Last Letters from Stalingrad

Picture040_06apr06 Sahabat, aku ingin menceritakan isi dari salah satu buku. Sebuah buku kumpulan surat-surat cinta asli dari tentara Jerman. Judul bukunya: CINTA DI TENGAH KENGERIAN PERANG (Las Letters from Stalingrad).

Buku ini kumpulan surat cinta terakhir dari tentara Jerman beberapa waktu sebelum mereka menderita kekalahan. Aku kutip salah satu dari 39 surat yang tercantum.

Ini Pengantar bukunya:

Januari tahun 1943,

Tujuh buah tas berisi surat-surat para tentara Jerman yang diangkut pesawat terbang terakhir yang meninggalkan Stalingrad ditahan oleh Komando Tinggi Jerman. Alamat tujuan dan nama pengirim dihilangkan, dan surat-surat itu dianalisis untuk mempelajari moril pasukan di medan laga…

ini salah salah satu suratnya…

… Kukeluarkan fotomu lagi dan kupandangi lama-lama. Aku ingat pengalaman kita bersama pada senja musim panas tahun terakhir sebelum pecah perang ini, ketika kita jalan bergandengan lewat lembah yang semarak menuju rumah. Saat kita berjumpa pertama kali, cuma degup jantung yang bicara; lalu itu menjelma jadi suara cinta dan kebahagiaan. Kita ngobrol tentang diri kita masing-masing, dan tentang masa depan yang tergelar seperti permadani warna-warni di hadapan kita.

Permadani cerah meriah itu tidak ada lagi kini. Malam musim panas itu sudah lenyap, begitu juga lembah yang semarak. Permadani indah berganti gurun putih tanpa ujung, musim panas tidak pernah kembali lagi, hanya ada musim dingin; dan tidak ada pula hari depan – setidak-tidaknya untukku dan dengan demikian buatmu juga. Sekian lamanya aku selalu dikecam oleh perasaan yang tidak dapat kujelaskan, tapi hari ini aku tahu bahwa perasaan itu ialah kecemasan tentang engkau dan kedambaan padamu. Kurasa, walau kita terpisah jarak ribuan kilometer, keadaanmu juga seperti aku. Kalau surat ini kauterima, simaklah dengan sepenuh hati; barangkali lalu kaudengar suaraku. Mereka bilang perjuangan kami ini demi Jerman. Tapi di tempat ini cuma segelintir yang percaya bahwa pengorbanan konyol ini bisa ada gunanya buat negeri kita.

(Buku kumpulan surat cinta ini layak dibaca, kita bisa mengetahui bahwa peperanganpun tidak pernah mematikan cinta.)

kamis, 6 April 2006. 21:19. Listening: "Time after Time" by Rod Stewart.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s