In The Eye of The Storm (Bagian 4)

Hidup itu tentang menunggu. Menunggu sebuah kepastian.

Menunggu adalah pertandingan mental melawan diri sendiri, penguasanya adalah mereka yang mempunyai mental pemenang.

Waktu tetap berlalu dengan lambannya, 7 hari, 14 hari, 21 hari, saya menunggu hingga tiga minggu berlalu namun puluhan email lamaran pekerjaan yang saya kirim tidak terlihat ada kemajuan. Hampir setiap jam saya memeriksa kotak inbox dan spam di email. Kesabaran, seandainya tersedia di apotek, saya perlu minum pil kesabaran dosis tinggi.

Doa adalah penjaga utama supaya tetap waras. Doa-doa selalu keluar dari mulut saya hampir setiap saat. Berharap IA jangan sampai lupa menyebutkan nama saya dalam buku absennya setiap hari. Saya ingin Tuhan segera ‘sadar’ bahwa keluarga saya dalam keadaan darurat. Saya percaya IA maha tahu.

Ketika istri berangkat bekerja setiap pagi, dimanakah saya? Lunglai, meringkuk di sudut kamar hampir seperti orang gila, sering kali berlutut dalam posisi berdoa sambil memejamkan mata, tangan memeluk guling, namun mulut tidak mengeluarkan sepatah kata pun, kelu. Rambut acak-acakan, mata terasa berat karena kurang tidur. Sambil berulang-ulang meyakinkan diri bahwa suatu hari nanti saya pasti berguna, karena masih muda, perjalanan masih panjang, masih mampu bekerja. Saya tidak boleh putus asa, dan tidak boleh menangis seperti anak kecil yang tidak dipenuhi permintaannya. Saya harus selalu mempunyai pengharapan. Meski belum menemukan titik terang entah sampai kapan.

Tersenyum menjadi hal yang susah dilakukan. Beberapa kali saya berdiri di depan cermin memaksakan diri untuk tersenyum. Senyum saya palsu. Keyakinan saya mulai goyah, roboh bagai benteng pertahanan yang kalah, bahkan kadang tidak sanggup lagi berdiri dengan kedua kaki dan kepala tegak. Lutut saya selalu gemetar. Mental saya remuk. Saya butuh mental pemenang.

Saya membayangkan situasinya seperti saat pertandingan sepak bola final piala Champion, 26 Mei 1999. Manchester United (MU) menghadapi Bayern Munich, pertandingan sudah berjalan 90 menit dan memasuki perpanjangan waktu 3 menit. MU tertinggal 0-1 melalui gol kejutan di awal pertandingan. Seluruh pendukung tim Bayer Munich sudah bersorak-sorak bersiap melakukan pesta kemenangan, mengintimidasi tim lawan. MU pasti pulang dengan tangan hampa, ambisi besar untuk merebut 3 piala di musim itu akan musnah, kemenangan-kemenangan masa lalu terasa tidak berarti jika kalah dalam pertandingan malam itu, bagi sebuah klub sepakbola, piala Champion adalah piala paling bergengsi di muka bumi. Pendukung MU tertundung lemas, lunglai, tidak ada tenaga lagi untuk bersorak.

Dalam situasi seperti itu hampir semua orang pasti memperkirakan MU tidak mungkin lagi membalikkan kemenangan, waktu yang tersisa sedikit lagi. Teknik dan skill yang tinggi yang dimiliki tidak ada gunanya. Hanya mental pemenang yang dapat menyelamatkan. Apa yang terjadi dalam 3 menit terakhir itu? Pasukan Manchester United dapat mengangkat piala dambaan setiap klub sepak bola di seluruh dunia tersebut. Mereka keluar sebagai pemenang. Mereka mempunyai mental pemenang, hanya dalam waktu 3 menit dapat mencetak 2 gol di gawang lawan, itu keajaiban! Seluruh pemain, pelatih dan pendukung MU melompat, berteriak, menari-nari kegirangan. Drama terhebat dalam sejarah sepakbola modern.

Saya harap saya mempunyai mental seorang pemenang. Saya sadar saya sangat membutuhkan mental seperti itu. Teorinya begitu, namun ternyata sangat sulit ketika sedang mengalaminya sendiri.

Kepercayaan diri yang selama ini saya punya raib, hilang tak berbekas. Doa-doa saya sepertinya tidak sampai terangkat ke sorga, terhenti di atap-atap langit kamar kos yang berukuran 3x4m.

Ketika istri bekerja dan suami tidak mempunyai pekerjaan. Saya dan istri saya menjadi sama-sama sensitif dalam hal apa pun, terutama jika membicarakan hari esok yang seolah tanpa kepastian. Siapa di dunia ini yang tidak ingin kepastian? Semua orang ingin kepastian, saya ingin mempunyai kepastian, apalagi bagi istri saya. Situasinya menjadi buruk bagi keluarga saya, terlebih bagi saya sebagai kepala keluarga. Kepala keluarga yang tidak mampu memenuhi janjinya mencukupi kebutuhan keluarganya.

Virus depresi sedang masuk perlahan namun pasti ke dalam pikiran saya, dan itu bisa menular.

Berbahaya.

Namun semua itu hanya permulaan. Badai bahkan belum menghampiri kami.

*Bersambung*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s