Imagine me
Artist : Kirk Franklin
Title : Imagine Me
Genre : R&B
Imagine me loving wat I see when the mirror looksat me cuz I I imagine me In a place of no insecurities And i'm finally happy cuz I imagine me Letting go of all of the ones who hurt me cuz they never did deserve me can you imagine me Saying no to thoughts that try to control me Remembering all you told me Lord can you imagine me over what ma mamma said And healed from what my daddy did And I wanna live and not read that page again [Chorus:] Imagine me, being free, trusting you totally finally I can... Imagine me I admit it was hard to see You being in love with someone like me but finally I can... Imagine me Being strong And not letting people break me down you won't get that joy this time around can you imagine me In a world where nobody has t o live afraid Because of your love fears gone away Can you imagine me [Bridge:] Letting go of my past And glad to have another chance And my heart will dance 'Cause I don't have to read that page again [Chorus x2] [Vamp:] Gone, gone, it's gone, all gone
Bill Gates di Balik Kesenjangan Ekonomi Dunia?
Fino Yurio Kristo – detikinetJakarta -
Benarkah teknologi berada di balik kesenjangan ekonomi dunia yang makin parah? Pertanyaan ini muncul ketika lembaga moneter IMF (International Monetary Fund) memaparkan evaluasi keadaan ekonomi dunia dalam laporan bertajuk World Economic Outlook for 2007.
Menurut IMF, inovasi teknologi adalah salah satu penyebab utama ketimpangan ekonomi antar manusia. Teknologi dan juga orang-orang dengan keahlian tinggi dalam bidang ini dipersalahkan IMF sehingga ada orang yang sangat miskin sementara yang lainnya begitu berlimpah-limpah kekayaan.
“Perkembangan teknologi berada di balik kesenjangan ekonomi sejak awal tahun 1980-an,” demikian salah satu tulisan dalam laporan IMF itu. Disebutkan juga, globalisasi memang juga menjadi faktor kesenjangan ekonomi, namun teknologi adalah biang sesungguhnya.
Menurut IMF, hal ini terjadi karena para pekerja teknologi dengan keahlian tinggi mendapat uang terlalu banyak misalnya saja Bill Gates, sang pemilik Microsoft. Demikian juga, perkembangan teknologi yang menggantikan keberadaan alat-alat tertentu membuat orang orang dengan skill rendah kehilangan pekerjaan dan semakin miskin.
“Inilah saatnya mengincar musuh utama kesenjangan ini yaitu perkembangan teknologi. Jika kita bisa menghentikan atau memperlambatnya, masyarakat dunia akan lebih seimbang secara ekonomi,” dukung Clive Crook, ekonom dari Universitas Oxford, Inggris mengenai anggapan ini.
Menuai Kritik
Bagaimana cara memperlambat perkembangan teknologi ini? Clive mengusulkan mengenakan pajak tertentu bagi para ilmuwan atau insinyur agar perkembangan teknologi melambat. Selain itu, seharusnya para pengembang teknologi tidak pelit berbagi ilmu sehingga kesenjangan teknologi bisa teratasi yang bermuara pada peningkatan ekonomi.
Namun tak urung, kritikan pun datang bahwa pendapat IMF dan juga Clive Crook tidak berdasar. Memang pada masa lalu di mana teknologi belum berkembang, masyarakat lebih seimbang secara ekonomi. Namun tanpa teknologi pula, masyarakat tak bisa menikmati kemajuan.
Dengan kontribusi memudahkan manusia secara teknologi, dianggap wajar jika orang sekaliber Bill Gates dibayar sedemikian mahal daripada mereka yang tidak punya keahlian. Demikian seperti dikutip detikINET dari TheRegister, Rabu (24/10/2007). ( fyk / fyk )
* Menurutku ini pernyataan yang kontroversial dari IMF. Bisakah kita memperlambat perkembangan teknologi? Apalagi menghentikannya? Bukan pernyataan yang bijaksana atau aku yang bodoh ya? Atau?
Think on These Thing.
Keajaiban… keajaiban
Keajaiban, berapakah hargamu?
apakah harus kubeli? dengan apa? Aku tak punya sesuatupun yang layak.
Bagaimana jika aku bayar setelah keajaiban itu kuterima?
Apakah butuh uang muka?
Bagaimana jika kamu percaya saja padaku?
Keajaiban, keajaiban, apakah kamu sudah mulai langka terjadi di masa ini?
Keajaiban, aku percaya kamu pasti terjadi. Entah dengan cara seperti apa.
Karena Engkau memang keajaiban.
James Blunt – 1973
James Blunt – 1973
Simona
You’re getting older
The journey’s been
Etched on your skin
Simona
I guess I know this
We seemed so strong
We’ve been there and gone
I will call you up everyday Saturday night
And we both stayed out ’til the morning light
And we sang, “Here we go again”
And though time goes by
I will always be
In a club with you
It was 1973
singing “Here we go again”
Simona
Wish I was sober
So I could see clearly now
The rain has gone
Simona
I guess it’s over
My memory plays our tune
The same old song
I will call you up everyday Saturday night
And we both stayed out ’til the morning light
And we sang, “Here we go again”
And though time goes by
I will always be
In a club with you
It was 1973
singing “Here we go again”
I will call you up everyday Saturday night
And we both stayed out ’til the morning light
And we sang, “Here we go again”
And though time goes by
I will always be
In a club with you
It was 1973
singing “Here we go again”
I will call you up everyday Saturday night
And we both stayed out ’til the morning light
And we sang, “Here we go again”
And though time goes by
I will always be
In a club with you
It was 1973
singing “Here we go again”
and though time goes by
I will always be
In a club with you
It was 1973
Iklan a mild kreatif!
Foto ini ku ambil di jl. Urip Sumoharjo Surabaya, jam 11.41 pm
Yang atas ini saat lampu neon billboardnya dipadamkan.
Yang ini iklan a mild yang sama tetapi di foto saat lampunya menyala, beberapa hari sebelomnya jam 7. 13 pm.
Ada yang tau perbedaannya?
Saat lampu billboardnya padam, gambar makanan-makanan di meja tidak nampak, namun jika lampu menyala, biasanya dinyalakan sesaat setelah berbuka puasa, maka ‘muncul’lah makanan-makanan itu. Ajaib ya?,menurutku ini sangat kreatif!
Nonton ‘Breaking And Entering’
Nonton film ini rasanya seperti memutar kembali ‘Closer’ yang juga dibintangi Jude Law. Aku tidak akan menulis reviewnya secara lengkap disini, karena kupikir aku tidak pandai melakukannya.
Ini film drama, tentang cinta tentunya, jadi jangan mengharapkan ketegangan ditengah film seperti punya om bruce willis.
Film ini penuh percakapan panjang, dan jalan ceritanya tidak biasa, tapi aku menyukainya, terutama karena aku bisa ‘lari’ sejenak dari ciri khasnya Hollywood . Terutama detil-detil khas British yang ada dalam film ini.
Salah satu adegan yang aku suka ketika Amira (Juliette Binoche) yang memerankan seorang imigran dari Bosnia memainkan sebuah piano mainan sederhana yang tidak bisa mengeluarkan suara, sehingga saat ia memainkan sebuah komposisi, ia hanya mendengar lagu itu di dalam hatinya. Cool.
Endingnya pun tidak mudah ditebak, salah satu hal yang membuatku cukup puas dengan film ini.
Layak untuk ditontonlah, apalagi jika sudah bosen dengan sinetron Indonesia:)
Apakah kebanggaan sebagai seorang pria?
Adalah saat ia dan Tuhannya bisa ngobrol tanpa ada perasaan malu, takut ataupun merasa bersalah. Dan ketika obrolan itu selesai dengan membuka matanya terlihat sebuah senyuman indah dari bibir belahan jiwanya, mengucapkan, “I love you”.


