CINTA SEJATI ITU SEPERTI HANTU

Saya hanya membayangkan saat saya masih menginjak usia-usia remaja dan pemuda, meski sekarangpun masih merasa muda.. Saya ingin sekali ada seseorang yang usianya sudah melewati masa-masa itu dan sudah menikah menceritakan ‘perjalanan’ yang sudah dilewatinya dan meninggalkan jejak-jejak yang jelas yang berguna untuk saya jadikan tanda atau semacam petunjuk perjalanan di masa remaja-pemuda saya. Sehingga saya tahu rambu-rambu itu dengan jelas, tahu apa yang harus saya lakukan, jalan mana yang harus dilalui, mana yang tidak boleh dilalui dan ‘perlengkapan’ apa yang harus ‘dibawa’.

Sederhananya, dengan begitu saya bisa memperoleh petunjuk yang sederhana dan gampang darinya tentang bagaimana menjalani dan menikmati masa remaja-pemuda dengan tepat. Dan yang pasti orang itu bukan lah kedua orang tua saya. Karena anak pada saat itu-jaman sekarang juga- kebanyakan akan sangat malu bercerita soal cinta kepada orang tuanya, meski tidak semua keluarga seperti itu – Berbahagialah anak-anak yang bisa bercerita soal kehidupan cintanya kepada orangtuanya, dan saya sangat menyarankan untuk memulai hal ini.
Tetapi kali ini, meski saya sudah menikah, saya pun tidak akan mampu untuk memberikan gambaran itu dengan detail, saya akan memberikan gambar besarnya saja. Mari kita mulai.

Harus saya akui, ketika pertama kali merasakan mencintai dan dicintai pada masa-masa remaja-pemuda adalah suatu perasaan yang indah, menyenangkan, mendebarkan, kadangkala rasa yang menyakitkan sekaligus dirindukan, pokoknya berjuta rasanya-lah, kata sebuah lagu, dan hampir semua orang pernah merasakannya, ironisnya definisi cinta itu sendiripun saat itu saya belum bisa menjelaskan dengan baik. Itu semua karena pikiran kita hampir semuanya diisi oleh perasaan, perasaan, dan perasaan yang kita rasakan saja. Berita baiknya adalah Tuhan memberikan kemampuan untuk berpikir.

Semakin dewasa seseorang akan semakin baiklah kemampuan untuk menempatkan perasaan dan pikiran yang rasional dalam takaran yang tepat.

Dan ini sama sekali tidak berhubungan dengan usia. Artinya bisa saja meskipun seseorang sudah berusia lanjut namun belum dewasa, masih melakukan hal-hal yang seharusnya hanya dilakukan oleh anak-anak. Begitu juga sebaliknya.

Cinta. Apa sih cinta itu? Itu sangat sulit untuk dijelaskan hanya bisa dirasakan, begitu kata sebagian besar orang. Seorang penulis dari Prancis bernama Francois, Duc de La Rochefoucauld pernah mengatakan dengan jeli, “Cinta sejati seperti hantu, yang semua orang bicarakan tetapi hanya sedikit yang pernah melihat.” Lalu kemana kita harus mencari jawaban tentang cinta sejati itu? Budaya popular banyak menyamakan cinta dengan perasaan hangat, daya tarik fisik dan aktifitas seksual. Dan pemahaman ini sudah merasuk kedalam pikiran kita banyak melalui koran, musik, televisi bahkan iklan. Dan frekuensinya sangat sering. Apa akibatnya yang sedang kita lihat sekarang? Banyak berita-berita perceraian dan keluarga yang berantakan yang terjadi di kalangan publik figur kita, baik itu artis, politikus bahkan tokoh-tokoh agama yang seharusnya menjadi panutan masyarakat luas.
Apa artinya semua kejadian ini? Artinya adalah PASTI ada sesuatu yang salah dalam cara pandang kita tentang cinta. Apakah kita tetap ingin terseret dalam arus cinta yang salah ini? Tidak ada seorangpun yang mau. Jika begitu mari kita lanjutkan pemahaman ini.

Setahu saya cara terbaik untuk belajar apapun adalah bertanya kepada ahlinya. Dan itu juga berlaku untuk urusan cinta. Siapa pakar dari cinta? ALLAH. Tidak ada yang lebih mengerti tentang cinta selain Allah sendiri. Ia tidak hanya menciptakan cinta dan menetapkannya sebagai fondasi utama pengalaman manusia, tetapi menurut Alkitab, Allah sendiri adalah kasih (1 Yoh 4: 8, 16). Allah mengatakan hal yang berlawanan dengan konsep dunia pikirkan, Ia mengatakan bahwa cinta BUKANLAH EMOSI, melainkan sikap hati.

Karena keterbatasan bahasa sajalah yang seringkali membuat kita menjadi kebingungan untuk mengartikan cinta. Dalam bahasa Asli alkitab, bahasa Ibrani dan Yunani, ada empat kata yang berbeda yang digunakan untuk kata cinta, yaitu: phileo, storge, eros, dan agape. Dan setiap kata mengidentifikasikan tipe dan kadar cinta yang terpisah dan berbeda. Dalam perjanjian Baru kita hanya akan menemukan kata-kata: phileo dan agape.
Memahami ke empat ‘cinta’ ini akan membantu kita mengerti dengan lebih baik apa sebenarnya yang merupakan cinta sejati itu dan apa yang bukan. Menarik bukan?
Mari kita lanjutkan lagi.

Phileo adalah cinta pada tingkat persahabatan biasa, kasih sayang yang kita miliki untuk seseorang yang kita kenal baik. Phileo sifatnya umum dan sederhana, bukan jenis cinta yang diperlukan untuk pernikahan.

Storge adalah kata (Yunani) yang digunakan untuk merujuk pada cinta dalam hubungan keluarga. Menggambarkan kasih saying yang lembut dari orang tua kepada anak-anak mereka dan sebaliknya.

Eros. Mengacu pada eros sebagai ‘cinta seksual’ sebenarnya itupun kurang akurat, karena sebenarnya seks tidak ada kaitannya dengan cinta sejati. Seks dapat terjadi tanpa cinta. Cinta dapat ada tanpa seks; keduanya tidak saling tergantung. Menurut Tuhan, seks adalah EKSPRESI cinta yang hangat, intim dan indah, TETAPI seks sendiri BUKANLAH CINTA. Disinilah cara pandang dunia yang seringkali keliru itu.

Agape adalah jenis cinta yang keempat dan tertinggi. Sifatnya unik dan sebenarnya tidak ada kata biasa yang dapat menggambarkannya kedalaman makna dari sifat cinta yang tertinggi ini, untuk itulah penulis Perjanjian Baru menciptakan kata Agape untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Agape adalah cinta tanpa syarat.
Berbeda dengan eros, yang merupakan contoh keegoisan, agape bertindak demi kebaikan dan kesejahteraan orang lain. Bukannya melayani dirinya sendiri, Agape adalah cinta penyerahan diri yang siap berkorban demi kebaikan orang lain. Agape tidak memilih siapa yang akan dikasihi, ia hanya memilih untuk mengasihi.
Agape adalah satu-satunya “CINTA SEJATI” di dunia, dan dasar bagi semua yang lain yang kadang-kadang kita sebut cinta. Memahami Agape adalah kunci untuk mengerti rahasia hati manusia. Kasih Allah untuk kita, kasih kita untuk Allah, kasih kita untuk diri sendiri, dan kasih kita untuk pasangan hidup atau calon pasangan hidup kita.

Jika kita sudah menemukan apa itu cinta sejati menurut ‘Pakar’nya. Selanjutnya adalah tanggung jawab kita sendiri untuk melakukan dan bertindak sesuai yang sudah ditetapkannya. Dan yang terpenting adalah jangan sampai kita terjebak lagi dengan cinta-cinta yang palsu yang sedang dan akan selalu terus ditawarkan oleh dunia ini.

Pilihlah cinta sejati, seperti yang sudah diteladankan oleh Tuhan Yesus Kristus kepada kita dengan pengorbanannya di kayu salib untuk menebus dosa kita. Itulah Agape. Itulah cinta sejati. Mau?

Terinspirasi dari buku The Purpose and Power of Love & Marriage, by Myles Munroe

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di satumagazine

6 thoughts on “CINTA SEJATI ITU SEPERTI HANTU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s