Papaku bukan Superman, dan aku mengasihinya.
Ketika masih kecil, aku selalu menganggap papaku adalah seorang ‘Superman’. Seorang laki-laki yang selalu mampu melakukan apa saja untuk anak-anaknya, untuk istrinya, dan bukankah setiap anak-anak selalu menganggap ayahnya adalah ‘Superman’?
Setelah sekian lama periode kebanggaan itu ada di benak ku, lalu datanglah masa-masa pemberontakan. Saat itu aku sudah memasuki masa-masa remaja, SMP. Ada banyak hal yang membuat aku kecewa kepada papa. Banyak hal yang membuat ku tidak bangga lagi sama ‘Superman’ku. Ternyata ‘Superman’ku tidak sekuat dan se-powerful yang selama ini kubayangkan.
Sulit untuk membayangkan papaku sebagai seorang ‘Superman’. Banyak kelemahan-kelemahan yang kulihat, terlebih lagi ketika aku mendapati begitu banyak figur yang sepertinya ‘lebih’ hebat dari yang papaku bisa lakukan. Bahkan sempat aku berjanji pada diriku, kelak aku tidak akan menjadi orang seperti papaku, yang tidak bisa membuat bangga anaknya.
Lalu, kini aku sadar bahwa Tuhanlah yang mengatur bahwa aku dilahirkan dengan Superman yang ini, bukan Superman lain. Aku yakin DIA tidak akan pernah salah mengatur semua ini. Ini yang terbaik bagi kami menurut Tuhan.
Dengan segala kelemahan papaku, dengan segala hal yang membuat anak-anaknya kecewa, sekarang aku mengerti, ternyata papaku sudah berusaha menjadi seorang ayah yang terbaik bagi anak-anaknya, dan suami yang terbaik bagi istrinya.
Papaku memang bukan Superman bagi orang lain, tapi dia adalah Supermanku, aku mengasihi Supermanku ini. Dan aku mendoakan agar Tuhan selalu menjaganya. Selalu.
Facing the Giants (lagi)
Semalam aku lihat lagi film ‘Facing the Giants’ bersama-sama teman-teman YCMN, sekali lagi film ini menguatkanku lagi. Ini salah satu percakapan yang kuingat:
“Saya sudah berdoa dengan keras, tetapi kenapa tetap tidak berhasil?”
Jawab Mr. Bridges, “Saya pernah mendengar suatu cerita tentang dua orang petani yang berdoa kepada Tuhan agar turun hujan. Keduanya sama-sama berdoa tetapi hanya satu saja yang mempersiapkan tanah pertaniannya. Menurutmu, siapa yang lebih percaya bahwa Tuhan akan menurunkan hujan padanya?”
- Never give up. Never back down. Never lose faith. -
Yang belum nonton film ini, coba nonton deh, lalu sharing disini! Hehehe…
Marah sama Tuhan dosa nggak?
Beberapa hari lalu ada teman yang bercerita bahwa dia sedang mengalami beberapa pencobaan – jika tidak bisa dibilang sebagai masalah. Aku tahu dia hanya ingin bercerita tanpa harus diberikan tanggapan atau nasihat. Jadi aku hanya mendengarkan saja. Di akhir ceritanya dia mengungkapkan bahwa dia sedang marah, marah sama Tuhan.
Dengan agak ragu-ragu dia bilang. “Marah sama Tuhan dosa nggak?”
Aku bilang, “Nggak. Itu manusiawi.”
Aku berpikir, asalkan kita tetap mengakui DIA sebagai Tuhan kita, yang selalu memberikan pemeliharaan dalam kehidupan yang rumit ini kita boleh kok marah sama DIA. Hebat ya Tuhan kita?
“Terimakasih Tuhan jika Engkau masih memperbolehkan kami marah padaMu, meski kami tahu itu sangat tidak layak kami lakukan. Ampuni kami. Amin.”
” …karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan.”
Ada yang pernah/ sedang marah sama Tuhan?
Mourinho akhirnya meninggalkan Chelsea
Aku pernah menulis tentang Mourinho dan kebiasaannya ‘mendongeng’ beberapa waktu lalu di blog ini, dan kali ini rumor tentang ketidakcocokan dia dengan sang bos besar Abramovic pun membuahkan hasil mundurnya Mourinho di Chelsea.
Harus diakui Mourinho adalah salah satu pelatih besar yang pernah ada di liga Inggris, yang mempunyai segudang prestasi besar pula, walau hanya 3tahun saja bersama Chelsea. Salah seorang yang membawa perubahan ’suasana’ di liga Inggris walaupun dengan caranya sendiri yang menurut sebagian orang dianggap sebagai arogan, meski ia tidak menyebut dirinya arogan tetapi The Special One.
Ada sebagian orang bilang, Mourinho saat masih di Porto adalah pelatih yang hebat karena dia tidak banyak ‘mendongeng’, bertolak belakang saat dia melatih Chelsea yang kerap kali mengeluarkan dongengan-dongengan yang pedas.
Bagaimanapun juga kita semua telah menikmati semua aksinya, sekarang dia telah meninggalkan Chelsea, entah di pelabuhan klub mana dia akan berlabuh. Kita tunggu saja.
Mourinho, terima kasih untuk hiburan yang menarik melalui prestasi yang telah Chelsea raih.
You’re the special one!
Hati yang gembira adalah obat yang manjur…
Ludwig Bemelmans menulis dalam My War with The United States, bahwa diantara banyak peraturan yang dikeluarkan oleh angkatan bersenjata AS, ada sebuah buku yang memberikan nasihat dalam hal-hal praktis kepada para bintara. Salah satu nasihat memberitahu seorang perwira bagaimana caranya membantu serdadu-serdadu yang bertengkar, dapat berbaikan lagi. Orang-orang itu harus ditugaskan mencuci jendela yang sama – yang satu bekerja di luar, yang lain di dalam.
Kata Bemelmans, “Saling menatap, mereka segera tertawa dan semuanya terlupakan. Itu manjur; saya sudah mencobanya.”
Tawa yang dibagi bersama dia ntara teman-teman merupakan salah satu harta terbesar dalam hidup. Bukan saja karena tawa itu gratis, melainkan juga merupakan sumber yang dapat dibaharui, dengan manfaat yang tak terhitung banyaknya. Tawa memulihkan rasa keseimbangan dalam hari yang penuh tekanan. Tawa membangun tenaga dalam semangat yang kendor. Tawa membantu meringankan beban kesengsaraan, dukacita, dan penderitaan. Tawa mempererat tali hubungan.
Tawa memiliki tingkat balasan yang amat sangat tinggi. Tawa memberikan hasil-hasil positif ketika kita tertawa bersama orang-orang lain, bukannya menertawakan orang lain.
Karena…
“Hati yang gembira adalah obat…”
-Seperti yang tertulis dalam buku ‘Kisah-kisah pembangkit semangat untuk pemimpin-
