Kita tidak pernah tahu masa depan seseorang akan menjadi apa.

Image

Aku, Iif dan Adit (Nulisbuku CLub Jakarta)

Sabtu, 19 Mei 2012, aku mendapat kesempatan untuk mengajar dan berbagi kepada anak-anak SMP Gratis Ibu Pertiwi di Jl. Pancoran Timur 8 No: 4B Jakarta Selatan.
Berangkat ke sana sebenarnya bukan sesuatu yang sulit, karena alamatnya begitu familiar dan berdekatan dengan alamat kantor nulisbuku di daerah Pancoran, dan tentu saja cari petunjuk melalui Google Maps juga.
Aku datang bersama Adit dan Iif, keduanya anggota keluarga dari Nulisbuku Club Jakarta, dan Heru tentunya, yang kebagian tugas mengantarku naik sepeda motor.

Setiba di sana, aku tidak menyangka bahwa sekolah tersebut sebenarnya adalah sebuah rumah, yang halaman terasnya dialih-fungsikan menjadi sebuah ruang kelas. Pantas saja aku kesulitan menemukan bangunan sekolah, karena dalam bayanganku adalah sebuah bangunan gedung sekolah SMP yang selama ini aku lihat, ternyata hanya sebuah rumah.
Memang bukan sebuah rumah yang sederhana, bagiku rumah tersebut cukup besar untuk sebuah rumah tinggal, dan pemilik rumah tersebut tentunya juga bukan sembarang orang, mungkin juga berkecukupan. Aku memperhatikan mereka mempunyai tiga buah mobil yang parkir di garasi depan rumahnya.

Yang membuka mataku adalah ternyata di jakarta ini masih ada orang-orang yang tergerak hatinya untuk membuka sekolah gratis bagi anak-anak yang tidak mampu dan terpinggirkan.
Salut untuk Ibu Adhe dan keluarga, pendiri dari SMP Gratis Ibu Pertiwi ini, yang aku tahu bahwa misi ini bukanlah misi sederhana dan membutuhkan ketekunan yang menguras waktu dan tenaga, dan juga biaya.

Saat berbagi dengan siswa-siswi tersebut, yang sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu, aku belajar tentang semangat, ketekunan, dan setia kawan. Nila-nilai itu yang jelas sekali tersirat saat berbagi bersama mereka.

Image

Siswa-Siswi SMP GRATIS Ibu Pertiwi

Aku berkenalan dengan Septa, Yanti, Santi, dan beberapa anak lainnya.
Mereka adalah anak-anak yang cerdas dan penuh semangat. Aku tahu beban yang mereka tanggung tidak kecil dan berat. Keluarga mereka tidak mampu menyekolahkan mereka di sekolah-sekolah umum. Namun aku sangat yakin semangat dan kepandaian mereka tidak kalah dengan teman-teman sebayanya yang bersekolah di sekolah umum.

Saat kami bertanya tentang cita-cita mereka, mereka dengan semangat menjawab. Ada yang ingin jadi dokter, pemain sepakbola, guru, desainer interior, manager bank, dan bahkan ada yang ingin jadi ustad.
Setidaknya, mereka mempunyai kepercayaan diri untuk bermimpi. Bukankah masih banyak orang di sekitar kita yang takut untuk bermimpi, bukan?

Semoga apa yang sudah kami bagikan pagi itu dapat berguna untuk mereka.
Dan aku berdoa agar mereka juga memiliki keberanian mengejar impian-impian itu.

Aku yakin Tuhan juga tidak tuli untuk mendengar semua impian yang telah mereka katakan.

Masa Depan Sungguh Ada Dan Harapanmu Tidak Akan Hilang ~ (Amsal 23:18)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s