahu apa yang sedang ia maksudkan.

“Iya, kamu tidak pantas dapat gaji cuma dua juta, saya sudah melihat bagaimana kamu bekerja, bulan depan gajimu saya naikkan menjadi tiga juta.”

Seketika mulut saya bergetar, mata saya menatapnya tidak percaya. Saya tetap berusaha keras untuk tidak menangis di depannya.

“Terima kasih, pak. Saya sangat menghargai itu.”

“Sama-sama, baiklah, sekarang kamu cepat segera pulang. Sudah malam”

***

Saya pulang malam itu dengan tidak kuasa menahan tangis. Sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya bersyukur.

Tuhan tidak pernah tertidur.

 

***

Sayangnya, saya hanya beberapa bulan saja bekerja di perusahaan itu, meski sebentar namun masa-masa itu sudah mampu membangkitkan lagi kepercayaan diri yang selama ini roboh. Semangat saya bekerja sudah hampir pulih.

Beberapa bulan kemudian salah satu perusahaan handphone lokal yang lebih besar menerima saya untuk menjadi karyawan pertamanya. Perusahaan handphone lokal ini baru akan berdiri.

Mendirikan sebuah perusahaan adalah hal yang pernah saya lakukan sebelumnya, sehingga saya tahu benar langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan. Mungkin karena alasan itu saya ditawari bekerja di perusahaan yang baru berdiri ini.

***

Beberapa bulan saya mendapatkan pekerjaan memang mampu menyelesaikan masalah kepercayaan diri saya untuk hidup, namun belum mampu menyelesaikan permasalahan utama saya saat itu, yaitu mencukupi kebutuhkan keluarga. Keluarga saya masih hidup pas-pasan. Semua gaji yang saya terima hanya cukup untuk biaya transportasi– karena jarak yang lumayan jauh, dan makan sehari-hari untuk saya saja.

Masalah besar yang sedang di depan mata adalah biaya persalinan istri saya yang satu bulan lagi akan melahirkan. Tabungan yang selama ini kami simpan sudah tergerus habis tinggal separuh, pasti tidak cukup untuk membiayai persalinan normal, apalagi nanti jika harus melakukan operasi caecar, minimal kami harus mempunyai dua puluh juta rupiah. Entah darimana lagi saya harus mengumpulkannya. Saya tidak punya jalan keluar lagi.

***

Genap satu bulan lebih satu minggu saya bekerja di perusahaan baru, saya minta ijin tidak masuk kantor, sejak jam 3 pagi istri saya mengeluh perutnya sakit, segera saya mengantarkannya menuju rumah sakit Asih. Saat-saat melahirkan sudah tinggal beberapa jam lagi. Hal ini sesuai dengan perhitungan dokter pada saat awal kami memeriksa kandungan.

Hari itu seluruh kamar penuh dengan ibu-ibu hamil yang ingin melahirkan– semuanya ingin dilahirkan secara operasi caecar, maklum saja, hari itu adalah tanggal cantik, kata kebanyakan orang, tanggalnya 08-08-08. 8 Agustus tahun 2008.

Hampir seluruh stasiun TV sedang ramai memberitakan tentang acara pembukaan olimpiade ke 29 yang berlangsung di Beijing yang dilangsungkan pada hari ‘cantik’ itu, banyak pasangan yang memilih menikah juga pada tanggal itu.

Dalam budaya Tionghoa, angka 8 memang diasosiasikan sebagai angka kemakmuran dan keberuntungan yang tiada habisnya, merujuk bentuk angka 8 yang tidak putus.

Di saat semua orang dengan mudah lebih memilih mengeluarkan biaya lebih banyak untuk melahirkan secara caecar di hari itu, saya malah berdoa supaya istri saya dapat melahirkan dengan lancar, selamat dan jika memungkinkan istri saya tidak kambuh sakit asma yang dideritanya, sehingga dapat melahirkan anak kami dengan normal, tujuannya supaya biayanya murah. Saya tidak peduli nanti akan melahirkan tanggal berapa saja.

Hidup memang tidak adil.

***

Sore hari, jarum jam sudah menunjukkan angka tiga, istri saya sudah mulai merintih kesakitan, saya berpikir bahwa saat melahirkan tidak akan lama lagi, namun, dokter yang akan menangani belum juga datang. Hanya ada suster yang mondar-mandir di depan kamar kami, dan sesekali menengok. Mereka terlihat sangat sibuk sejak pagi hari. Terhitung ada 17 ibu hamil pada hari itu yang harus melakukan melahirkan secara caecar. Bayangkan sendiri betapa rame dan sibuknya rumah sakit bersalin kecil yang biasanya sepi dan tenang ini.

***

Istri saya mulai teriak-teriak kesakitan, saya hanya mampu memegang tangannya tanpa bisa berbuat apa-apa. Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi selain berteriak-teriak memanggil suster atau dokter berulang-ulang. Saya mulai panik karena dokternya belum datang juga. Teriakan istri saya semakin keras.

Syukurlah, tidak lama kemudian, dokter kami datang, dengan septong kain sebesar sapu tangan menutupi mulut dan hidungnya, serta jubah lengkap untuk operasi persalinan. Ia meminta maaf, karena baru saja melakukan operasi caecar, ia menjelaskan bahwa hari itu ada tujuh belas pasien yang harus dioperasi sejak jam 6 pagi. Saya hanya mendengarkan saja penjelasannya.

Dengan cekatan dan dibantu oleh dua suster, ia mulai menangani istri saya memasuki saat-saat kritis persalinan.

Tangan istri saya memegang semakin kencang, ia berteriak-teriak kesakitan. Erangannya semakin kencang pasti sampai terdengar dari kamar sebelah. Saya menjadi gugup. Jantung saya berdebar dengan kencang, keringat dingin mulai menyelinap di sekujur tubuh. Mata saya tidak kuasa menahan air mata melihat perjuangan istri saya hingga kesakitan seperti itu. Saya hanya mampu memandanginya. Saya tidak dapat berbuat apa-apa, meski jarak kami sudah berdekatan. Ia sedang berjuang dalam pertempuran yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun, termasuk oleh saya, suaminya.

Saya terdiam menyiapkan diri, berpikir untuk menghadapi segala keadaan yang mungkin saja akan terjadi di saat kritis seperti ini.

Waktu seakan membeku, berhenti berdetak.

Saya berdiri mematung, menatap nanar.

 

***

Kami berdua berjanji bertemu di gedung perpustakaan Universitas Surabaya jam 13.00 WIB. Dia datang terlambat kira-kira satu jam dari rencana, cukup lama, bahkan aku sempat berpikir bahwa hari ketidakberuntunganku akan aku alami — lagi, tetapi tekad di dalam hati sudah bulat.

Meski begitu, aku menunggunya. Pasti.

Tak lama kemudian, aku melihat dia datang dengan senyuman. Senyum termanis yang pernah kulihat, yang masih aku ingat sampai saat ini. Masih kuingat juga bau harum badannya, dan bagaimana dia melambaikan tangannya kepadaku dari kejauhan.

April, sebelas tahun yang lalu, aku memberanikan diri untuk mengatakan satu kata yang dapat mempengaruhi seluruh perjalanan hidupku di masa depan. Setelah menunggu selama sepuluh hari, di gedung perpustakaan itulah dia berjanji akan memberikan jawabannya atas pertanyaanku. Pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh seorang pemuda kepada pemudi yang berhasil mencuri hatinya. Pertanyaan yang mungkin menjadi Frequently Asked Questions di dunia anak muda.

Sepuluh hari di masa penantian, bagiku lamanya melebihi waktu yang dibutuhkan sebuah kuncup bunga hingga mekar sempurna, bukanlah waktu yang pendek bagiku. Entah kenapa dia perlu waktu selama itu untuk memberikan jawaban. Mungkin hanya wanita yang dapat menjelaskannya.

Sebagian besar para pria seringkali merasa tidak mengerti kenapa para wanita selalu terlihat ragu-ragu atau kurang cepat memberikan jawaban atas pertanyaan singkat itu. Terlalu bermain dengan perasaan, kata teman-teman pria-ku.

April, sebelas tahun yang lalu, di gedung perpustakaan itu, akhirnya dia hanya mengangguk. Entah, tanpa kata-katapun aku sudah sangat senang menyadari impianku menjadi kenyataan. Mungkin jika di-animasi-kan dalam film kartun jepang, setting backgroundnya sudah berganti dengan penuh bunga-bunga warna-warni yang bermekaran dan wajahku sudah merah jambu dan memancarkan cahaya keemasan.

April, sebelas tahun yang lalu, aku dengan bergegas langsung pergi ke lokasi ATM, mengubah tanggal bersejarah hari itu menjadi nomor PIN. Itulah sebabnya aku tidak akan pernah mengatakan kepada siapa pun tentang tanggal bersejarah itu. Biarlah hanya kami berdua, dan gedung perpustakaan Ubaya yang menjadi saksi bisu.

April, sebelas tahun yang lalu, ketika kita pertama kali menonton bioskop yang memutar ‘Serendipity’, dia terlambat menemuiku. Ketika bertemu pun sudah ada air mata pertama kali yang kulihat membasahi pipinya. Ketika aku tanya, hanya ada jawaban yang mengisyaratkan bahwa mungkin ini adalah kesempatan yang pertama dan terakhir kami nonton bioskop berdua.

Mendengar itupun aku hanya bisa berserah. Di masa-masa itu aku sudah terlalu akrab dengan ketidakberuntungan.

April, sebelas tahun yang lalu, kami memulai saling menyembuhkan luka-luka yang ada di hati masing-masing dengan cara konvensional, murah dan sangat sederhana. Kami selalu berpelukan di setiap kesempatan yang mendukung, dan selalu berpelukan –lagi– di setiap malam ketika aku pamit untuk pulang dari rumahnya.

Belum sembuh total memang, dan aku berjanji akan tetap melakukan terapi ini selama kami masih mampu.

Aku hanya bisa mengucap syukur atas semua keputusan, hambatan, dan tantangan di sepanjang perjalanan yang sudah, sedang dan akan kami lewati bersama.

Aku hanya ingin suatu saat bisa berbicara dengan anakku bahwa… April, sebelas tahun yang lalu, ayahnya memutuskan untuk selalu mengasihi dan melindungi ibu mereka.

 

Selamanya.

 

When the rain is blowing in your face,

And the whole world is on your case,

I could offer you a warm embrace

To make you feel my love.

 

When the evening shadows and the stars appear,

And there is no one there to dry your tears,

I could hold you for a million years

To make you feel my love.

 

I know you haven’t made your mind up yet,

But I would never do you wrong.

I’ve known it from the moment that we met,

No doubt in my mind where you belong.

 

I’d go hungry; I’d go black and blue,

I’d go crawling down the avenue.

No, there’s nothing that I wouldn’t do

To make you feel my love.

 

The storms are raging on the rolling sea

And on the highway of regret.

Though winds of change are blowing wild and free,

You ain’t seen nothing like me yet.

 

I could make you happy, make your dreams come true.

Nothing that I wouldn’t do.

Go to the ends of the Earth for you,

 

To make you feel my love.

 

 

*To Make You Feel My Love ~ Bob Dylan*~> http://www.youtube.com/watch?v=iPIP0tieWWI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s