In the Eye of the Storm (Bagian 7)

Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. ~ St. Paul.

Godaan untuk mengambil jalan termudah selalu ada, dan itu ada di depan mata. Saya sadar bahwa ada satu jalan pintas yang mudah untuk masalah kami ini, jika saja kami mau mengambilnya pasti keadaannya tidak akan seburuk ini. Keluarga istri saya pasti mau membantu jika kami berterus terang menceritakan yang sebenarnya terjadi dengan keluarga kami — tepatnya apa yang terjadi dengan saya.

Jika saya dengan berani memohon untuk meminta bantuan, mereka pasti akan memberikan bantuan, mungkin saya akan diberikan modal untuk memulai usaha sendiri dan banyak hal lain supaya kami dapat hidup normal kembali. Hal paling buruk yang kemungkinan terjadi –meski saya tidak yakin tentang hal ini– adalah mereka akan tetap membantu kami, sambil berpikir saya adalah seorang penipu yang berhasil memperdaya anaknya supaya menikah dengan saya. Hal ini wajar saja, karena cerita kami pasti terkesan tidak masuk akal, mengada-ada. Sebuah cerita yang hampir pasti tidak pernah dibayangkan oleh semua pasangan yang baru saja menikah. Bangkrut sesaat setelah menikah. Tipikal cerita yang ada di sinetron TV.

Namun, jalan pintas itu tidak pernah kami ambil karena seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, saya pasti akan sangat malu sebagai kepala keluarga jika harus meminta bantuan meskipun keadaannya sangat-sangat mendesak. Biarlah saya berusaha dahulu hingga waktu yang tak terbatas. Ini adalah jalan yang harus kami tempuh.

Kami mengunyah buah pahit awal kehidupan bersama ini, menyesap rasanya pelan-pelan.

***

Mengadakan fashion show adalah agenda rutin tahunan dari perusahaan keluarga mertua saya, minimal tiga kali dalam satu tahun untuk brand yang berbeda-beda. Malam itu saya termasuk yang harus datang. Bagi saya ini hiburan yang pasti menyenangkan. Ini pengalaman pertama saya melihat sebuah peragaan busana yang berkelas di Jakarta, saya benar-benar ingin tahu apa saja dan siapa saja yang bakal hadir di sana. Ini kesempatan untuk mengamati kehidupan yang selama ini hanya bisa saya bayangkan, dan hanya saya lihat di film dan majalah-majalah fashion ternama.

Saya memakai jas yang sama dengan yang saya pakai saat seremoni pernikahan bulan November tahun lalu, hanya itu satu-satunya jas yang saya punya. Sepatu pun juga sepatu yang sama, sepatu bermerek Yongki Komaladi berwarna hitam dan kusam karena tidak pernah disemir. Saya memakai hem putih dan celana kain hitam. Malam itu, saya menyamankan diri dengan apa yang saya pakai, sadar bahwa tidak mungkin mampu menyaingi keglamoran para tamu yang hadir.

Kami datang lebih awal di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, tempat acara akan berlangsung, para tamu belum ada yang hadir. Tidak lama kemudian satu-persatu mereka datang, antri masuk ke dalam gedung. Suasana dalam gedung sudah ditata apik, kesan mewah dan elegan langsung terlihat, selaras dengan tema fashion show malam itu. Terdengar alunan musik klasik menambah kesan mewah

Saya mengamati para tamu yang hadir, kebanyakan para wanita-wanita kaya di Jakarta, terlihat dari pakaian, sepatu, dan tas yang mereka bawa. Segala sesuatu yang melekat di tubuh mereka kualitasnya jelas berbeda seperti yang biasa saya lihat di pasar Tanah Abang.

Aroma aneka parfum semerbak di seluruh ruangan. Mereka tampak saling mengenal satu sama lain, setiap berpapasan dengan orang lain pasti saling menyapa, entah itu bagian dari basa-basi atau tidak. Obrolan mereka seringkali disisipi dengan bahasa Inggris. Pertama kalinya saya melihat sendiri apa yang selama ini disebut kaum sosialita dengan jumlah hampir seribu orang.

Berada di tengah-tengah banyaknya orang dengan suasana mewah dan glamor seperti itu membuat saya seperti makhluk asing dari planet yang terpencil di tata surya. Jakarta sudah seperti Milan atau Paris, pikir saya.

Acara sebentar lagi mulai, istri saya bertugas di back stage, saya memilih untuk duduk di tempat para wartawan dan fotografer, berdiri di ujung catwalk, lokasi yang paling strategis untuk mengambil gambar para model berlenggak-lenggok memperagakan baju-baju haute couture, yang harganya mungkin tidak mampu dibeli oleh para modelnya, kecuali memang berasal dari keluarga kaya, ironis.

Di situlah saya berdiri, di antara kerumunan para fotografer yang menggunakan kamera profesional yang berlensa panjang, dengan tetap tenang mengabadikan momen itu dengan kamera handphoneSony Ericsson tipe K750 yang sudah usang.

Acara berlangsung selama tiga jam, termasuk pesta setelah acara peragaan busana berakhir, segala makanan mewah tersedia, dari makanan khas Jepang sampai makanan eropa, dan tentu saja saya mencicipi anggur yang ditawarkan para pelayan yang berkeliling. Saya menikmati acara itu, cukup memanjakan mata, selera desain saya disegarkan kembali. Sebuah pesta desain dan musik yang sempurna.

Sebagai orang daerah yang baru pertama kali melihat fashion show, saya sadar bahwa kota Jakarta berbeda dengan kota-kota lain dalam hal penghargaan terhadap suatu karya seni. Di Jakarta, sebuah karya desain sangat dihargai.

Malam itu saya sejenak melupakan apa yang menjadi beban pikiran.

Namun ketenangan itu tidak berumur panjang.

Sesampainya di tempat kos, saya kemudian mencuci muka, melepas sepatu dan menggantung jas yang tadi saya pakai.

“Besok waktunya kita membayar kos, kan?,” istri saya bertanya sambil menggantungkan baju pesta di lemari pakaian.

“Iya, sepertinya begitu, dan…”

“Dan kita akan mengambil uang tabungan lagi?”

“Kali ini tidak. Aku punya rencana, jika kamu setuju untuk…”

“Untuk apa?” tanyanya penasaran.

“Ini” jawab saya, sambil membuka sebuah kota mungil berwarna hitam, istriku tahu benar apa yang ada di dalamnya. Sebuah cincin berwarna perak pemberian oma mertua untuk saya saat kami melangsungkan pertunangan dulu.

“Besok aku akan ke tempat penggadaian, judur aku tidak pernah melakukan ini. Kita tidak menjualnya, hanya digadaikan, maksudnya, kita akan meminjam uang dengan jaminan cincin ini. Nanti jika saya sudah punya pekerjaan akan aku tebus kembali”

“Itu pilihanmu.”

“Iya, ini pilihanku.” Saya menatap istri saya dengan sedih. Perutnya terlihat semakin membesar, beberapa bulan lagi anak yang dalam kandungan itu akan lahir.

Kegembiraan pesta malam itu cepat sekali berakhir.

Love of my life – you’ve hurt me

You’ve broken my heart and now you leave me

Love of my life can’t you see

Bring it back, bring it back

Don’t take it away from me,

because you don’t know –

What it means to me

~ Queen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s