In The Eye of The Storm (Bagian 3)

Ada sebuah pernyataan yang pernah saya baca berkata begini: Jika ingin berhasil seseorang harus meninggalkan zona nyaman, meninggalkan tanah kelahirannya, berlayar lah ke negeri seberang. Merantau sejauh mungkin. Tai kucing! Pencetus teori ini pasti tidak memiliki hal-hal berharga di kampung halamannya atau mungkin ia tidak pernah menghargai apa yang dimiliki dalam hidupnya.

Meninggalkan Surabaya bukan perkara mudah, hampir tiga puluh tahun saya tertawa, menangis dan menemukan cinta bersama dengan panasnya kota itu. Tidak pernah terlintas sedikit pun untuk merantau dan tinggal di kota lain. Saya teringat papa, mama, Lea, adik saya, sahabat-sahabat saya — yang sudah saya anggap seperti saudara– di Komunitas Ressud. Separuh waktu hidup saya habis di kota ini. Namun, kini saya harus meninggalkan mereka. Sebuah pilihan yang sulit.

***

Kelamnya malam itu mengiringi keberangkatan menuju Jakarta. Saya menangis tanpa air mata. Hati saya tersayat. Perih.

Saya biarkan radio mobil mengalunkan lagu-lagu syahdu. Sambil membiarkan pikiran tenang, mencoba menikmati perjalanan panjang malam itu.

17 jam non-stop perjalanan menyusuri sepanjang pulau Jawa melalui jalur Selatan, berhenti satu jam di sebuah kota kecil di Jawa barat untuk makan dan satu kali mengisi bahan bakar.

***

1 Maret 2008.

Jakarta, kota terbesar di Indonesia, dihiasi dengan gedung-gedung tinggi yang tumbuh seperti jamur di waktu hujan. Kota yang selalu bersolek, keglamorannya tidak terkalahkan oleh kota-kota lain di Indonesia. Namun, sama seperti wanita yang terlalu bersolek, yang bermake-up tebal, ada sesuatu yang ingin disembunyikan, ia tidak ingin orang lain melihatnya. Kemacetan dan banjir di musim hujan membuat kota cantik ini tidak sempurna.

Kemacetan bagaikan luka di wajah yang sulit disembuhkan, terjadi setiap saat dan hampir di seluruh ruas jalan di Jakarta. Luka di wajah itu sudah semakin parah. Di kota seperti itu lah saya akan memulai hidup. Memulai dari awal.

***

Bulan pertama di Jakarta.

Seandainya hidup seperti membaca buku, saya ingin melompati bab awal kehidupan saya di Jakarta, terlalu banyak drama. Saya suka drama, namun tidak untuk drama yang lebay. Berlebihan.

Setelah berkeliling mencari info tempat kos yang memperbolehkan suami-istri untuk tinggal bersama, kami menemukan tempat tinggal selama di Jakarta, sebuah tempat kos di daerah Kemang, kawasan mahal sebenarnya, namun kami memilihnya dengan alasan tidak jauh dengan rumah keluarga mertua. Hanya ingin berjaga-jaga jika sakit asma yang diderita istri saya kambuh saat sedang hamil, sangat berbahaya jika tidak segera ada yang menolong.

Setelah urusan tempat tinggal selesai, yang pertama kali ingin saya gunakan adalah laptop dengan sambungan internet, saya ingin sekali mencari lowongan pekerjaan di Jakarta. Saya ingin bekerja, setidaknya, berharap dengan bekerja saya mendapatkan kembali kepercayaan diri yang hilang. Hari itu saya memutuskan untuk mencarinya dan sangat berharap menemukannya segera.

Karena sudah lama berwirausaha sendiri saya lupa cara membuat surat lamaran pekerjaan, dan mencari lowongan pekerjaan di internet adalah hal baru. Saya membaca banyak tips bagaimana cara menulis Curiculum Vitae yang baik di internet, juga cara membuat surat lamaran yang menarik.  Saya berusaha semaksimal mungkin. Karena hal ini dapat menemukan pintu kesempatan yang baru, saya meyakinkan diri sendiri.

Saya buka semua situs lowongan pekerjaan yang ada di di Indonesia. Karir.com, jobsD.com, dan Jobstreet.com — yang terakhir ini direkomendasikan oleh adik saya, Lea. Segera saya mendaftarkan diri di sana. Meskipun sebelumnya saya tidak suka mengisi banyak lembaran form untuk formalitas, namun kali ini saya cukup sabar melakukannya, satu-persatu.

Menemukan banyaknya lowongan tersedia di internet bagaikan menemukan oase di padang gurun. Saya gembira sekali, tidak saya sangka ternyata banyak sekali peluang kerja yang bertebaran di kota ini, gumam saya, dan sepertinya menjanjikan. Remang harapan perlahan mulai mengintip.

Dengan pengetahuan dan pengalaman bekerja selama 7 tahun yang saya miliki sebelumnya, saya merasa cukup percaya diri melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan yang cukup terkenal di bidang yang saya merasa kuasai. Tetapi kegembiraan itu ternyata hanya mampir sebentar, ternyata kecemasan tidak ingin pergi begitu saja, ia datang lagi menguasai pikiran ketika saya melihat bahwa hampir semua lowongan pekerjaan yang ditawarkan selalu mensyaratkan satu persyaratan yang saya tidak punyai: Wajib menyertakan salinan ijazah S1! Sudah pasti saya tak memilikinya, saya gagal menyelesaikan kewajiban saya di bangku kuliah. Saya drop-out dari kuliah saya di ITS.

Waktu tidak pernah berjalan mundur pun tidak pernah berhenti.

Penyesalan selalu hadir terlambat. Selalu.

 

* Bersambung*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s