Kebebalan itu kegilaan

Sal-Tum di GreatWall!

Greatwall2Greatwall3Coba perhatikan foto-foto ini. Adakah sesuatu yang menarik? Foto ini aku ambil ketika tour di Great Wall, China bulan Mei 2005 lalu. Coba perhatikan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.🙂

Aku teringat sesaat sebelum mengambil foto ini, badan sudah terasa lelah, terutama bagian kaki, aduh… sakit semua, karena kita habis ‘mendaki’ tangga yang tinggi dan terjal-nya Great Wall, salah satu keajaiban di dunia. Lalu tiba-tiba ‘naluri wartawan’ ku melonjak, karena di saat-saat payah seperti itu ada seseorang wanita yang berjalan di Great Wall mengenakan sepatu bertumit tinggi! Hah?, gumamku sambil mengernyitkan dahi. Memakai sepatu bertumit tinggi? Di Great Wall? Langsung saja aku abadikan moment langka ini.

Great_wall1Sepulang dari sana, sampai hari ini jika aku mengingat kejadian itu, aku tertawa sendiri. Kami saja yang bersepatu olahraga merasa lelah dan nyeri semua di sekujur kaki, apalagi wanita itu. Hanya aku nggak habis pikir, apakah benar wanita itu nyaman berjalan di Great Wall sambil menggunakan sepatu bertumit tinggi? Aku pikir pasti sangat melelahkan, sakit bahkan!, atau mungkin sebelum berangkat rekan-rekan seperjalanannya sudah memperingatkan tetapi dia tetap ngotot pakai sepatu itu. Ngeyel. Bebal.

Sekarang aku berpikir, bukankah dalam kehidupan kita seringkali seperti itu? Bukankah ‘perjalanan’ kehidupan kita jauh lebih berat dan terjal dibandingkan ‘mendaki’ Great Wall? Bukankah seringkali diri kita sendirilah yang secara tidak sadar membuat ‘berat’ perjalanan, dengan bersikap BEBAL, tidak mau mendengarkan ‘nasihat-nasihat’ dari Tuhan melalui FirmanNYA, melalui saat teduh setiap hari?

BEBAL. Kata-kata itu yang akhir-akhir ini sering melintas di pikiranku. Seringkali aku juga melakukannya, mencoba memakai ‘caraku’ bukan cara Tuhan. Kesenanganku bukan kesenanganNYA. Keinginanku bukan keinginanNYA. Dan hal itulah yang membuat ‘perjalanan’ ku menjadi berat.

Doaku sekarang adalah,

“Lembutkan hatiku, dan selidikilah hatiku ya Tuhan, ajari aku untuk peka akan suaraMU agar aku tidak memakai sepatu bertumit tinggi dalam ’perjalanan’ kehidupan ini.” Amin.

Bagaimana dengan kalian, sahabat? Apakah ‘perjalananmu terasa semakin berat bahkan mulai menyakitkan? Pastikan untuk tidak ‘memakai’ sepatu bertumit tinggi, karena perjalanan kita masih panjang. Masih terbuka waktu untuk melembutkan hati dan melakukan apa yang diinginkan Tuhan agar perjalanan ini ringan dan menyenangkan. Karena kebebalan itu hanyalah kegilaan.

"Aku tujukan perhatianku untuk memahami, menyelidiki, dan mencari hikmat dan kesimpulan, serta untuk mengetahui bahwa kefasikan itu kebodohan dan kebebalan itu kegilaan." Pengkhotbah 7:25

neo imago, 14 Januari 2006

Thinking & Listening “I love you for a Sentimental Reason” OST. As Good as it Gets.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s