In the Eye of The Storm (bagian 2)

Bagaimana rasanya jika sebuah doa yang salah dikabulkan oleh Tuhan?

Saya pernah mengalaminya.

Ketika banyak hal terjadi dan tidak seperti yang saya inginkan, hal pertama kali yang harus saya lakukan adalah menjaga pikiran tetap waras, tidak gila. Metode berpikir positif sudah kehilangan taringnya, tidak mempan lagi bagi saya saat itu. Saya berjuang dengan keras supaya tetap waras dan tidak mati sia-sia karena bunuh diri, meski pun ternyata bukan hal yang mudah.

“Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiranku dan bersedih sepanjang hari? Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati.”, doa yang saya ucapkan di setiap malam-malam panjang ketika terjaga, seperti seruan Daud di kitab Mazmur.

29 Februari 2008, Jam 23:00 WIB

Alarm di handphone berbunyi. Saya tahu malam itu akan menjadi malam bersejarah bagi saya. Saya meninggalkan Surabaya, kota kelahiran, yang pernah saya impikan akan menjadi tempat menghabiskan waktu di hari tua kelak. Namun Sang waktu punya rencananya sendiri, tidak seperti yang saya harapkan. Saya harus pindah ke Jakarta.

Beberapa minggu sebelumnya, Suatu sore.

Istri saya memberi kabar,“Sepertinya aku harus membantu keluarga di Jakarta, karena ada satu staf kantor di bagian keuangan yang resign, sehingga aku harus menggantikannya. Bagaimana menurutmu?”

Mendengarnya, entah kenapa pikiran saya seperti berkata bahwa ini adalah sebuah kesempatan baru, sebuah jalan keluar yang tidak pernah saya pikir sebelumnya. Mungkin saja pertolongan dari Tuhan, pikir saya.

Keluarga mertua saya di Jakarta sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi di keluarga kami. Kami memutuskan untuk tidak bercerita sedikit pun karena ini adalah tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga. Saya paham benar tentang hal ini: Seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya. Saya tidak ingin menjadi pria yang cengeng, yang selalu meminta pertolongan kepada keluarganya.

“Menurutku kita pindah saja ke Jakarta, aku pikir itu sebuah kesempatan bagi keluarga kita, aku akan mencari pekerjaan di sana. Karena tidak mungkin aku bekerja di Surabaya. Aku terlalu malu meminta pekerjaan kepada orang lain di kota ini. Kapan kamu harus mulai bekerja di sana?”

“Tanggal 1 Maret nanti. Aku sudah dibelikan tiket pesawat untuk berangkat”

“Ok, kalau begitu, kamu berangkat dahulu, aku menyusul naik mobil sambil membawa barang-barang yang bisa kita bawa.”, aku menjawab sekaligus meneguhkan hati.

Sampai di sini perasaan saya masih baik-baik saja, sampai tiba saat istri saya bertanya, “Menurutmu kita akan tinggal di mana?” Pertanyaan ini bagaikan pedang yang menghunus di jantung, tepat sasaran! Membuat nafas saya tercekat, perut saya mules, dan kepala seperti ditinju oleh Mike Tyson, dan kemudian KO di ronde awal.

Istri saya tahu benar bahwa kami tidak mungkin ‘menumpang’ di rumah keluarganya di Jakarta, dan sebagai kepala keluarga– yang selama ini hanya belajar teori pernikahan dari buku– bertanggung jawab atas kebutuhan hidup istri saya adalah tanggung jawab yang terutama seorang suami. Saya tidak mungkin menerima bantuan lagi terutama kepada keluarga istri saya –mereka sudah banyak membantu kami pada saat pesta pernikahan–, apalagi kami baru saja beberapa bulan menikah. Beberapa orang pasti menganggap setelah pesta pernikahan yang meriah adalah saat sebuah keluarga baru mempunyai banyak uang, hasil dari ‘angpao’. Tetapi sayangnya hal itu tidak terjadi kepada kami.

Tabungan yang kami punya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan tabungan yang kami sisihkan untuk biaya operasi persalinan istri saya yang sedang hamil 2 bulan – Istri saya mempunyai sakit asma yang akut, biasanya dokter menganjurkan untuk melahirkan secara caecar. Kami harus berhemat sampai dengan waktu yang kami tidak tahu kapan berakhirnya.

Dalam keadaan tidak kondusif dan penuh tekanan dalam sebuah keluarga, kata-kata yang kurang tepat dapat menyebabkan ‘pertempuran’. Karena itu saya mencoba berpikir keras mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan mematikan itu, lalu saya menjawab, “Kita akan mencari tempat tinggal di Jakarta, kita tidak tinggal bersama keluargamu, kita mencari tempat kos.” Kemudian istri saya mengiyakan. Saya lega, ternyata itu jawaban yang aman bagi kami pada saat itu. Selama hidupnya, istri saya tidak pernah ngekos, saya juga tidak pernah membayangkan setelah menikah akan tinggal selamanya di sebuah tempat kos.

Tepat pukul 12 malam, 1 Maret 2008.

Saya berangkat naik mobil Xenia biru pemberian keluarga mertua. Satu mobil penuh dengan barang-barang yang kami butuhkan untuk hidup di Jakarta. Perjalanan dari Surabaya ke Jakarta adalah perjalanan terjauh saya melalui jalan darat yang pernah saya lalui.

Bayangan bahwa keluarga saya, saya, istri dan anak yang nanti akan lahir akan menghabiskan seluruh hidup kami di sebuah tempat berukuran 3×4 meter di sebuah gang kecil di Jakarta menghantui saya selama perjalanan dari Surabaya menuju Jakarta.

Malam itu, seorang laki-laki yang besar di Pacarkeling, salah satu gang kecil di Surabaya, tanpa modal, tanpa pekerjaan dan tanpa ijazah sarjana, memantapkan hatinya untuk berjuang.

Berjuang supaya tidak menjadi gila.

And now, the end is here

And so I face the final curtain

My friend, I’ll say it clear

I’ll state my case, of which I’m certain

I’ve lived a life that’s full

I traveled each and every highway

And more, much more than this, I did it my way

~ My Way – Frank Sinatra

 

*Bersambung*

One thought on “In the Eye of The Storm (bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s