In the Eye of the Storm (Part 9)

Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? ~ Raja Daud.

“Nama kamu bril-li-ant-yo-te-ne-ga?” suara yang sama– suara yang tadi pagi menelpon meminta untuk wawancara pekerjaan– dengan nada heran.

“Benar, pak” Saya menjawab sambil mengubah posisi duduk dalam posisi tegak. Saya tidak ingin terlihat lesu.

Sebenarnya keheranan seperti itu selalu saya dengar setiap kali bertemu dengan orang baru. Sebentar lagi mereka akan bertanya lagi darimana saya berasal, apa artinya nama saya, dan seterusnya, dan seterusnya. Saya sering berpikir bahwa ini kesalahan ayah saya mengapa beliau memberikan nama yang tidak lazim untuk orang Indonesia. Kurang membumi, terlalu berat, terlalu diawang-awang, kebarat-baratan, dan banyak lain istilah yang orang-orang sudah katakan kepada saya, saat mereka mengetahui nama lengkap saya. Saya sendiri kadang-kadang merasa untuk seorang anak yang besar di sebuah kampung kecil, nama lengkap saya terlalu sombong, kurang rendah hati, karena itu sejak kelas 6 SD saya selalu menyingkat nama saya di setiap buku-buku pelajaran yang saya miliki, saya tulis menjadi: B. Yotenega. Saya berharap akan terlihat sedikit membumi.

“Keturunan Jepang? Ambon? Atau Manado? Kalo Batak…. pasti tidak mungkin karena saya tidak pernah mendengarnya. Nama saya Hotman” Pria tersebut memperkenalkan dirinya sambil meyodorkan tangan kanannya. Saya menyambut tangannya dengan tegas layaknya para pebisnis yang sepakat dalam sebuah perjanjian penting.

“Saya orang jawa, pak Hotman. Ayah saya mungkin terlalu kreatif memberi saya nama itu, kata Yotenega itu bentukan dari tanggal lahir saya: ti-ga-ju-ni, jadi te-ga-yo-ne, diacak menjadi yotenega.”

“Oh, kreatif juga ayahmu”

“Iya, pak, ayah saya seorang pelukis.”

“Pantes, seniman” jawabnya datar sambil terus mengamati berkas-berkas surat lamaran milik saya

“Jadi, kamu asli Surabaya…, sekarang pindah satu keluarga ke jakarta,… pernah bekerja sebagai desainer grafis di sebuah percetakan di Surabaya. Lalu, kamu terakhir pernah menjadi manager operasional di Neo Imago? Perusahaan apa ini?”

“Neo Imago itu perusahaan percetakan, digital printing di Surabaya, seperti digital printing “Subur” yang ada di jalan wolter monginsidi”

“Oh, i see.” Kembali ia mengamati berkas-berkas saya. “Kamu sudah tahu, kan? Perusahaan ini sedang membutuhkan tenaga kreatif untuk desain grafis.”

“Iya, pak. Saya tahu.”

Setelah pertanyaan itu ada beberapa pertanyaan mengenai pengalaman pekerjaan saya yang ia ajukan. Seperti biasa, saya mencoba menjawabnya dengan antusias. Saya berusaha melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan.

***

“Ok, saya kira dari saya cukup, kamu akan saya perkenalkan dengan Bapak Stevanus, dia manager marketing yang akan menjadi atasanmu nanti.”

“Jadi saya sudah diterima bekerja di sini, pak?” tanya saya dengan sedikit terkejut.

“Oh, belum, belum.., kamu harus test dulu hari ini, nanti akan dijelaskan oleh Pak Steve.”

“Baik, pak!”

Pak Hotman– yang kemudian saya tahu jabatannya adalah manager HRD– kemudian mengangkat telepon dan berbicara sedikit menjelaskan tentang profil saya kepada seseorang yang diteleponnya, kemungkinan adalah Bapak Stevanus yang ia sebut sebelumnya.

Tidak lama kemudian, muncul dari balik pintu ruangan seorang pria muda, berumur sekitar tiga puluh lima tahun, bermata sipit, berambut jabrik. “Halo, Brilliant, nama saya Stevanus, panggil saja Steve. Kita langsung test desain saja ya”

“Iya, pak” Kami kemudian menuju ke suatu ruangan di lantai satu yang terdapat tiga-empat komputer di mejanya.

“Kamu biasanya menggunakan Mac atau PC?”

“PC, pak. Belum mahir menggunakan Mac”

“Software yang biasa digunakan?”

“Saya mahir menggunakan Corel Draw dan Photoshop, pak”

“Ok, saya pikir itu cukup”

Mendengar jawaban itu saya sedikit lega. Saya sudah lama tidak menggunakan kemampuan saya mendesain. Semoga tidak terkikis akibat tekanan yang saya alami selama ini.

Hari itu saya diberi waktu sampai jam 3 sore untuk mengerjakan tiga tugas, tiga buah konsep desain untuk promosi; desain untuk brosur, poster dan iklan koran untuk produk perusahaan mereka, yaitu sebuah handphone lokal–yang diimport dari China. Saat itu memang sedang booming handphone-handphone sejenis yang ada beredar di pasaran Indonesia.

***

Saya mengumpulkan energi dan pikiran untuk segera menyelesaikan tugas tersebut dengan baik, saya membayangkan kesempatan seperti ini tidak akan terjadi lagi, ini kesempatan saya untuk kembali bekerja, dan yang paling penting untuk memulihkan kepercayaan diri yang lama hilang.

Tepat jam 3 sore, tiga konsep desain yang saya kerjakan sudah selesai, saya serahkan file-nya kepada Bapak Steve. Sambil berharap dia puas dengan karya saya.

“Ok, saya akan periksa hasilnya nanti, kamu boleh pulang sekarang.”

“Kapan saya bisa mengetahui hasilnya, pak?” Saya beranikan diri untuk bertanya.

“Saya akan kabari besok.”

“Besok?”

“Iya, saya akan menelpon kamu besok siang, paling lambat jam 2. Tunggu saja” Jawabnya dengan tenang.

“Baik, saya menunggu kabar baiknya, pak Steve.” Kemudian saya pamit pulang. Saya berjalan menuju tempat parkir motor tepat di depan kantor.

***

Saya memacu kendaraan meninggalkan kantor itu, sebuah ruko berlantai tiga, bercat putih, jika dilihat dari depan mirip sepeti pusat service handphone. Gedung itu merupakan salah satu ruko dari ratusan ruko yang terletak di daerah Roxy, pusat perdagangan handphone terbesar di jakarta. Kita bisa membeli handphone tipe apa saja di Roxy, bahkan untuk handphone-handphone yang tidak pernah kita lihat sebelumnya.

Saya pulang dengan tidak bisa menyembunyikan kegembiraan saya sore itu, saya ingin hari segera berganti dengan cepat, menunggu keajaiban terjadi. Saya yakin kali ini Tuhan tidak akan lupa memberikan sedikit kelegaan kepada saya.

Dan, tiba-tiba…

Tanpa sempat menyadari apa yang sedang terjadi; Semuanya menjadi gelap, kepala terasa pening sekali, kaki terasa perih. Saya tersungkur di jalan raya, kaki saya tertindih sepeda motor yang roboh seketika. Tali tas laptop warna hitam yang saya bawa putus, resletingnya penutupnya sobek, beberapa kertas dokumen yang ada di dalam tas berhamburan keluar. Dalam adegan lambat, saya membayangkan adegan ini diiringi irama waltz, layaknya adegan saling tembak dalam film the Godfather. Tiba-tiba semuanya berantakan.

Tak lama kemudian saya mencoba membuka mata saya pelan, saya sudah berada di pinggir jalan, saya melihat beberapa orang mencoba mengangkat sepeda motor ke tepi jalan, beberapa lainnya berteriak-teriak, sayup-sayup saya mendengar suara mereka. Helm saya terlepas, namun kepala saya tidak berdarah atau pun memar. Untungnya tidak ada kendaraan yang menabrak ketika saya terjatuh.

Ya, Tuhan, adegan ini benar-benar seperti sinetron yang tayang setiap hari di stasiun TV swasta, terlalu dramatis, dan membosankan! Seandainya saya bisa berbicara kepada Tuhan –yang saya anggap sebagai sutradaranya–saat itu, saya pasti protes keras, bukan karena ‘kesialan’ saya bertubi-tubi datangnya, bukan. Saya hanya tidak habis pikir dengan lelucon yang  tidak lucu ini, plotnya klise. Mudah ditebak!. Kenapa sebuah cerita yang tokoh utamanya harus menderita, selalu terkena musibah berkali-kali? Ini terlalu berlebihan! Terlalu monoton!

Atau, jika saja ada komplotan malaikat jahat yang merencanakan ini, saya akan katakan kepada mereka bahwa skenario mereka sangat tidak kreatif, usaha mereka meneror tidak akan pernah dapat berhasil, Kami mungkin saja akan selalu menderita, namun pengaharapan kami akan selalu hidup. Tujuan mereka membuat kami putus asa tidak akan pernah berhasil.

Saya berkhayal saat merintih kesakitan.

Kemudian tersadar bahwa saya terjatuh sendiri saat mengendarai sepeda motor ketika melewati jalan Gatot Subroto, sebelah jalan tol dalam kota, sebelum belok ke kawasan Senayan. Saya kehilangan keseimbangan, mungkin karena dari pagi hari perut saya belum terisi makanan. Saya belum sarapan dan belum makan siang.

Saya ditolong oleh beberapa orang yang kebetulan melihat kejadian itu, mereka juga membantu saya mengumpulkan seluruh isi tas saya yang berhamburan di jalan. Semuanya terkumpul lengkap, termasuk laptop merah Acer Ferrari yang saya bawa. Ternyata masih banyak orang baik di jakarta.

Akhirnya, saya bisa pulang ke tempat kos dengan selamat. Jantung saya masih berdebar tetapi semuanya baik-baik saja.

***

“Kenapa celana jeansmu sobek?” tanya Neni malam harinya.

“Terjatuh dari sepeda motor saat pulang dari wawancara tadi” jawab saya sambil mematikan lampu kamar. “Cuma lecet-lecet saja kok”

“Oh.., lalu kapan mereka akan memberitahukan hasilnya?”

“Besok. Aku merasa kali ini…”

“Jangan banyak berharap lagi” istri saya memotong pembicaraan malam itu, kemudian memejamkan matanya untuk istirahat.

Hari yang melelahkan.

***

Setelah makan siang di warteg langganan keesokan harinya, saya memutuskan mencari koneksi wifi gratisan di Mc. Donald Kemang, salah satu tempat terdekat yang nyaman, ber-AC, dan menjual fast food! Tidak, saya tidak membeli makanan di sana, saya hanya membeli segelas lemon tea, murah, meriah, cukup untuk menjadikan alasan menggunakan wifi gratisan.

***

“Halo..” Saya mengangkat telepon genggam saya yang berdering.

“Ini Brilliant? Saya Steve dari Swahoo”

“Oh iya, pak Steve, ada kabar baik untuk saya?” Tanya saya setengah bercanda.

“Jadi begini, langsung saja yah, seandainya kami memilih kamu, kamu minta salary berapa?” Kali ini saya menganggap ini pertanyaan jebakan. Jebakan yang berkali-kali saya tidak berhasil melewatinya.

Saya sudah tiga kali gagal dalam proses wawancara pekerjaan di jakarta, salah satu analisa saya adalah ketika menjawab pertanyaan mengenai salary pasti saya menyebutnya dengan angka yang saya inginkan, saya selalu menyebut minimal lima juta per bulan — angka ini hasil dari perhitungan minimal per bulan untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya saat itu. Saya tidak ingin gagal lagi, tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan kesempatan lagi.

“Dua juta rupiah. Saya ingin mendapatkan gaji dua juta rupiah” jawab saya spontan

“Dua juta? Bener nih?”

“Iya benar, dua juta rupiah” saya yakinkan sekali lagi.

“Ok, kalau begitu tunggu sebentar” Sepertinya ia sedang berbicara dengan seseorang mengenai hal ini di seberang sana. Saya menunggu dengan jantung berdebar, takut ternyata salah menyebutkan angka lagi.

“Halo, ok, kalau begitu kamu diterima di perusahaan kami.”

Sontak saja hati saya melonjak kegirangan. Akhirnya, keajaiban itu nyata! Ini pencapaian tertinggi saya selama di Jakarta! Saya teramat gembira.

“Terima kasih, pak, terima kasih..” Rasa sukacita saya sulit disembunyikan.

“Kapan kamu bisa mulai bekerja di sini?”

“Besok, besok saya siap bekerja!” Langsung saya jawab.

“Hah? Besok?”

“Iya, besok. Bisa langsung masuk kerja besok kan, pak?”

“Iya, bisa, tapi besok itu hari Sabtu, kantor kami hanya buka setengah hari, dari jam sembilan pagi sampai jam satu siang saja”

“Oh, tidak apa-apa. Saya akan datang sebelum jam sembilan pagi.”

“Baik lah, sampai jumpa besok”

***

Jumat siang itu adalah hari paling bersejarah bagi saya. Saya ingin berteriak dengan keras, jika perlu menari-nari di atas meja seperti adegan film india –Tidak, saya bukan tipe seperti itu juga sih– saya ingin semua orang yang ada di Mc. Donald Kemang saat itu tahu bahwa saya sedang bersukacita. Rasanya seperti baru saja dibebaskan dari hukuman mati, kemudian divonis tak bersalah di pengadilan. Lega, haru dan bahagia bercampur menjadi satu.

***

“Aku diterima! Aku diterima! Woohooooo!” Saya berteriak saat menelpon Neni.

“Puji Tuhan, akhirnya…” Suaranya terdengar gembira.

“Aku besok mulai bekerja, aku senang sekali! Mereka membayarku dua juta rupiah, tidak apa yah?”

“Iya, tidak apa-apa. Kita akan cukupkan dengan apa yang ada”

“Aku harap bisa memelukmu sekarang”

“Hehe.. gak bisa lah”

“I Loveeee youuu!”

“Love you too..”

***

Saya berharap semua itu menjadi awal, sebuah permulaan kehidupan kami untuk kembali normal seperti keluarga-keluarga baru lainnya.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir saya bisa tersenyum dan tidur dengan nyenyak. Dan jarum jam masih terus berdetak tanpa pernah menunggu..

I see skies of blue, And clouds of white. 

The bright blessed day, 

The dark sacred night. 

And I think to myself, 

What a wonderful world.

~ Louis Armstrong

*Bersambung*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s