In the Eye of the Storm (Bagian 8)

Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku. ~ King David.

Setiap malam tiba ingin sekali dapat tidur dengan nyenyak dan berharap esok paginya terbangun dalam kehidupan nyata yang berbeda. Saya selalu berharap apa yang saya alami ini adalah mimpi, sebuah sandiwara, sebuah ilusi. Tidak pernah terjadi pada saya, juga pada keluarga saya.

Ingin sekali rasanya menuliskan kisah hidup saya setelah menikah dengan kalimat sederhana, “Maka, mereka akan hidup bahagia selama-lamanya. Tamat.”Seandainya hidup bisa semudah itu. Seindah kisah dongeng-dongeng yang ditulis H.C. Andersen, penulis dan penyair Denmark yang kisahnya dibaca hampir semua anak-anak di seluruh dunia.

Lebih daripada semuanya, dalam keadaan yang terpuruk seperti itu saya sadar bahwa saya telah menghancurkan impian seorang gadis cantik untuk bisa hidup bahagia dalam pernikahannya, dia adalah seorang gadis yang sudah memilih saya dengan penuh keberanian untuk menerima janji pernikahan yang telah diucapkan bersama di depan altar gereja sebagai simbol di hadapan Tuhan. Dia adalah Neni, istri saya.

Saya berusaha keras untuk mengerti perasaannya. Dia bisa saja lari dari keadaan buruk ini, dia bisa dengan mudah mengambil kunci mobil, membuka pintu, kemudian minggat dengan mobilnya menuju rumah keluarganya yang tidak jauh dari tempat kami tinggal. Dia bisa saja mengambil langkah gampang yang seringkali dijadikan alasan para artis-artis jaman sekarang saat diwawancarai oleh stasiun televisi, “Cinta kita sudah tidak sehat,” atau “Perpisahan ini untuk kebaikan kami berdua, kami sudah tidak cinta lagi,” kata-kata kosong, tanpa makna, yang laris digunakan bak jamur di musim penghujan, diobral dengan murah oleh para selebriti di televisi. Kata-kata sakti yang seringkali dimaklumi oleh pendapat umum jika seseorang sedang bermasalah dalam rumah tangganya. Namun, istri saya tidak melakukannya. Meskipun saya tahu bahwa besar sekali godaan untuk lekas mengakhiri keadaan tanpa kepastian ini dengan segera.

Janji pernikahan kami sedang diuji.

Terhitung lima bulan sudah keadaan kami tanpa ada kemajuan berarti. Email-email lamaran pekerjaan terus saya kirimkan, doa-doa setiap pagi yang kami panjatkan bersama sebelum istri saya bekerja seolah-olah hanya kata-kata tanpa kuasa.Kami mulai kelelahan, keadaan menjadi sangat buruk. Ditambah lagi kenyataan bahwa gaji yang diterima oleh istri saya hanya tiga juta, tidak cukup untuk mencukup biaya hidup sehari-hari.

Biaya tempat kos kami per bulan saja sebesar dua juta seratus lima puluh ribu rupiah, itu tidak termasuk biaya cuci pakaian. Biaya transportasi, membeli bensin, biaya makan dan banyak hal lain yang ternyata tidak pernah kami pikirkan tiba-tiba saja mendesak untuk kami keluarkan. Setiap langkah waktu yang berjalan sudah pasti semakin menggerus tabungan yang kami siapkan untuk biaya operasi persalinan yang sebelumnya kami perkirakan sebesar lima belas juta rupiah, sekarang hanya tinggal separuhnya. Bagaikan bom waktu, kami harus menghadapi semua ini.

Tekanan bagi kami berdua semakin besar seiring dengan semakin dekatnya waktu melahirkan. Jangankan membeli alat-alat perlengkapan untuk bayi beserta pernak-perniknya, kami bahkan tidak berani memikirkannya. Kami hidup sehari lepas sehari.

***

Sesekali saya menelpon orang tua saya di Surabaya, terutama ibu saya. Saya selalu bilang bahwa saya sangat merindukannya, saya berkali-kali memohon doanya supaya saya segera mendapatkan pekerjaan, juga memohon supaya ibu jangan telalu mengkuatirkan kami di Jakarta, kami akan selalu baik-baik saja. Saya juga selalu bilang bahwa saya tidak akan hilang pengharapan. Tentu saja, saya tidak akan membebani pikirannya, saya juga tahu, jika saya menceritakan semuanya, itu hanya menambah beban pikiran, kedua orang tua saya pasti juga tidak bisa membantu banyak selain dengan berdoa. Saya sangat percaya doa mereka besar kuasanya.

Mendengar suara ibu adalah obat paling manjur untuk mengobati rasa rindu kampung halaman.Tak terasa setiap kali menelponnya air mata ini berderai.

***

“Bapak Bril-li-ant-Yo-te-ne-ga?” terdengar di seberang sana suara pria dengan nada berat.

“Iya, benar, saya sendiri” jawab saya.

“Apakah Anda bersedia datang sekarang untuk wawancara pekerjaan di kantor kami?”

“Tentu saja, sekarang juga saya akan berangkat. Boleh saya tahu alamat kantornya?”

“Ok, silakan datang sebelum jam sepuluh pagi ini, alamatnya di Komplek Pertokoan ITC Roxy Mas Blok C5 No.10. jakarta”

“Terima kasih, pak. Saya akan datang segera.” sambut saya dengan yakin.

Meskipun belum sempat sarapan, saya langsung bergegas berganti pakaian, mempersiapkan diri untuk segera berangkat.

Ini kali keempat saya menerima panggilan wawancara pekerjaan di jakarta, meski begitu pengharapan kami tidak pernah hilang.

“Semoga kali ini berhasil” harap saya sambil mengecup kening istri.

Look, if you had one shot, or one opportunity

To seize everything you ever wanted in one moment,

Would you capture it or just let it slip?

~ “Lose Yourself”, Eminem.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s