In The Eye of The Storm (Bagian 5)

Kamis malam, 27 Maret 2008.

Kami memutuskan untuk pergi ke Dokter Nurwansyah di Rumah Sakit Bersalin Asih di Jalan Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Alasan kami memilih dokter tersebut adalah jaraknya yang dekat dengan tempat kami tinggal. Pun dokternya hasil dari rekomendasikan seorang teman, yang kebetulan tinggal di Jakarta Selatan, istrinya juga hamil, kebetulan umur kehamilannya sama dengan istri. Sebagai keluarga pendatang baru di Jakarta kami cukup mendapatkan informasi yang kami perlukan dari mereka di saat yang tepat. Kebetulan yang bukan kebetulan.

Jika tidak macet, jarak dari rumah ke lokasi rumah sakit Asih dapat ditempuh 15 menit. Lokasinya tepat berada di seberang gereja GKI Panglima Polim, Kebayoran Baru. Gedung rumah sakitnya sederhana, bagunan lama berwarna coklat krem, bukan gedung bertingkat layaknya rumah sakit modern. Terkesan tenang dan nyaman.

Hanya satu yang saya harapkan, semoga biaya konsultasi ke dokter ini tidak mahal karena pasti kami harus pergi ke dokter setiap bulan untuk pemeriksaan rutin, artinya akan ada tambahan biaya yang dikeluarkan rutin setiap bulan selain uang kos. Sayangnya, bagi seseorang yang tidak mempunyai uang, berapa pun biayanya pasti terkesan mahal.

Setelah masuk di ruang konsultasi dokter, kami di sambut dengan sangat ramah oleh Dokter Nurwansyah, umurnya sekitar 50 tahun-an, setelah ‘diinterogasi’ sebentar, kami pun merasa nyaman. Syukurlah, karena kata orang mencari dokter itu cocok-cokan, jadi tidak mudah memilih yang pas. Bagi kami yang penting merasa nyaman saja sudah cukup.

Istri saya kemudian diperiksa ultra sonografi (USG). Rasanya menegangkan, karena di umur kandungan yang sudah 5 bulan ini kami bisa melihat, memperkirakan jenis kelamin anak kami, hal yang belum pernah kami tanyakan sebelumnya kepada dokter saat di Surabaya.

“Semuanya sehat dan normal”, kata Pak dokter.

“Amin”, dalam hati saya.

Ketika ada satu alat yang dapat mendengarkan denyut jantungnya bayi diletakkan di perut istri, kami mendengar degup jantung yang berdetak dengan tempo cepat.

“Kira-kira 150, dan ini juga normal”, kata Pak dokter lagi.

Jujur saja, aku terharu mendengar suara degup jantung itu, ada suatu spirit di dalam degup jantung itu, semangat kehidupan, suatu nada terindah di saat itu, nada kehidupan. Suara yang pasti selalu ingin ku dengarkan.

“Dok, bisa diperkirakan jenis kelaminnya?, sela saya.

“Bisa, tuh kelihatan, sepertinya dia laki-laki”

“Berapa persen kemungkinannya, dok?, saya mencoba untuk meyakinkan diri.

“Sembilan puluh lima persen laki-laki”, jawab pak dokter dengan yakin. Keyakinannya berdasarkan pengalaman bertahun-tahun.

Lima ratus ribu rupiah, biaya yang harus kami keluarkan untuk pemeriksaan itu. Artinya, kami akan mengeluarkan biaya sebesar itu setiap kali kontrol ke dokter setiap bulannya.

Gembira, terharu, gentar, juga takut.

Malam itu kami pulang dengan membawa semua perasaan itu.

***

“Doakan aku supaya segera mendapatkan pekerjaan”, pintaku lirih kepada istri sambil menggenggam lembut tangan kanannya.

Ia hanya mengangguk pelan. Matanya tetap menatap ke depan, melihat jalanan Jakarta Selatan yang malam itu basah karena gerimis.

 

Empat bulan lagi, anak kami akan lahir.

Waktu akan terus berjalan, menggerus uang tabungan kami yang seharusnya dipersiapkan untuk biaya operasi persalinan nanti.

 

*Bersambung*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s