In the Eye of the Storm (Bagian 1)

Februari 2001.

Kisah yang tidak mampu saya ceritakan pada tahun-tahun kemarin.

Saya pernah bernazar* dan sekarang saya kapok ‘gaya-gayaan’ bernazar.
Saat itu masih umur 23 tahun, baru merasa bisa mencari uang sendiri, baru merasa bisa membeli buku-buku yang aku ingin baca menggunakan uang sendiri. Setiap hari terlihat cerah, masa depan terlihat menjanjikan dan seakan dalam genggaman. Setiap hari mendengarkan lagu-lagu indah yang mampu memanjakan telinga.

Pada suatu hari, saya ‘terprovokasi’ oleh sebuah ide dalam sebuah buku (Bodohnya, saya lupa siapa penulisnya) yang saya baca. Di sana tertulis bahwa sebaiknya setiap orang harus pernah mengalami kebangkrutan minimal satu kali dalam hidupnya supaya ia bisa merasakan hidup yang sebenarnya (istilah kerennya: “Living Life to the Fullest”), dan jika terjadi kebangkrutan sebaiknya tidak lebih dari umur 30 tahun. Mengapa? Karena konon setelah umur 30 tahun, sulit sekali atau tidak punya energi dan semangat lagi untuk bangkit memulai dari awal. Dengan alasan itulah, artikel tersebut menyarankan bahwa bangkrut paling baik adalah maksimal umur 30 tahun.

Bagi saya, yang masih muda, punya semangat dan energi, sebuah ide untuk bangkrut adalah hal yang sangat menarik sekali. Menarik karena tidak lazim, cutting edge, inovatif. Anak muda seperti saya suka sekali sesuatu yang terdengar baru, dan belum pernah saya mendengar nasehat dari seseorang atau dari buku bahwa dalam hidup kita harus bangkrut minimal satu kali. Apalagi pada saat itu sedang tren buku-buku yang mengajarkan tentang kemapanan, kesuksesan dan keberhasilan dengan metode-metode yang hampir sempurna — bahkan, mungkin hanya malaikat yang bisa melakukannya–. Saya kagum (atau terobsesi?) dengan ide harus bangkrut itu.

Beberapa hari setelah memikirkannya terus-menerus, saya pun mulai berhitung umur, kemudian berdoa dan bernazar.

Begini ocehan doa dan nazar saya waktu itu:
“Tuhan, sekarang saya masih umur 23 tahun. Saya ingin bangkrut saat umur 30 tahun, supaya saya bisa merasakan hidup yang sebenarnya. Namun, bangkrutnya jangan lama-lama, maksimal 1 tahun saja, kemudian saya harus bisa bangkit. Kemudian saya akan mulai bekerja, merintis usaha lagi dari awal sampai umur 40 tahun. Pada saat umur 40 tahun, sebaiknya saya (sudah) punya beberapa perusahaan yang dapat digunakan untuk menghidupi saya. Saya tidak mau lagi bekerja secara sepenuh-waktu di perusahaan, Tuhan. Karena nanti saya ingin fokus melayani sebagai hamba Tuhan, (atau pendeta juga boleh) sampai saya tutup usia. Kiranya Engkau mendengar dan mengabulkan doa saya ya Tuhan. Amin”

Terdengar indah? Mulia? Atau sombong?Pada saat selesai mengucapkan doa tersebut saya merasa lega. Lega sudah mengucapkan permintaan yang mulia, pikir saya waktu itu. Meski sekarang, saya berpikir semuanya itu adalah doa anak muda yang sombong.

Dan waktu pun berlalu, saya masih mengingat doa & nazar itu. Tidak pernah lupa.

November 2007.
Saat saya berumur 29 tahun, tahukah apa yang terjadi?
Doa saya dikabulkan lebih cepat. Sebelum umur 30 tahun saya sudah bangkrut. Bangkrutnya pun di saat yang tepat: Sesaat setelah saya menikah!

Kebodohan saya, sekali lagi, ini kebodohan saya. Perhitungan saya salah. Langsung saya sadar, pada saat berdoa dan bernazar, saya lupa menghitung (Memperkirakan) bahwa pada saat umur 30 tahun saya tidak lagi sendiri, saya sudah beristri, dan mempunyai tanggung jawab menghidupinya. Artinya, jika terjadi musibah, penderitaan itu bukan hanya saya yang merasakan tetapi istri saya juga akan merasakannya. Saya sedih dan menyesal karena cukup bodoh melakukan doa yang sombong. Saya sedih melihat istri saya.

Saya bangkrut, saya tidak punya pekerjaan dan benar-benar tidak mempunyai uang. Tiba-tiba masa depan menjadi gelap. Pekat.

Setiap malam datang adalah saat yang paling menakutkan. Jika berada di dalam kamar, saya merasakan seluruh tembok dan dinding kamar seakan-akan maju sedikit demi sedikit, mereka mulai menghimpit perlahan-lahan. Entah berapa kali saya terbangun di tengah malam dan sulit untuk memejamkan mata kembali. Lagu-lagu favorit saya pun tidak mampu menghibur, semuanya terdengar sumbang.

Hari-hari terasa lamban dan berat, kemudian datanglah satu kado istimewa yang seharusnya menjadi berita gembira bagi sebuah keluarga baru, namun karena datang di masa suram malah membuat kepala saya semakin pening: Istri saya positif hamil.
Beban yang kurasakan bertambah, rasanya seperti tertimpa beban berton-ton beratnya tepat di kepala saya. Berkali-kali.

Saya teringat lagi doa sombong saya. Percuma saja, tidak ada lagi yang bisa saya lakukan.

“Terima kasih, Tuhan. Ampuni aku atas kesombongan ini”, doa-doa lirih saya.
Hanya itu sebait kata yang tersisa dan mampu saya ucapkan setiap kali terbangun dengan bantal-bantal yang basah karena air mata.

(Bersambung..)

*Nazar adalah janji seseorang kepada Allah untuk melakukan sesuatu hal, jika apa yang ia harapkan terpenuhi atau terkabulkan.

Iklan

One thought on “In the Eye of the Storm (Bagian 1)

  1. Ping-balik: Ketika Saya Bangkrut dan Hal-hal Yang Saya Pelajari. | Think on these things

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s