In the Eye of the Storm (Bagian 6)

Mengharapkan hasil yang berbeda dengan melakukan hal yang sama adalah suatu kegilaan. ~ Albert Einstein.

Karena tidak ada satu pun panggilan pekerjaan dari puluhan surat lamaran yang saya kirimkan, saya mengganti strategi dalam mengirimkan surat lamaran pekerjaan.

Sebelumnya, karena saya melihat lowongan pekerjaan yang tersedia banyak, oleh sebab itu saya memilih-milih jenis pekerjaan seperti yang saya inginkan di jakarta, saya mengirimkan surat lamaran berdasarkan pekerjaan yang saya inginkan beserta syarat tertentu, hasilnya? Sudah satu bulan tidak sekali pun saya dipanggil wawancara. Tidak satu perusahaan pun yang menelepon. Secara logika, jelas saya salah karena hampir semua perusahaan mensyaratkan calon karyawannya minimal sudah mengantongi ijasah sarjana, namun saya tetap memaksa mengirimkan surat lamaran. Dalam CV yang saya tulis, saya mengatakan bahwa saya hanya memiliki ijasah SMA ditambahi dengan catatan bahwa saya pernah mengenyam bangku kuliah selama hampir 5 tahun. Perkiraan saya, hampir pasti saya tidak lolos di tahap awal penyeleksian.

***

Bulan kedua di Jakarta.

Saya mengubah keinginan saya dalam memilih lowongan pekerjaan. Saya tidak lagi memilih  jabatan level manager seperti yang sudah saya lakukan sebelumnya, meski jabatan direktur adalah jabatan terakhir yang tertera di kartu nama saya di pekerjaan sebelumnya. Karena dalam keadaan daerurat, kali ini saya tidak lagi pilih-pilih, saya mengirimkan surat lamaran untuk semua lowongan yang tersedia di situs-situs lowongan pekerjaan, mulai dari sales, desainer grafis, tenaga pengajar sampai kurir. Saya kirim semuanya. Saya tidak lagi ingin pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, saya tidak lagi ingin pekerjaan yang dekat dengan lokasi tempat tinggal –Jika Anda tinggal di Jakarta, Anda akan tahu pentingnya lokasi bekerja yang dekat–, saya tidak lagi ingin pekerjaan dengan gaji tinggi. Saya hanya ingin mempunyai pekerjaan. Apa pun pekerjaannya, saya ingin bekerja. Saya ingin meyakinkan diri saya bahwa saya masih bisa bekerja. Saya butuh bekerja. Sangat.

***

Minggu pertama bulan April 2008, strategi baru saya membuahkan hasil. Panggilan telepon yang saya sudah saya tunggu selama berbulan-bulan akhirnya terjadi. Pertama kalinya saya merasakan kegembiraan selama di Jakarta.

Panggilan pertama datang dari Filoli, Sebuah perusahaan Laundry, kantornya berlokasi di Jl. Pegambiran, daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Perusahaan itu membuka lowongan untuk satu orang sebagai Desainer Grafis, bidang yang pernah saya geluti. Saya yakin pasti bisa dan berharap sebentar lagi mempunyai pekerjaan, walaupun lokasi kantornya ternyata berjarak lumayan jauh dari tempat saya kos, ditambah macet dibeberapa ruas jalan yang harus dilalui.

Saya melakukan wawancara dengan manager HRD di ruang kantornya, saya membawa beberapa karya desain grafis yang pernah saya buat beberapa tahun yang sebelumnya sebagai portfolio. Saya juga berterus terang bahwa saya pernah berkuliah desain produk di Surabaya, namun tidak selesai. Setelah memberikan beberapa pertanyaan kepada saya, wawancara pun selesai. Tampaknya hari itu berjalan dengan baik, saya dijanjikan akan dihubungi satu minggu lagi jika lolos dalam tahap ini. Kemudian saya pulang dengan perasaan sangat senang. Panasnya Jakarta siang itu tidak mempengaruhi suasana hati saya. Saya menunggu kabar baik dalam beberapa hari berikutnya.

***

“Bagaimana wawancaranya?”, istri saya bertanya ketika kami sedang menonton televisi di kamar usai makan malam.

“Aku pikir, aku sudah mengerahkan segala kemampuanku, meski canggung pada awalnya, mungkin karena selama ini aku yang selalu mewawancarai calon karyawan baru, tetapi jangan kwatir semuanya berjalan lancar menurutku”

“Kapan pengumumannya?”

“Mereka akan menghubungi satu minggu lagi”

“Cukup lama juga ya?”

“Sudah jadi standarnya mungkin, aku sebenarnya berharap bisa lebih cepat”

Malam itu, untuk pertama kalinya saya bisa tidur dengan nyenyak.

***

Sepuluh hari berlalu, sebelas hari, dua belas hari berlalu, panggilan telepon yang saya harapkan tidak pernah terjadi. Saya tersenyum kecut.

Beberapa hari selanjutnya, saya kembali menerima panggilan wawancara pekerjaan. Kali ini dari sebuah tempat kursus desain, lokasinya sangat jauh, di Kelapa Gading. Jika bukan karena sangat membutuhkan pekerjaan, saya pasti menolak pekerjaan ini, bukan karena tidak mampu tetapi karena jarak antara daerah Kemang ke Kelapa Gading bagaikan membelah Jakarta menjadi dua bagian. Kemang termasuk Jakarta Selatan, sedang Kelapa Gading termasuk kawasan Jakarta Utara. Saya naik sepeda motor rasanya lama sekali tidak kunjung tiba di lokasi kantornya. Panas, jauh dan macet.

Saya tiba di lokasi setelah satu setengah jam menempuh perjalanan di siang hari yang panas. Setiba di sana saya harus menunggu lagi selama satu jam menunggu salah satu staf yang bertugas mewawancarai calon karyawan.

Wawancara berlangsung selama tiga puluh menit, kali ini saya lebih dapat menguasai diri, tidak canggung. Saya bersemangat ketika ditanya tentang buku-buku yang saya baca. Saya ingin meyakinkan bahwa saya mampu menjadi pengajar, seperti yang dibutuhkan perusahaan. Seperti yang sudah saya duga, mereka juga berjanji satu minggu lagi akan dihubungi jika saya lolos dalam tahap ini.

Saya pulang naik sepeda motor, melalui jalan yang sama seperti ketika berangkat. Di tengah perjalanan saya sempat mampir di salah satu warteg, mengisi perut yang sudah kosong. Hampir setiap hari saya makan di warteg.

Keberadaan warteg (Warung Tegal) di Jakarta bagaikan penolong bagi seorang pendatang yang belum mempunyai pekerjaan seperti saya. Makanannya cocok dengan lidah jawa saya dan tentu saja harganya murah. Satu porsi makanan dan minuman membuat saya hanya mengeluarkan uang lima belas ribu rupiah saja. Bahkan jika ingin porsi yang lebih irit cukup membayar delapan ribu rupiah. Kenyang sudah menjadi jaminan.

Seminggu telah berlalu, panggilan yang saya tunggu-tunggu tidak pernah terjadi.

***

Mengetahui dan meyakini satu hal adalah dua hal yang sangat berbeda. “Segala sesuatu akan indah pada waktuNya,” saya bergumul meyakiniNya. JanjiNya masih saya pegang.

Panggilan wawancara ketiga datang dari sebuah biro desain kecil di daerah Tebet untuk posisi menjadi desainer grafis. Saya datang pagi jam 10 untuk wawancara sekaligus tes desain. Setelah melakukan wawancara, saya diberi tugas mengerjakan proyek yang sedang mereka kerjakan, membuat sebuah desain booklet untuk produk keramik. Saya diberi waktu sampai jam 4 sore. Saya pun mengerjakannya dengan sepenuh hati. Ingin sekali rasanya mendapatkan pekerjaan itu karena desain adalah salah satu minat saya, namun karena saya takut kecewa lagi, kali ini saya berserah saja untuk hasilnya. Setelah selesai proses tes desain, seperti biasa, satu minggu lagi mereka berjanji akan memberitahukan hasil tes tersebut.

Sama halnya yang sudah terjadi pada dua wawancara sebelumnya, tidak ada lagi telepon dari mereka. Sudah tiga kali wawancara pekerjaan namun ketiganya tidak jelas hasilnya. Saya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Pengharapan saya memudar. Saya merasa menjadi pria terbodoh dan tidak berguna di kota jakarta ini apalagi jika harus menjelaskan kepada istri dan keluarganya.

***

Setiap hari saya berusaha untuk tidak terlalu lama di dalam kamar kos karena akan membuat saya gila, tidak bisa berpikir dengan benar. Saya takut pikiran saya menjadi gelap.

Suatu hari, saya punya sebuah ide, sembari menunggu keajaiban, saya memutuskan untuk menjadi tukang ojek saja, karena mempunyai sebuah sepeda motor yang dapat digunakan. Saya melihat ojek adalah salah satu sarana transportasi penting di Jakarta yang macet ini. Kemudian saya mencoba bertanya-tanya bagaimana supaya bisa mangkal di salah satu pangkalan ojek. Saya mulai mencari info. Setelah bertanya-tanya ke beberapa tukang ojek ternyata tidak mudah untuk mempunyai tempat mangkal, ada persyaratannya, salah satunya harus membayar uang sekitar 5 juta kepada penguasa pangkalan, bahkan bisa lebih jika lokasi pangkalan ojeknya berada di lokasi yang strategis. Saya tidak sanggup jika harus membayar uang sebanyak itu. Pupus sudah keinginan saya untuk menjadi tukang ojek di Jakarta.

Sore itu saya mengendarai sepeda motor tanpa tujuan, berharap menemukan sebuah jawaban.

Tuhan mungkin sedang bercanda, namun karena pikiran kita terbatas sehingga selera humornya yang tinggi seringkali tidak mampu kita mengerti, seringkali kita lebih memilih menangis daripada berusaha memahamiNya.

 

I started a joke which started the whole world crying,

but i didn’t see that the joke was on me..

~ Bee Gees.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s